Puisi Keabadian

Puisi Keabadian

358
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Aku sepertinya tak mampu berpuisi lagi

Mataku tak lagi mengenali rupa

Mulutku terasa kaku untuk sekedar berbisik

Telingaku yang tak jua mendengar petunjuk

Pikiranku tiba-tiba berhenti

 

Tetapi seketika rongga dadaku bergetar

Oleh denyut jantung yang terasa hingga ubun-ubun

Bersama aliran udara mengusap-usap sekujur tubuh

Detaknya memberi isyarat

Dalam rasa yang terus saja menguntap-untap

Bahwa puisi masih ada dalam hati

Sengaja meminta mata terpejam

Menghentikan mulut untuk berkata-kata

Menutup telinga dari suara-suara

Menyudahi logika yang terbiasa gila

 

Apakah ini yang disebut puisi sejati?

Hanya bersemayam di dalam hati

Di ruang yang sangat lapang

Memusnahkan penglihatan tentang ada

Mengembalikan bentuk dan suara

Sunyi dari keinginan

Akal sehat yang sudah menjadi satu

Hanya nampak keindahan

Hanya terucap kedamaian

Hanya terdengar ketentraman

Menafsirkan setiap jengkal kebahagiaan

Dalam puisi keabadian

 

Gang Buntu, 111114

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY