Anak yang Melukis Mimpi dan Menulis Musik di Keningnya

Anak yang Melukis Mimpi dan Menulis Musik di Keningnya

609
0
SHARE

Setiap keningnya bernyanyi, ia melukis mimpi di atas jalan raya yang panas. Jalan desa yang luhur. Jalan menikung yang asyik. Jalan ibu yang baik. Jalan kakak yang ketus. Jalan ayah yang bijak. Jalan permen yang manis. Jalan cokelat yang penuh cinta. Jalan gedung yang sombong. Jalan kontrakan yang ramai. Jalan nasi bungkus yang nikmat. Jalan kantor yang wangi. Jalan lampu yang gelap. Jalan sekolah yang tertawa. Jalan dunia yang mujarad!

Teruntuk aku kah ia melukis? Burung-burung tanpa suara yang memeluk puncak gunung bagai payudara ibu itu? Sawah-sawah mawar seperti permadani surga yang tidak pernah terbayangkan kepala guru. Juga lumpur emas yang melekat di mata para petani. Kemudian ia menarik garis permukaan yang mendatar seperti yang ia lihat di film kartun ketika seekor kucing menuju jalan yang runcing; waktunya untuk menyerah dari tikus. Tetapi tidak. menyerah tidak seperti cinta ibu kepadanya. Ia hanya melukis jalan sebagaimana baiknya bentuk jalan di matanya. Meskipun ia juga melukis lubang hitam, ia sadar; lubang itu untuk mencari makan. Satu karung apel perak sudah cukup menghidupinya satu hari. Demikian.

“Aku tak suka cokelat, ia tak bisa menyanyi; tak seperti cinta ayah kepadaku!”
 

Kepadaku kah ia bernyanyi? musik yang ia tulis di keningnya, kini mempunyai nada; Senar senyum yang lucu. Seruling hidung yang panjang. Melodi matanya yang tertawa dan menangis adalah partitur wajah ibu dan ayah.

——–

Bekasi, 2014

Gambar: society6

SHARE
Previous articleLANGIT, PELANGI DAN KONEKSI
Next articleKamu
"Gurun yang dilukis ayah di punggungku, terlalu panas dan membunuh pohon kaktus yang telanjang tanpa duri." Catat! > Mainstream-lah pada tempatnya; saat kamu kencing, misalnya. Me on tweet @moccava_

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY