Sepenggal Cerita di Simpang Mesra Nangroe Atjeh Darussalam

Sepenggal Cerita di Simpang Mesra Nangroe Atjeh Darussalam

643
0
SHARE

Pagi itu sekitar pukul tujuh, aku berjalan sendiri di lorong mushola daerah Kopelma Darussalam. Dan menyusuri jalan setapak di kampus Universitas Syiah Kuala pinggiran kota Banda. Alhamdulillah…cuaca cukup cerah, karena sang mentari baru menyentuh pipi, “Ah..sungguh romantis sekali Engkau, Tuhan !?” batinku. Sesampai di simpang Galon (nama tugu sebelum masuk kampus Unsyiah) aku duduk di pinggir jalan sambil membakar puntungan menunggu Labi Labi (angkutan umum khas kota Banda) muncul atau Betor (becak motor) lewat. Akhirnya setelah lima belas menit berlalu, aku naik betor menuju Museum Tsunami di tengah kota yang jaraknya +/- 11 km.

Suasana begitu menyenangkan karena terpaan angin langsung menuju arahku, saat betor melaju dengan kecepatan sedang. Setelah melewati jembatan Lamnyong yang di bawahnya mengalir sungai Aceh, yang airnya menuju ke muara Ujong Batee. Lalu betor masuk ke jalan Tengku Nyak Arief yang lurus terbagi dua. Aku lihat di kiri kanan banyak sekali ruko berdiri setelah tsunami melanda 2004 silam. Dan tiap malam di sepanjang jalan banyak menyediakan kedai kopi buat nongkrong anak muda maupun orang tua sambil melihat film dari beberapa channel tv cable. Akhirnya betor memotong jalan belok ke kiri, lewat daerah Prada (nama Gampong/Kampung yang tiap malam banyak ternak sapi berkeliaran).

“Sungguh tak terbayang, indah nian kota Banda ini !!” ucapku sendiri. Setiap kali berpapasan dengan kaum perempuan, kebanyakan mereka mengenakan jilbab dan kelihatan anggun meski masih ada beberapa yang pakai baju ketat namun tetap berjilbab. Karena jika tak berjilbab, mereka akan berurusan dengan Polisi Syariah dari WH (Wilayatuh Hisbah) dan aku merasa ingin kembali pulang, mengganti celana panjangku dengan sarung serta memakai peci biar kelihatan rapi.

Setelah melewati jalan Tengku Nyak Arief, dimana sepanjang jalan protokol itu terdapat kantor Gubernur, Polda Aceh hingga kantor PDAM setempat, akhirnya berlanjut ke jalan Moehammad Daud Beureueh yang masih terbagi dua. Aku lihat di sebelah kanan terlihat Taman Ratu Safiatuddin yang berseberangan dengan Masjid Agung Al Makmur Lampriet nan megah, yang katanya dibangun dengan “Dana Hibah” dari Kasultanan Oman sekitar 17 miliar rupiah. Sejurus kemudian di sebelah kiri ada Rumah Sakit Umum Zaenal Abidin yang cukup besar dan luas (hmm…tiba-tiba ingat Alm. bang Rachman, tetangga saudaraku yang jualan mie aceh di fakultas teknik Unsyiah, dan bila malam tiba terkadang ngobrol di warung kopi milik bang Che atau warung mie mak Beth sambil lihat tv).

Alhamdulillah…akhirnya sampailah di simpang dekat markas Brimob dan betor tetap jalan lurus menyeberangi jembatan yang di sampingnya terlihat ada sebuah mall bernama “Pante Perak” (mungkin ini satu-satunya mall terbesar dan terlengkap di kota Banda saat itu). Kemudian betor belok kiri dan memutar ke kanan lewat jalan tengku Chik Ditiro. “Masya Allah…!!” batinku tersentak, di sebelah kanan nampak jelas Masjid Raya Baiturrahman yang sangat indah, megah dan menawan. Masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang menjadi landmark dan ikon kota Banda ini. Aku minta betor berhenti sejenak, kemudian masuk ke halaman masjid, melewati taman yang luas nan rindang, melihat menara yang anggun dan mengambil air wudhu buat menunaikan sholat sunnah 2 rakaat di serambi masjid, yang ber-arsitek perpaduan gaya Arab, India dan Persi (seperti masyarakat Aceh dan budayanya yang memang merupakan perpaduan ketiga bangsa tersebut).

“Yaa Tuhan…sebenarnya aku enggan meninggalkan masjid yang nyaman ini” akhirnya aku hanya mengambil beberapa photo sebagai obat kerinduan, dan langsung naik betor lagi melewati lapangan Blang Padang yang dahulu banyak korban yang berserakan waktu tsunami menerjang. Aku lihat di sebelah kiri terdapat gedung Walikota Banda Aceh yang luas, bersih dan rindang, lalu tepat di depanku terlihat menjulang tinggi bangunan besar seperti kapal, panjang berwarna coklat keputih-putihan dan ternyata itulah Gedung “Museum Tsunami Aceh”. Aku langsung turun, berlari mendekat pintu dan ingin masuk. Namun aku sungguh kecewa, karena museum sedang di-renovasi, dan aku hanya gigit jari sembari memandang terik matahari.

Dengan berat hati aku tinggalkan Museum Tsunami, lalu naik betor menuju warung kopi di daerah simpang Jam buat istirahat sejenak, menyeduh kopi sambil menikmati suasana kota Banda dari dekat. Terlihat suasana sudah ramai, banyak lalu-lalang orang berjalan. Aku diam sejenak, memandang jalan dan menyalakan sebatang rokok lalu menghisap pelan, pelan dan pelan, hmm…nikmat bukan buatan.

Tak terasa waktu semakin tergelincir dan matahari tepat di atas kepala. Lalu aku beranjak pergi, berjalan menyusur trotoar, melewati pasar Aceh di samping Masjid Baiturrahman. Akhirnya ada Robur (nama alat transportasi sejenis bus berukuran 3/4) lewat, dan aku langsung naik masuk ke dalam. Robur berjalan cepat karena para penumpang kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi yang masuk kuliah siang, dan Alhamdulillah…ada tempat duduk kosong disamping jendela hingga aku masih bisa menikmati suasana kota Banda. Setelah melewati beberapa tikungan dan simpang jalan, sampailah robur di jalan tengku Nyak Arief lagi. Namun tiba-tiba, ada mahasiswi berjilbab duduk disampingku, “Maha Suci Tuhan, cantik sekali ciptaan-Mu ini !!” sekilas kupandang dan aku hanya diam, menunduk tak berani bicara sepatah apapun jua.

Selang beberapa menit, akhirnya robur melewati Simpang Mesra (pertigaan yang membagi jalan Tengku Nyak Arief menjadi dua, yang kekiri menuju arah Pelabuhan Krueng Raya, satunya lagi ke kanan menuju kampus Unsyiah di Kopelma) dengan kecepatan tinggi, hingga mahasiswi yang di sebelahku agak bergeser duduknya mengenai badanku, karena belokan robur yang agak kencang. Mahasiswi tadi langsung tersenyum dan meminta maaf, kemudian aku berkenalan dan langsung bertanya tentang asbabul nuzul nama “Simpang Mesra” itu.

Menurut cerita, pada masa itu hampir semua mahasiswa mahasiswi Unsyiah sering berangkat ke kampus dengan menumpang robur, dan setiap kali robur tiba di persimpangan dengan tikungan 90′ derajat, sopir robur tak pernah mengurangi kecepatan, hingga badan robur menjadi doyong dan para penumpang tiba-tiba terhimpit akibat terkena gaya sentripetal dari perubahan arah robur. Saat seperti inilah yang menurut mereka justru selalu ditunggu-tunggu, terutama mahasiswa. Karena saat robur membelok dengan kencang para penumpang akan teriak “Mesra, mesra…mesra !!” dan dari kebiasaan itulah nama “Simpang Mesra” tercipta.

 

Ps. Dedicated to Nz (Pengagum Senjaku) @2010

SHARE
Previous articleMatahari
Next articleAku adalah Semua
0,1,1,2,3,5,8,13,21...

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY