CERITA SENJA

CERITA SENJA

611
0
SHARE

BOCAH TEGAR

Aku lahir di sebuah desa pinggiran pantai. Aku kecil tinggal dengan bibi ku, karna waktu itu keluarga kami dilanda kesusahan ekonomi semenjak Bapak ku telah tiada. Bapak ku pergi meninggalkan dunia ini sejak aku masih di dalam kandungan Ibu, sehingga aku dibesarkan oleh bibi pada saat usia 3 tahun. Aku selalu menangis di tengah malam, tak kuat hati ini berpisah dengan Ibu ku, satu-satunya orang tua kandung ku yang ada. Kita semua berpisah dari Ibu hanya kakak pertama yang tinggal bersama Ibu.

Setiap pagi, aku selalu bermenung di tangga depan rumah bibi berharap Ibu ku datang dan membawa ku pergi bersamanya. Aku ga peduli sesulit apa pun kehidupan ku yang jelas keinginanku hanya lah satu, yaitu tinggal bersama Ibu kandung ku. Namun, kakak-kakak sepupu ku tidak tinggal diam, mereka selalu menghibur ku dengan bermacam cara agar aku tidak selalu sedih ditinggal Ibu. Aku di ajak jalan-jalan, dibelikan makanan, bahkan bibi ku sering mengajak ku ke Sekolahan tempat dia mengajar. Disana Aku disayang oleh para guru-guru dan murid-murid nya. Oh ya aku lupa memberi tahu, bibi ku itu adalah seorang guru mengajar mata pelajaran Ekonomi di SMA N.

Sesaat Aku melupakan kesedihan ku, namun setibanya dirumah Aku teringat lagi dan berharap lagi, “Aku mau pulang, Aku mau ketemu sama Ibu” ronta ku di sore hari itu. Serentak bibi ku marah dan berkata “Ibu mu itu pergi jauh, dia ga sayang sama kamu, buktinya dia ga mau merawatmu dan menitipkan kamu sama kami,” Aku terdiam dan tak kuasa menahan tangisan ku yang mengharu, lalu bibiku melanjutkan perkataannya “Sudahlah jangan kau ingat lagi Ibu mu itu, dia sudah pergi jauh dan ga kembali lagi, kamu di sini aja sekolah, belajar yang rajin, semoga kelak kamu jadi anak yang berguna bagi keluargamu”.

Aku tak percaya bahwa Ibu ku sekejam itu kepada anak-anak nya, walaupun Aku masih kecil tetapi Aku tau kenapa Ibu ku menitipkan Aku di tempat saudara Bapak ku.

Hari demi hari, bulan demi bulan, Aku pun mulai melupakan kesedihan ku dan sibuk dengan bermain bersama anak-anak tetangga yang sebaya dengan ku. Mereka lah yang menjadi teman kecil ku bermain, mereka yaitu: Ari, Adi, dan Adek. Kita semua senasib, sama-sama tidak memiliki Bapak, namun mereka tetap tinggal bersama Ibu nya, tak seperti Aku yang ditinggal pergi oleh Ibu ku demi mencari uang untuk melunasi hutang-hutang Bapak ku.

Tepat di usia ku 4,5 tahun. Aku dititipkan di Sekolahan Dasar, karna dirumah tidak ada yang menjagaku, Bibi ku juga sering kerepotan ketika mengajak ku ke sekolahan tempat dia mengajar, bibi ku dan suaminya sibuk kerja dan kakak-kakak sepupu ku juga masih sekolah. Jadi, rumah sangat kosong tidak ada orang di pagi hari hingga siang.

Setiap sore, Aku selalu belajar menulis bersama kakak sepupu ku yang perempuan namanya Ir, bahkan pembelajaran dirumah berlanjut setelah makan malam hingga jam 09.00 malam, begitu terus setiap hari. Dia sangat menyayangi ku, dia selalu memandikan Aku di pagi hari dan juga sore hari. Dia tak pernah memarahiku, selalu lembut ketika mengajak ku dan mengajari Aku untuk belajar menulis dan membaca, hingga akhirnya Aku pun bisa menulis dan membaca.

Aku adalah anak kecil yang banyak disayang orang lain. Di lingkungan ku, aku sangat dikenal. Karna, Aku memiliki wajah yang imut, putih, dan sedikit gemuk, hehehe.. Aku sering digendong oleh pemuda-pemuda setempat dan diajakin jajan di warung. Mereka memanggiku dengan panggilan “cial”. Sebuah panggilan yang berkesan anak manja. Setiap liburan panjang, Aku selalu diajak jalan-jalan ke Kota Jakarta atau ke Bandung, mengenal Dufan, Ancol, dan Jakarta Fair.

Hari-hari ku ditemani rintihan hujan

Berdendang indah di atas genteng

Gemuruhmu menyentakkan hati ku akan kenyataan

Tak ada yang lain nan dapat menghiburku selain dirimu

Keramaian mu bagaikan seni yang tak ternilai

Ampasmu mampu menghidupkan umat

Kedatanganmu berkah bagi kami

Senyumlah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY