Flash Fiction: Dalam Penantian

Flash Fiction: Dalam Penantian

1544
0
SHARE

Baginya menanti adalah niscaya.

Karena hidup itu sendiri adalah bagian dari sebuah proses menunggu. Begitu asumsi yang terbangun pada benak wanita yang berdiri tegak kaku di pinggir pantai dengan rambut tergerai dan menari-nari liar di tiup angin. Pandangannya kosong menatap nanar ke depan. Pada samudera luas yang membentang dengan riak ombak mengalun tenang dan biru lautnya terhampar tanpa batas. Kaki telanjang wanita ini terpacak mantap pada pasir, menyangga tubuhnya yang kurus.  Tak bergerak.

Baginya menanti adalah niscaya.

Karena pada akhirnya lelaki yang dinantinya akan pulang, dari sini, tempatnya berangkat dulu. Aku selalu menyaksikan perempuan itu berdiri di pinggir pantai, setiap petang dan menatap ke arah laut lepas. Menanti.

“Aku menunggu lelakiku, jangan ganggu,” katanya selalu, saat aku mengajaknya pulang dan menerima kenyataan bahwa lelaki yang dinantikannya tidak akan pernah kembali, seperti harapannya.

“Boleh kutemani?,” kataku hati-hati dengan nada seramah mungkin, suatu ketika. Ia menoleh sejenak, menatapku, lalu mengangguk pelan.  Aku berdiri disampingnya, memandang laut, melihat camar melayang di udara, matahari senja beranjak ke peraduan menyisakan jejak merah jingga dan tentu saja, menikmati sensasi penantian bersamanya.

“Dia akan pulang. Begitu janjinya,” gumam wanita itu, entah untuk siapa.

Aku mengangguk. “Ya. Dia akan pulang buatmu”

Wanita itu tersenyum samar.

Bagiku menanti adalah niscaya.

Karena aku yakin wanita itu akan datang lagi di tempat ini, memandang laut seperti yang aku lakukan sekarang dan pernah kami lakukan bersama. Aku akan menunggu, sebagaimana ia telah menanti.. 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY