Takdir Cinta

Takdir Cinta

720
0
SHARE

Perempuan Wangi Bunga itu mengerjapkan mata, ia lalu membaca kembali baris-baris kalimat pada emailnya yang sudah siap dikirim ditemani lantunan lagu “Takdir Cinta” yang dinyanyikan oleh Rossa. Hatinya mendadak bimbang. Juga pedih.

Daeng Bening Langit yang baik,

Kahlil Gibran pernah berkata, Keindahan adalah kehidupan itu sendiri. Keindahan adalah keabadian yang termangu dihadapan cermin. Dan kita, sejatinya adalah keabadian itu, kitalah cermin itu.

Pernahkah Daeng merasakan keindahan yang demikian sejuk dan memukau sampai Daeng rasanya ingin menangis? Merasakan keindahan seperti itu menggedor-gedor dinding kesadaran paling dalam.Membuat kita terbuai, melayang dan masuk kedalam aura dan kesyahduan yang dihadirkannya. Tak terasa airmata menetes ketika rasa itu merayap perlahan, membelai hati. Tak terlerai.

Mengenangmu, Daeng, adalah salah satu hal yang kerap membuatku tak kuasa menahan tangis. Menghayati segala keindahan yang pernah kita alami bersama tak urung membuat kesedihanku terbit. Dan sungguh, menyesap aliran cinta yang datang darimu, dari hadirmu, dari matamu, dari lembut katamu, dari candamu, dari tawamu, membuatku damai, bahagia dan berharga Kamulah keindahan sejati itu.

Menyusuri kembali jejak-jejak yang pernah kita torehkan bertahun-tahun silam acapkali membuat dadaku disesaki keharuan.

Masih ingat ketika suatu hari kita menikmati senja di Pantai Losari, Daeng?

“Pernahkah kamu berfikir untuk berusaha menepis takdir? “, tanyamu pelan. Kata-katamu mengapung diudara, lalu hilang bersama desir lembut angin laut.

“Apa maksud Daeng?” tanyaku penasaran

Kamu lalu menghela nafas panjang seperti mengangkat sebuah beban berat menghimpit dada.

“Sebuah takdir yang bisa jadi tak pernah kita harapkan, yang membuat kita tak bahagia, yang membuat kita mesti menerimanya meski sekuat apapun kita mencegahnya datang, yang mungkin membuat kita menyesal berkepanjangan dan ingin kembali mengulang masa lalu ketika takdir tersebut belum tiba, lalu membuka lembaran hidup baru sesuai ekspektasi kita. Apakah menurutmu akan ada cara untuk menghalaunya atau, setidaknya menghindar, menjauh sampai ia tak bisa menjangkau kita?” sahutmu seperti tidak mengabaikan pertanyaanku.“Jangan pernah coba-coba bermain dengan kedaulatan Tuhan, Daeng. Kita tak akan bisa melakukan semua itu. Semesta ini, termasuk kita, berada dalam kemuliaan GenggamanNya. Kita, harus menerima takdir yang telah ditetapkan dengan pasrah dan tabah, tidak peduli apakah kita mau atau tidak menerimanya”, kataku ketus.

Kamu lalu tertawa terkekeh. Aku tahu kamu berseloroh, tetapi ketika menyentuh hal-hal yang prinsipil apalagi soal Takdir yang sudah ditetapkan Tuhan, aku tak suka jika kamu berandai-andai untuk mencari cara konyol menghindarinya .

Kamu lalu menepuk pundakku pelan. Mencoba menghibur. Aku masih merengut.

“Maafkan. Aku sama sekali tak bermaksud begitu. Hanya sekedar melontarkan pemikiran iseng. Jadi lupakan saja aku pernah mengungkapkan itu. Mari kita nikmati senja yang eksotik di Pantai Losari. Oya, mau makan pisang eppe’ gak? Aku pesan ya?”, katamu akhirnya melerai gundahku dengan senyum yang–seperti biasa–mengobrak-abrik hatiku.

Dan begitulah, waktu berjalan, sampai kemudian kita terpisah oleh jarak, juga takdir.

Aku menikah dengan lelaki pilihan orang tuaku ketika Daeng sedang menuntut ilmu di negeri orang. Entahlah, apakah Daeng memaknai ini sebagai pengkhianatan atas segala ikrar yang sudah kita tetapkan. Tapi bagiku, inilah takdir cintaku, dan pada akhirnya aku harus menerimanya, dengan hati lapang meski terbersit ketidakrelaan disana.

Aku bukan tidak berjuang untuk menghalaunya. Termasuk menentang kehendak orang tuaku.dan tetap memilihmu serta menganggapmu sebagai takdir cinta sejati untukku. Aku berontak sekuat tenaga dan berusaha menanggulanginya sendiri, tanpa melibatkanmu yang tentu sedang berkonsentrasi penuh belajar disana.

Seperti halnya kematian, perpisahan senantiasa menjadi hal yang selalu dihindari manusia. Meski dengan mengerahkan segala kekuatan terbaik yang aku punya untuk mempertahankan segala keinginanku, pada akhirnya, aku mesti pasrah pada kekuatan yang lebih besar dariku. Aku teringat pamanku yang berusaha sekuat tenaga menghalau kematian yang datang ketika ia menderita sakit parah. Berbagai alat penopang hidup menyokongnya, termasuk doa orang-orang tercinta, namun begitulah, bila takdir Tuhan menghendaki ia mesti kembali kepadaNya, maka kepasrahan menjadi muara. Pada titik ini perjuangan itu berhenti. Sama akhirnya ketika aku akhirnya menuruti keinginan kedua orangtuaku untuk menikahi lelaki yang tak kucintai. Dan sayangnya, itu bukan kamu, Daeng.

Konon–begitu tulismu dalam email beberapa saat ketika aku memberitahu “kabar buruk” itu terjadi–menghargai apa yang kita miliki sekarang dan esok, adalah sepertiga lebih banyak dan tentu jauh lebih penting dibanding mengenang-ngenang apa yang telah berlalu. Barangkali kamu benar.

Dalam banyak hal, kenangan kerap kali menghalangi langkah kita untuk melangkah lebih jauh kedepan. Membuat segala rencana yang sempat mengapung di benak tak pernah bisa terlaksana sesuai harapan.

Tapi mengubur dalam-dalam hal-hal indah yang pernah kita lakukan bersama, sungguh tak mudah, Daeng. Kepedihan selalu menjadi bagian tak terpisahkan darinya.Betapa janggal hidup tanpa kenangan.

Memindai kembali jejak-jejak cinta kita antara ada dan tiada senantiasa disertai rasa sedih menikam jiwa. Berjalan menyusuri Pantai Losari sembari mengingatmu dibawah temaram lampu mercury dan hiruk pikuk kendaraan yang melalui Jalan Penghibur kerap membuatku limbung dan terlempar jauh ke masa silam. Membuat rasa pilu menghantam kembali ruang kesadaranku.

Barangkali memang, kita mesti menyelami keindahan butir-butir hikmah yang ada dibalik setiap peristiwa kehidupan. Seperti kalimat Gibran yang aku kutip diatas, kehidupan adalah keindahan itu sendiri. Termasuk Takdir Cinta yang berlaku atasnya. Termasuk Doa-Doa yang kualirkan padamu untuk menemukan kebahagiaan yang sama seperti yang pernah kamu rasakan bersamaku. Termasuk segala kenangan yang tetap utuh kita jaga sampai kapanpun disudut hati masing-masing.Termasuk menghargai dua pertiga yang kita genggam sekarang–masa kini dan masa depan–dengan rasa syukur tak terkira.

Perempuan wangi bunga itu lalu menekan tombol “SEND”.

Dan ia menangis.

Cikarang, 180409 — after midnight

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY