Sepanjang Braga dan seterusnya (II)

Sepanjang Braga dan seterusnya (II)

708
0
SHARE

Memindai kembali jejakmu di sekujur tubuh Braga

pada pagi ketika embun baru saja melapisi atas aspalnya

dan halimun putih tipis yang melingkupi bagai sayap bidadari erat mendekap

seperti melihatmu lagi tersenyum menyongsong hangat mentari yang muncul malu-malu

kemudian memandangku nanar dengan rindu meluap

“Kita telah menghitung jejak waktu bagai mengeja satu-satu barisan huruf

pada papan nama bangunan tua di sepanjang jalan ini,

dari Toko De Vries hingga persimpangan Javasche Bank

bersama geliat kangen menyesak dada

dan harapan yang kerap luluh dalam kegetiran, seperti jalan ini

yang makin pilu tergerus zaman”, katamu lirih

Kita berdua sudah lama menikmati kepahitan dari rasa perih kehilangan

serta ketabahan yang kita bangun dengan dada sesak

Dan kini, saat kakiku terpacak kokoh di bahu Braga, aku bagai melihat bayangmu

terbang melayang menyongsong cahaya fajar yang lembut

memantul kemilau pada permukaan tembok-tembok kusam

lalu terburai lepas bersama segala episode kenangan tentang kita di kota ini

Oh, adakah pagi masih akan merindukan malam?

 

Catatan:

Pada bulan Januari tahun 1992, saya pernah menulis Puisi : Sepanjang Braga dan Seterusnya (baca di sini) yang menjadi ekspresi kekaguman saya pada eksotisme Jalan Braga Bandung yang ketika itu sempat saya kunjungi dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan di PT.INTI. Kini saya kembali lagi di kota kembang ini, menyusuri jalan bersejarah itu dan mengurai kembali kenangan melalui puisi..

SHARE
Previous articleA-Gita
Next articleBUNTU
Lelaki flamboyan, berdomisili di Cikarang, suka membaca dan menulis. Baca blognya di : www.daengbattala.com.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY