Tuesday, October 24, 2017
Authors Posts by Muchlis Darma Putra

Muchlis Darma Putra

56 POSTS 7 COMMENTS
"Berpuisi sesungguhnya mencoba mengerti setiap helaan nafas yang dianugerahkan. Memerdekan jiwa ke dalam setiap baitnya." _Darma

Kasihku.bukan kematian yang aku takutitapi tiadamu sebelum tiadakuadalah mimpi buruk sepanjang gelapsedang bulanku bersisik awan Kasihku.masih kusimpan guguran kelopakyang dulu pernah singgahdi rambutmu yang arangkegenggam...

Kasih.sampai aku di bulan mei kitaaku ingat kelopak mawar rekahbibir tipis yang selalu basahdan degup jantungyang kau buat guncang tak karuan Kasih.sampai aku di bulan...

sementara aku menulis puisikubiarkan ibu dengan kain sulamkubiarkan bapak membaca korankubiarkan adik bermain dengan boneka monyetnyakubiarkan kucing tidur di sofakubiarkan kambing makan rumputnyakubiarkan kutilang...

Disitulah, di jalan ituyang berkelokkelok hijauyang pinggirannya dipagari pohon adasyang udaranya harumoleh perawanperawan sehabis mandidi kali jernihdulu aku lahir dari rahim bundalalu belajar kasih...

diammu adalah batudi tubuh gunungmeresapi sepidanau dan lembahlagumu seharihari menyaksikan mataharidi dua ufukmengamati rumputhingga dewasadan di malam haribatumu dibaluriembun do'a dari langit

jeruji airyang tanpa mataberderaian jatuhsampak gemuruhtusuki daunbatu dan tanahleluhurku di bawah daun manggadi pangkal ranting rapuhcoklat tuasepasang capung berasmaranikmati uliran air hujanke tubuh pohon wahaimungkin inilah...

jarumjarum airngeluncur turunmenusuki dedaunansemak dan rerumputangenangi jalan setapakdan kalikalian adalah akuberjalan keseorangansusuri kelokandan jembatan kenangmengikuti kata hatitiada sesalanmeski senja 'kan rabunkanpandang

duka mawarduka maha dukagugur berderaidibelai angin pusara duka mawarduka maha dukamenebar aroma lukasampai lubuk jiwa duka mawardukaku pada mawarditingkap sunyiditelan sepitaman pusara

rumputku. Tumbuh liar di halaman rumahtersembul menjuntai-juntainan subur walau tak disemailambai melambaiindah. Aduhai! O, rumputkutumbuh liar di halaman rumahgerakmu gemulai seragamdiunduh bayu lenggang bergoyangbegitu setia...

Kasih.telah kupetik mawar liardari hutan jauhdalam pengembaraankutitipkan semerbakpada angin buritanbiar disemat di gerai rambutmudan wanginya akan kutunggu dalam mimpidi atas bukit kerontang kerinduanlalu mambang...

merenda puntung kenangantengah malam sehabis hujanlariklarik sengaja kusisipkandi gelung malam pekat mendulang berharap bahuku semakin jenjangsekalipun remuk redam di dalam" KUN FAYAKUN!!"yakinkumampu bertahan.

aku terhisap pada lampau yang sangatmencari batu kerikil ketapelke bukit yang susurlalu berkubang di kalibersama mamat dan brengos. kerbaukumenggosok-gosok badannyadengan rumput pinggir kalihilang lumur...

ada laut yang mengendaplaut luas dalam dirimulalu kau seorang nelayanyang paham kemana angin akan sarangdan sampanmu telah penuholeh terumbu karang dan tiramtapi kau lempar...

jangan tunggu mataharimemanen kapuk pada rantingsebab akan terburai mimpidalam percakapan kasur dan bantal buah betis adalah buah sesalkala senja menujum usia kita.

kali hitammengalir lesu di hatikudaundaun pucat berguguran di potong nadiapakah sebuah nujumanawal musim semi? adapun mataharidibutakan awan kelabusinar tak tembus ke bumi harus pupuskah pucukdi ujung...

sungguh masih segar terasa dalam ingatan. rasa sakit di lebam bibirku oleh kepalan tinju tangan rindu. dan kini aku menunggu ia datang lagi padaku di beranda sunyiku keseorangan.

di beranda sunyikuaku tunggu rindu yang kemarintanpa hujan 'pun tanpa anginsecepat cahaya kilatia tinjukan kepalan tangannyamendarat ke bibirkudan berlalu begitu sajatanpa ku tahu.ia akan...

"Mata kail yang kau telan bernama waktu." kau telan waktudiantara dada dan kepalatubuh kurus milikmu satu-satunyaseolah pakaian setengah keringtergantung di tianglambai gamangdi tiupan angin garam sedang...

kau yang tak lekangmelintang do'auntukku kau pintakan kejoraagar sirna segalagelap tenun kelamseusai senjaaku kau tak pintakan lagiapa yang telah kuterimadari coklat kulit jemarimu yang tulusdan...

puntung di tepi aspalansisakan bara titik kenanganyang akan habis bersama gerimissenja hari. Dan pada akhirnya'kan abu juga sudah nujuman hidup di rantaumalammalam adalah perburuanhela nafas...

bias rona wajahmulebih mawar dari untaiankalungkalung puisikumembuatku gusaruntuk sekedar mencariakaran katapada rumah bahasayang kelak akan aku kalungkandi leher jenjangmubersama kecup rinduyang kubawa pulangdari rantau.

aku sebut rinduadalah roti saus kacangsampai ke remahnyaaku tak kenyangkenyangsetiap hari paling kutunggudi meja makan aku sebut rinduadalah roti saus kacangputih tubuhnyadi lingkar kecoklatanmanis saus...

kutatap bulan sepenggaldi selasela kabel listrikbias pucat. Bayu bekumencoba merangkai baityang belum usaimembebaskan imajipada jarak dan pikir aku masih tetap mematungmencoba mengeja kembalibaitbait yang belum...