Secawan Rindu Randu

Secawan Rindu Randu

secawan.. ya walaupun hanya secawan rindu itu selalu begitu...

273
0
SHARE

“Badai, dalam gelapnya malam. Tersibak oleh cahaya rembulan. Bidadari embun memetik jumpa pada ranum pertemuan sepersinggah”

Sepucuk surat terselip diantara cawan yang terbalik berjejer rapi diatas meja makan. Piring-piring serta sendok, garpu dan pisau makan mengkilat bersih menumpuk manis dirak-rak piring.

Dari balik tirai putih, yang membalut jendela kaca. Cahaya senja fajar mengintip Randu yang sedang pulas. Berbelit selimut putih ia nampak nyenyak dan berantakan. Ruangan serba putih begitu kacau dari salah satu sudut kamar.

Diatas meja, tertata rapi buku-buku. sepertinya ia seorang penyuka buku. Meskipun tak sering beberapa buku habis dibacanya. Disetiap sisi meja, terdapat juga beberapa potret. Salah satunya, sosok seorang perempuan mengenakan baju terusan berwarna putih polos era 80an. Dengan rambut panjang yang dibiarkan tergurai. Dan disebelahnya, jam waker siap menggaduh.

Suara alarm memenuhi seisi ruangan. Dentingnya memekakan kupingnya.

“Ndu, tolong alarmnya” dari balik selimut yang membelit, dengan bantal menutupi sebagian kepalanya.

Tak ada jawaban, dari sekitarnya. Ia hanya terbaring dan menahan.

“Windu, tolong!!!” Gerayangan suaranya memecah menyatu dengan kegaduhan. Dadanya yang bidang bangkit dari setengah kesadarannya. Bergerak menghentikan kegaduhan yang bersumber dari alarmnya.

“Ndu, kamu dimana ?” Tak beranjak, suaranya seolah menelusuri disetiap sudut ruangan mencari.

Rumah itu nampak sepi dan terawat. Dengan dominan putih yang mencolok. Tak jarang beberapa orang merasa kagum atas bangunan dan dekorasinya. Yang terletak disebuah perumahan dekat dengan Idjen Boulevard.

Kini, kesadarannya mulai diambang batas. Langkah kakinya kokoh menelusuri setiap petak bangunan itu. Diruang tengah, segelas kopi coklat terparkir manis dimeja dekat sofa. Semilir aroma Windu terhuyung angin sepoi.

Dihirupnya sejenak, tiba-tba diluar nampak mendung, guntur menggelegar. Hujan pun mengguyur.

“Kemana, Ndu ?” Kekosongan membuatnya semakin bertanya-tanya.

Diangkatnya secawan kopi beraroma coklat bersama hangat Randu melangkah. Menapaki beberapa petak bangunan yang tak asing. Tubuhnya berhenti paa ruang yang disukai Windu. Hujan menderas, langit menghitam.

Gerakannya memelan, langkahnya terkatup-katup. Jantungnya berdebar pelan, tangannya menjamah singkat pada sepucuk surat yang terselip diantara cawan.

Matanya membinar, gemetar bibirnya membaca lirih dalam hati. Matanya mengeja, merangkul kata demi kata.

“Windu gak bisa, bang. Windu sayang sama abang. Windu gak mau abang kecewa. Tapi, Windu lebih gak mau lagi bikin abang jadi makin tersesat. Windu terpaksa pergi, untuk bang Randu. Lain kali, kita ketemu lagi dengan keadaan yang berbeda dan lebih baik dari saat ini. Salam hangat serta sayang dari kekasihmu, sekaligus adik kembarmu. Windu Wijiastuti”.

The End

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY