Reminisensi Cita ; kedua

Reminisensi Cita ; kedua

kala mimpi muncul sebagai kenangan

61
0
SHARE

“Ah!”

Bella mengaduh saat sepercik perih menggesek gusinya.

Hahh, pantas kalau gusinya bisa lecet; sikat giginya saja sudah mekar seperti ini. Seperti yang sudah dibilang Bos tadi, Bella itu beruntung; dapat sup lebih banyak, tidur malam lebih cepat, bangun pagi lebih siang, dan jatah istirahatnya juga lebih banyak. Namun, alangkah senangnya Bella kalau ia bisa lebih beruntung lagi untuk mendapat sikat gigi baru.

Bella berkumur, mencuci sikat giginya, lalu mengelap mulutnya dengan handuk. Oh iya, alangkah senangnya Bella kalau ia bisa lebih lebih beruntung lagi untuk mendapat handuk baru.

“Halo, cantik!”

Sebuah suara menyapa Bella, sebuah suara yang sama hangatnya dengan mentari pagi ini.

“Halo, Re!”

“Sakit gigi, ya?” Re tertawa. “Gusi gue juga lecet, sikat gigi gue udah mekar!”

Bella ikut tertawa, “Iya jir, kaget gue tiba-tiba perih!”

“Btw, hari ini lo kerja apa?”

“Cuma ngambil sama nganter pasir. Lo?”

“Nyaring pasir! Bakal sering papasan kita!”

Bella tertawa.

Sama seperti dirinya, Re adalah penghuni kamp ini. Sama seperti dirinya pula, Re adalah penghuni kamp ini yang diberi ‘hadiah’ oleh para Bos. Hadiah-hadiah itu dimulai dari sekedar porsi sup yang lebih banyak, lalu berlanjut ke jam tidur malam lebih cepat, lalu berlanjut lagi ke jam bangun pagi yang lebih siang, dan terakhir jatah pekerjaan mereka yang diganti dengan jatah istirahat.

“Halah, sup banyak apaan!” ucap Re waktu itu, saat ia dan Bella pertama kali menerima porsi sup lebih banyak. “Ini mah banyak kuahnya doang!”

Bella mengangguk setuju. Sepertinya, hanya ada sepotong wortel untuk satu sendok sayur besar kuah.

“Kuahnya tawar lagi!” komentar Re di suapan pertama. Bella sendiri langsung memberikan sup miliknya pada seorang nenek yang duduk di sampingnya; ia tidak nafsu makan dengan sup berkuah air begini, dan nenek itu jauh lebih butuh makanan.

Porsi sup lebih banyak adalah yang mempertemukan Bella dengan Re. Sama-sama penghuni kamp, sama-sama enam belas tahun, sama-sama dapat ‘hadiah’, dan sama-sama tidak suka dengan para Bos semakin mengeratkan hubungan mereka. Seluruh penguni kamp hapal, bahwa dimana ada Bella, disitu ada Re. Dimana ada Re, disitu ada Bella. Dan dimana ada Bella dan Re, disitulah ada kebaikan; dua mangkuk sup gratis, bantuan memecahkan batu dan menyaring pasir, atau sekedar teman ngobrol dikala lelah lahir dan batin.

“Re, gue mau cerita,” ucap Bella setelah membasuh wajahnya.

“Cerita apa?”

“Tadi malem, gue mimpi.” Bella mengeringkan wajahnya. “Gue mimpi kita di lapangan luaaaaas banget, terus kita ngibarin bendera gitu deh. Gak cuma kita sih, ada yang lain-lain juga. Nah, pas itu bendera udah tinggi, tiba-tiba kita ditembakkin dari atas. Terus ada ranjau sama bom meledak. Parahnya lagi, gue tuh gak bisa lari dari sana! Serem banget jir, untung gue langsung bangun. Tapi pas bangun gue juga setengah-setengah waras, kek orang goblok gitu. Tapi emang kalo lo mimpiin mimpi yang sama, itu serem banget!”

Re cuma tertawa kecil. “Jadi karena itu lo agak gak konek pagi ini?”

Kening Bella berkerut ganar, “Hah?”

“Asal lo tau Bel, pas tadi gue nyapa lo, lo tuh agak-agak ngawang gitu jawabnya. Padahal setau gue, lo makhluk yang bakal tetep sadar sesadar-sadarnya meskipun dibangunin mendadak pas baru tidur sejam. Tapi tadi? Gue kira lo abis digebukkin sama Bos tau gak.”

“Oh, iya ya?”

Jujur saja, sampai sekarang pun, Bella masih merasakan efek mimpi itu.

“Iya, neng.” Re menatap lurus ke depan, “Lucu ya, gara-gara mimpi doang, lo bisa sampe kayak gini?”

Bella mengangkat bahu. “Udah yuk, kita lapor ke Bos Setan aja. Nanti dia ngomel, ribet lagi kita.”

“Ya udah lah ayo.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY