Reminisensi Cita ; pertama

Reminisensi Cita ; pertama

kala mimpi muncul sebagai kenangan

79
0
SHARE

Pernahkah kamu bermimpi?

Bella pernah.

Di mimpinya, langit begitu biru. Mentari bersinar lembut kala teriknya membakar semangat. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa butir-butir debu mengotori wajah setiap orang di lapangan itu.

Namun, tak ada yang peduli wajahnya kotor. Tak ada yang peduli angin sepoi-sepoi itu mengacak-acak rambut mereka. Selama angin itu masih meniup bendera yang kini merayap naik di tiang bendera, mau mereka harus bersimbah darah pun bukan masalah.

Dan disitu, di mimpi Bella, mendadak peluru turun bak hujan. Ranjau dan bom ikut terlihat sepanjang mata memandang. Kumpulan orang di lapangan itu bubar, berlari kemana pun mereka bisa selamat.

Dan disitu, di mimpi Bella, Bella hanya diam, seolah kakinya tertanam pada tanah. Otaknya memerintahkan lari namun ototnya tiada yang bergerak. Jantungnya berdegup kencang seiring takutnya membumbung tinggi.

Bella takut.

Bella menutup mata.

Bella membuka mata.

Kini, seluruh tubuhnya yang seolah tertanam pada tanah; setiap sendinya menolak untuk bergerak. Tubuh itu juga basah kuyup oleh keringat; setengah keringat karena kepanasan, setengah lagi keringat karena ketakutan.

Bella tak pernah tergugu seperti ini. Bahkan waktu ia ditangkap dan dibawa pergi secara paksa enam bulan lalu, Bella tidak segentar ini.

Namun, detik tetap berjalan. Aliran darah di tubuh Bella tidak berhenti. Setengah menit termangu, Bella akhirnya bangkit terduduk. Sebenarnya, Bella sudah terbiasa dengan kasur keras di kamp ini, tapi baru kali ini Bella merasa tubuhnya begitu pegal seperti saat pertama kali tidur disini. Dan sebenarnya lagi, Bella juga sudah terbiasa bangun tidur dengan teriakkan-teriakkan para Bos yang menyuruh Penghuni bekerja, tapi baru kali ini Bella merasa takut karena teriakkan-teriakkan itu.

“Bella? Kamu sudah bangun?”

Mendadak, seseorang muncul di ambang pintu tenda. Bella menoleh, lalu mengangguk cepat. Seseorang itu lalu berjalan menghampirinya.

“Ayo, cepat bangun, mandi, terus sarapan!”

Bella mengangguk.

“Pekerjaan kamu hari ini cukup mengambil dan mengantar pasir. Kerjakan yang benar, atau kamu harus ikut bangun jam empat pagi seperti penghuni yang lain!”

Bella mengangguk.

“Kamu itu beruntung. Dapat sup lebih banyak, tidur malam lebih cepat, bangun pagi lebih siang, istirahat juga lebih sering. Jangan belagu ya kamu dapat perlakuan spesial seperti itu. Kamu itu cuma sampah masyarakat yang kami beri hadiah.”

Bella mengangguk.

Segera Bella menyambar handuk kumalnya dan sebatang sikat gigi, lalu berlari menuju pemandian umum.

Harinya baru akan dimulai.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY