“Lembaran Cinta Dalam Al Qur’an”

“Lembaran Cinta Dalam Al Qur’an”

7231
0
SHARE

“Dengan Al-Qur’an, aku ingin belajar mencintaimu karena Allah S.W.T.,  seperti cinta Rasulullah s.a.w pada Khadijah yang menjadikannya teladan kekasih Allah”

Sederet buku – buku agama memenuhi lemari-lemari buku di perpustakaan pesantren Babul Khaer. salah satu buku tampak dipegang oleh salah seorang santri pesanten  Babul Khaer yang bernama Dewa. Ia dikenal sebagai santri yang cerdas dan baik akhlaknya, pria bertubuh kurus dan tinggi ini adalah salah satu santri kebanggaan pesantren Babul Khaer.

Sebagaimana hasil keputusan para ustadz, Dewa akan mengikuti pembinaan Hafidz Al-Qur’an. seperti pada peraturannya ia harus mondok di Makassar bukan lagi di Babul khaer selama tiga tahun kedepan, hanya akan kembali jika bulan Ramadhan, hari raya dan musim ujian tiba, untuk mengikuti ujian di pondok pesantren Babul Khaer.

Sudah menjadi kebiasaan anak pesantren, setiap bulan Ramadhan tiba, yakni kembali ke kampung halaman. Begitu pun dengan Dewa meski, mendapat kesempatan libur lebih lama dari anak sekolah pada umumnya namun, liburannya lebih bermakna dari liburan anak seusianya yang hanya sekedar bersenang-senang, membuang waktu percuma. Selama libur, dia memilih menjadi imam sholat dan guru mengaji serta memberi ceramah agama di beberapa masjid.

Liburan adalah saat yang paling dinanti-nantikan oleh anak pesantren, karena dapat bertemu lebih lama dengan kedua orang tua, keluarga, tetangga dan sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak berjumpa. Begitu pula Dewa, meskipun menjadi imam dan guru mengaji selama liburnya, ia tetap masih menikmati waktu yang didapatkannya dan mensyukuri nikmat-Nya, karena ia percaya terhadap janji-janji Allah yang pasti.

Seperti anak remaja pada umumnya, cinta juga tidak pernah lepas dari kepingan perasaan anak pesantren seperti Dewa. Baginya cinta adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan tumbuhkan di hati setiap hamba-Nya baik yang mengingat maupun melupa. sosok Dewa bisa dibilang sama dengan remaja lainnya, namun bedanya Dewa bisa dibilang lebih mengerti batasan dibandingkan kebanyakan anak remaja pada umumnya.

Ada yang berbeda dari liburan kali ini sebab cinta yang telah bersemi lama dari sejak sang dewa  kecil baru belajar arti menyayangi dengan tulus kepada siapapun yang ada disekelilingnya akhirnya kembali memenuhi seluruh sendi hati Dewa. Pada liburan ini Dewa kembali bertemu dengan wanita yang selama ini menjadi alasannya selalu merindukan masa kecil yang tak mampu tergantikan, dialah Atthahirah si gadis cantik yang selama ini menjadi  wanita terindah di hati Dewa setelah ibu dan kakaknya seperti khadijah di hati Rasulullah s.a.w.

Sejak kecil Dewa telah menaruh hati pada sosok wanita bernama  Atthahirah yang akrab dipanggil Thira oleh teman-temannya itu. Perasaan itu terus dijaganya bahkan sampai saat ini. Dewa tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Thira, sehingga memilih diam membiarkan cinta itu terus tumbuh tanpa mengizinkan seorangpun untuk  mengubahnya menjadi cinta yang baru.  Saat Dewa mulai punya keberanian itu,  ia justru  harus dilanda dilema dengan adanya perbedaan pendapat tentang hukum pacaran dalam islam. Hal itu terus menghantui Dewa, apa mungkin ia harus memupuskan harapannya untuk menjadikan Atthahirah lebih dari sekedar sahabat kecilnya.

Dewa menghabiskan waktu luangnya untuk terus belajar tentang bagaimana ia bisa megatasi permasalahan hati yang melandanya. Tapi, Dewa sadar apapun itu cara terbaik untuk mengobati segala permasalahan hati adalah menyandarkan hati itu pada Pemiliknya, Dialah Allah S.W.T., Karena itu Dewa memutuskan untuk memulai pengembaraannya dalam persembahan malam untuk temukan ketenangan iman dan cinta yang tumbuh berdampingan  di taman hati seindah pesona ilalang – ilalang yang tumbuh indah di dataran tinggi .

Saat semua mata tertutup mengistirahatkan kaki yang telah lelah berjalan, mata yang telah lelah berkedip, tangan yang telah bosan bekerja, dan tubuh yang mulai lelah bergerak, Dewa membuka kedua kelopak matanya, bangkit dari pembaringan seraya tak lupa ia berucap syukur atas waktu dan kesempatan yang diberikan untuknya. Malam itu ia mencoba untuk memulai pengembaraannya dengan sebuah persembahan malam  kepada Kekasih Yang Hakikih.

“Ya Allah, Engkau Tahu apa yang tidak pernah bisa aku lakukan, Engkau tahu apa yang tidak pernah bisa aku ungkapkan, Engkau tahu apa yang selama ini menjadi kerisauan di ladang hatiku, Engkau tahu seperti apa masalah yang saat ini melandaku, Engkau mampu memahami setiap deret rasa yang tak pernah mampu dimengerti mereka yang ada di sekelilingku. Engkau mampu memahami makna dari setiap tetes air mataku, Engkaulah yang mampu menumbuhkan cinta ini di hatiku, dan menjaganya untuk tetap ada hingga saat ini, Tuhan jika cinta ini  baik untukku dan dirinya maka ku mohon tolong jaga cinta ini untuk tetap ada di hatiku. Namun, jika cinta ini buruk untuk kami maka hapuskanlah cintaku  ini dan bahagiakanlah dia yang selama ini menjadi alasan cinta ini tumbuh di hatiku meski bukan dalam takdirku,  Amin ya Allah.“  begitulah doa yang dihaturkan Dewa dalam persembahan malamnya. Tidak bisa terpungkiri sorot mata Dewa memancarkan ketenangan batin yang tercipta setelah Dewa menghaturkan doa dan harapanya pada Sang Maha Cinta.

Meski nalarnya belum mampu untuk memahami semua, namun hatinya telah siap untuk  segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Ia siap bila harus melepas sosok wanita  di hatinya karena cintanya pada Sang Maha Cinta dan akan sangat siap jika ujung dari pengembaraan hati yang baru saja dimulainya adalah berada dalam satu takdir bersama wanita yang selama ini dicintainya. Namun disaat pengembaraan itu belum lagi selesai, masa liburannya harus berakhir dan ia harus kembali menjalani rutinitasnya sebagai salah satu santri penghafal Al-Qur’an. Tapi Dewa bersyukur setidaknya ia telah mampu untuk akrab kembali dengan Thira yang selama ini telah lama tak dijumpainya.

Jauh dari yang Dewa tahu, cinta itu ternyata tak hanya tumbuh di hatinya tapi juga di hati Thira. Mungkin ini telah menjadi bagian dari takdir keduanya untuk hidup dalam naungan cinta yang sama. Meski telah ada beberapa orang yang mampu mengisi hati Thira, namun tempat untuk Dewa tak pernah mampu tergantikan oleh siapapun.

Tidak hanya Dewa yang harus berusaha memahami keinginan hatinya tapi juga Thira. Gadis periang dan penuh semangat yang bersekolah di SMAN 8  Bulukumba ini, juga harus bergulat dengan hatinya. Tidak bisa ia pungkiri bahwa bayangan Fajar seseorang yang sempat hadir mengisi hatinya dan pergi meninggalkan luka hati yang dalam tanpa sepatah maaf  tulus terucap, terus hadir menemani hatinya yang bahagia dengan kehadiran sosok dari masa kecilnya yang tak pernah jadi masa lalu untuknya namun selalu ada bersama setiap detak jantungnya. Hati siapa yang tak terlepas dari saat dimana masa lalu dan masa kini hidup berdampingan  tanpa tahu mana yang akan menang.

Belum lagi kenangan tentang Fajar terhapus sempurna setelah kehadiran Dewa, hatinya kembali teriris dengan kehadiran satu nama yang kabarnya pernah menjadi bagian dari cerita hidup Dewa. Entah hanya menjadi pemeran pembantu atau mungkin pernah menjadi pemeran utama dalam hidup Dewa? Atau mungkin juga masih berperan sampai sekarang?, menjadi  pertanyaan hati Thira yang membuat ia galau sampai berhari-hari bahkan membuatnya tidak konsentrasi pada pelajarannya. Thira telah mencoba mengontrol perasaannya dengan berbagai cara, namun tetap saja perasaannya tidak berubah.

Wanita itu adalah Melati. Ia adalah mantan kekasih dari teman Thira yang bernama Iskandar. Thira pertama kali tahu tentang adanya hubungan yang pernah terjalin antara Dewa dan Melati itu dari buku yang dipinjamnya dari iskandar. Dalam buku yang berjudul ”Cinta Di Ujung Sajadah” itu tertulis nama Dewa yang menggambarkan bahwa Dewa  pernah menjadi bagian penting hidup Melati. Thira tahu ia memang tak punya hak untuk marah, namun ia punya hak untuk menangis, ia sadar memang suatu kesalahan dan akan sangat menyakitkan bila cemburu pada seseorang yang tidak kita miliki, tapi siapa yang mampu menahan kepedihan hati, insan siapapun pasti akan sakit bila ada di posisi seperti Thira.

Kepedihan itu semakin memuncak saat iskandar menceritakan kronologis hubungan Melati dan Dewa yang ia ketahui saat masih menjadi kekasihnya dulu, entah itu benar atau hanya dari pandangan Iskandar saja, namun cerita itu cukup menguncang kembali sendi hati Thira. Keceriaan yang biasanya ditunjukkan Thira seolah hilang terkubur pahitnya perasaan yang tak menentu. Langit hati yang mulanya biru jadi hitam kelam berkabut, ilalang yang tumbuh indah dalam perasaannya terpaksa harus terpangkas habis oleh rasa sakit yang entah kapan akan berakhir.

Cinta dalam hati menuntun Thira untuk terus mencari tahu tentang siapa Melati dalam hidup Dewa, berbagai informasi dikumpulkannya, entah  yang dilakukannya benar atau mungkin salah, tapi yang terpenting adalah bagaimana ia bisa mengobati perasaannya.

“manjadda wajadah (barang siapa yang bersungguh- sungguh pasti akan berhasil), kesungguhan Thira, membuatnya mampu untuk menemukan solusi dari permasalahan hatinya. Seperti halnya Thira akhirnya Dewa pun telah menyelesaikan pengembaraan hatinya dan mantap untuk menembak Thira setelah kembali saat liburan Hari Raya Idul Adha nanti.

Saat yang dinantikan pun tiba, sehari setelah perayaan salah satu hari besar dalam islam yakni Hari Raya Idul Adha, Tuhan menggariskan kehendak mewujudkan sebuah mimpi  dari dua insan yang hatinya saling terpaut. Setelah kedekatan yang cukup lama dan rasa cinta yang telah lama terpendam dalam hati, tepatnya pada Tanggal 16 Oktober 2013, Dewa memberanikan diri, untuk menyatakan perasaannya pada sosok yang selama ini sangat dicintainya. Dan atas Kuasa-Nya, Keduanya resmi menjadi sepasang kekasih.

Waktu terus berjalan, Dewa dengan tekunnya selalu mengajak Thira untuk selalu melakukan ibadah tidak hanya yang wajib tapi juga yang sunnah seperti sholat Tahajjud.  sekarang Thira tidak perlu lagi takut akan kehadiran sosok Melati dalam hubungan mereka, begitupun Dewa yang tak dihantui lagi dilema yang dulu pernah dirasakannya. Tapi kebersamaan mereka kembali harus tertunda untuk waktu yang lama, namun apa boleh buat kewajiban tetaplah kewajiban. Dewa harus kembali menjalankan kesehariannya sebagai santri, dan Thira pun harus lebih fokus dengan semua kegiatan belajarnya di sekolah demi meraih prestasi untuk membanggakan kedua orangtuanya.  Hal ini memang sedikit sulit, namun rasa cinta yang tulus karena-Nya cukup mampu menguatkan perasaan mereka untuk ikhlas berpisah jauh dalam waktu yang lama. Namun, sebelum ia pergi untuk kembali di waktu yang akan jauh lebih indah, dimana ilalang di hati telah tumbuh kembali dan lautan perasaan telah biru kembali oleh iman dan cinta yang telah duduk berdampingan dipelaminan suci sang hati, Dewa memutuskan bertemu dengan Atthahira untuk berpamitan, selayaknya orang yang ingin pergi pada umumnya. Akan tetapi, yang berbeda adalah benda kenangan yang diberikan Dewa pada Thira sebelum pergi. Benda kenangan itu adalah benda yang telah menjadi salah satu tali pengikat cinta Khadijah dan Rasulullah S.A.W. Itulah Al-Qur’an, penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

“Dalam Alqur’an ini aku telah menuliskan setitik dari harapanku dan hal yang selama ini ingin aku ungkapkan padamu” ucap Dewa sambil mengulurkan Al-Qur’an yang berukuran kecil pada Thira. Dengan senyum Thira menerima Al-Qur’an pemberian Dewa. “ku harap Al-Qur’an ini akan menemani setiap langkahmu dan menjadi pedoman disetiap detak jantungmu” ucap Dewa sebagai pesan terakhir sebelum kembali ke pesantren.

Saat sendiri di keheningan malam, Thira mulai membuka Al-Qur’an pemberian Dewa dan membaca seuntai surat yang ad di dalamnya. Dengan senyum yang terjurai indah di bibirnya

“jauh bukan berarti lupa, saat pertama kali cinta itu tumbuh di sini,  aku memilih diam, membiarkanmu belajar arti cinta, aku percaya sejauh apapun jarak pemisah, selama apapun waktu membentang jika kau adalah makmum yang dipilih Tuhan untukku, ku yakin Dia akan menjagamu selalu untukku, ku titip Al-Qur’an ini  untuk mengingatkanmu bahwa ada aku yang selalu menanti saat-saat dimana menatapmu dengan cinta adalah halal bagiku dan sujud bersamamu menjadi  kebiasaanku setiap persembahan malam

Tuhan telah menumbuhkan cinta di hati Dewa dan Thira, cinta yang akan menuntun keduanya menuju dekapan Cinta Allah S.W.T., Sang Kekasih Yang Hakikih.

Pencarian:

  • puisi tentang alquran
  • puisi cinta di pesantren
  • puisi penghafal al quran
  • sajak quran
  • puisi cinta santri
  • puisi untuk penghafal al quran
  • puisi perjuangan seorang penghafal Al-Quran
  • puisi seorang penghafal alquran
  • cinta al qur an
  • Puisi tentang penghafal alquran
SHARE
Previous article“Cerita Cinta Audy”
Next articlePertemuan Singkat
I will not affraid, and cry or sad again because, Innallah Ma'aana

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY