“Awan Cinta Di Langit Mendung”

“Awan Cinta Di Langit Mendung”

4445
1
SHARE

            Sudah beberapa bulan musim hujan menyapa kotaku, awan di langit mendung silih berganti menangis hingga terguyur seluruh sisi kota. Mentari tak begitu terik hingga semua terasa lebih nyaman, termasuk untuk berbincang dengannya di taman kota.

            Dia, seseorang yang tak ku tahu siapa namanya itu, selalu saja bisa menjadi teman cerita yang baik untukku, meskipun aku tak tahu siapa dia, tapi lidahku tak pernah kaku untuk bercerita padanya tentang apapun yang menggelayuti nalar dan perasaanku, bahkan tentang laki-laki yang menjadi idamanku selama ini.

            “Kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang kamu idamkan itu, dan aku harap ketika aku kembali nanti kamu tak lagi sendiri tapi bersama laki-laki yang kamu idamkan selama ini” Ujarnya sebelum berpamitan pergi padaku.

              Aku tak pernah tahu kenapa ia harus pergi di saat aku mulai bisa merasakan punya sahabat baik. Tapi bagaimanapun aku harus mengikuti arus musim yang terus berganti lagipula dia berjanji akan kembali ketika awan musim kembali bergulung, sehingga tak ada yang perlu kulakukan melainkan hanya menunggunya dalam kemarau yang katanya akan berlangsung lebih lama ini.

***

Pagi yang begitu terik, maklum kemarau panjang sudah berjalan tiga bulan. Aku duduk di halte bus dengan pakaian sekolah lengkap tapi kali ini tanpa jaket yang biasanya kukenakan beberapa bulan yang lalu.

“Mendung ya?” Ujar seseorang laki-laki yang asing dimataku.

“Iya “ Ujarku

“Langit” Ujarnya menyodorkan tangan untuk berkenalan denganku

 “Kok aneh yah, katanya Mendung itu anak yang ceria tapi kok yang aku lihat kamu ini orangnya mendung seperti namamu” Ucapnya

“Bukan urusanmu” Ujarku melangkah pergi menjauh.

Dia terus mengikuti langkahku hingga ke depan gerbang sekolah, bahkan mengikutiku masuk ke kelas sebelum akhirnya di usir oleh Pak Narji satpam sekolahku.

****

 Kemana pun aku pergi Langit selalu saja mengikutiku, dengan senyum sok manis yang tidak pernah hilang dari bibirnya.

“Maaf yah, tolong jangan ikuti aku, memangnya untuk apa sih kamu selalu mengikutiku?”  Tanyaku dengan nada keras

“Memangnya siapa yang mengikutimu, kebetulan saja aku pergi ke tempat yang sama denganmu” Jawabnya mengeles

“Tolong yah, aku bukan orang bodoh Langit atau siapapun namamu, aku tahu mana yang kebetulan bertemu dan mana yang memang mengikuti, jadi tolong berhenti melakukan semuanya” Bentakku sambil melangkah  menjauhinya.

“Tunggu, Mendung” Ujarnya sedikit lebih bijak sambil  menggenggam tanganku mencoba menahanku.

Aku telah mencoba menghentakkan keras tanganku agar genggamannya terlepas, tapi genggamannya terlalu kuat untuk aku lepaskan

“Aku minta maaf, aku memang sengaja mengikuti kemanapun kamu pergi, tapi itu hanya karena aku igin bersahabat denganmu, tidak lebih, aku sama sekali tidak punya maksud lain selain itu” Ungkapnya tegas dan meyakinkan.

Namun aku hanya diam dan mencoba membaca situasi yang membingungkan itu.

“Tolong isinkan aku menjadi temanmu, dan aku akan berhenti mengikutimu, aku janji” Ujarnya mengemis.

“Oke, tapi dengan satu syarat jangan pernah mengikuti aku lagi, kecuali aku memang meminta kamu untuk menemaniku” Ujarku

“Ok siap Bos Mendung” Ucapnya Jahil sambil hormat.

Lalu kami kembali melanjutkan penjajahan di tokoh buku bersama-sama.

***

Bel sekolah berbunyi, seseorang menyapaku dari balik jendela ruangan kepala sekolah,

“Sebentar lagi kita akan jadi teman kelas Mendung” Ujarnya

“Langit…!” Ucapku

“Yah” Ujarnya kembali .

Tanpa berlama-lama berbincang dengannya aku langsung menuju ke ruang kelasku sebab Pak Arif guru matematika di sekolahku sedang berjalan menuju ke kelasku.

Suasana kelas yang riuh berubah hening karena kedatangan Pak Arif dan Pak Juned Kepala Sekolah SMU 25 Jakarta, serta Langit. Pak Juned kemudian memperkenalkan Langit dan meminta Langit untuk duduk di sampingku.

“Seperti yang ku katakan tadi kalau aku akan jadi teman sekelasmu, bahkan teman sebangkumu Mendung, kuharap kita bisa jadi teman yang kompak” Ujarnya dengan senyum sok manis di bibirnya.

***

Hari-hariku kulewati bersama Langit, belajar di sekolah, bermain di rumah, bahkan hampir semua kegiatanku di luar rumah kulalui bersama Langit. Semua terasa berbeda, Langit yang dulu kukenal jahil dan sangat ingin tahu urusan orang lain itu telah menjelma menjadi laki-laki yang lebih dewasa dan seorang sahabat yang pengertian.

            Di bawah langit yang mulai mendung setelah beberapa bulan kemarau panjang melanda kotaku, mengeringkan sungai-sungai yang biasanya menjadi ladang canda tawa anak-anak kecil, dan memutuskan banyak sekali pembuluh darah diparu-paru kota ini, aku duduk di bibir sungai yang tidak lagi ramai seperti beberapa bulan yang lalu.

            Tiba-tiba sosok tinggi dengan payung biru kusamnya tampak berjalan di sisi seberang sungai.

 “Jangan-jangan itu dia” Ujarku sambil bergegas cepat mengejarnya ke seberang sungai.

Keadaan jembatan yang rusak parah, memaksaku harus berjalan didasar sungai yang setengah kering itu. Namun belum sempat aku sampai di seberang sungai, tiba-tiba saja kakiku terpeleset dan terjadi benturan hebat dikepalaku sesaat setelahnya, hingga semua berubah gelap.

Saat mataku terbuka, aku sudah berada di ruang rawat rumah sakit ditemani ayah, ibu, dan Langit. Namun, saat itu aku tak ingat apa-apa selain tentang laki-laki dengan payung biru kusamnya yang kulihat di sungai.

“Siapa yang membawaku kesini ayah?” Tanyaku pelan

“Langit yang menemukanmu pingsan di sungai nak” Jawab Ayah

“Boleh aku bicara berdua sama Langit?”

“Boleh nak” Ujar Ayah dan Ibu meninggalkan aku dan Langit

“Apakah kamu melihatnya?”

“Siapa maksudmu?”

“Laki-laki yang membawa payung berwarna  biru kusam di bibir sungai tadi”

Langit terdiam sejenak mendengar perkataanku, mungkin dia mencoba menebak siapa yang aku maksud, sebelum akhirnya ia angkat bicara.

“Siapa maksudmu, aku tidak melihat satu pun orang di sungai, selain kamu yang tergeletak pingsan” Ujarnya.

“Mungkin kamu hanya berhalusinasi saja”Tambahnya.

Mendengar ucapan Langit aku mencoba untuk melupakannya.

***

Awan sudah mulai terlihat kembali menggulung ke kotaku, sehingga suasana mendung sepeti beberapa hari yang lalu tampak melukis langit sore itu. Aku kembali teringat dengan ucapan laki-laki itu beberapa bulan yang lalu, bahwa ia akan kembali ketika gulungan awan kembali mengunjungi kotaku.

Dengan baju  rumah sakit yang masih kukenakan, aku berlari menuju ke bibir sungai berharap melihatnya di sana. Namun setelah seharian aku menunggu di bibir sungai, hingga sekujur tubuhku basah kuyup di guyur hujan pertanda akan berakhirnya  kemarau pun, aku masih tetap tidak melihatnya disana.

“Mendung, apa yang kamu lakukan di sini?” Ujar Langit Meneriakiku yang masih betah kehujanan di bibir sungai.

“Kamu masih sakit Mendung, tak seharusnya kamu ada disini” Ujarnya dengan keras.

“Aku mencintainya Langit, aku baru sadar kalau aku mencintai dia, laki-laki yang berpayung biru kusam itu. Aku merindukannya” Ujarku meneteskan air mata dalam guyuran hujan yang semakin deras.

“Dia bilang, dia akan datang kembali jika awan kembali bergulung, Tapi kenapa dia tidak hadir di tempat ini, apa mungkin dia sudah melupakanku” tambahku larut dalam pelukan Langit.

***

Pagi yang kembali cerah setelah hujan lebat melanda semalaman, tak bisa kurasakan sepenuhnya. Aku masih harus terbaring lemah di rumah sakit ditemani Langit sahabatku. Tubuhku yang semakin melemah karena guyuran hujan, dan perasaan rindu yang berkecamuk dalam hatiku semakin memperparah keadaanku.  

“Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, kenapa tak sejak dulu saat dia ada, dan sekarang aku hanya bisa menderita menahan sakit karena rindu yang tersimpan lama dan cinta yang harus dibungkam oleh keadaan” Ujarku menatap kosong ke langit-langit ruangan.

“Aku tahu yang kamu rasakan saat ini Mendung, tapi dia tidak pantas untuk mendapatkan cinta sebesar itu darimu, kau adalah perempuan yang luar biasa sementara dia hanya laki-laki biasa yang tak penting bahkan kamu pun tak mengenal siapa dia” Ujar Langit dengan nada sedikit keras.

“Cukup !!” Bentakku sembari mengayungkan tamparan ke wajah Langit.

“Aku tidak ingin lagi mendengar perkataan itu Langit, dia tak seperti yang kamu pikirkan dan kamu tak mengenal dia,  jadi jangan pernah berkata buruk tentang dia” Tegasku.

“Baik, terima kasih untuk semuanya Mendung, mungkin memang dia lebih penting daripada aku sahabatmu sendiri” Ucap Langit sebelum berlalu pergi meninggalkanku yang masih sibuk dengan air mataku dan menutup keras pintu ruang rawat rumah sakit.

Hari itu aku tidak peduli lagi tentang pendapat Langit padaku, aku tak peduli lagi jika Langit meninggalkanku sendiri di kamar rumah sakit, sebab saat itu yang aku ingin hanya menangis sekeras yang aku bisa, agar  rindu dalam dadaku hanyut dan menghilang pergi.

***

Berhari-hari aku hanya bisa mengurung diri di kamar setelah bebas dari belenggu rumah sakit. Jika biasanya hari-hariku kulalui bersama Langit, Namun sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Langit tidak lagi pernah menjengukku bahkan untuk menanyakan kabarku sedikit pun.

“Ada surat untukmu nak” ujar ibu menyodorkan kertas padaku.

“Dari siapa bu?” Tanyaku.

“Ibu juga tak tahu nak” Jawab ibuku sebelum berlalu meninggalkan kamarku.

Apa kabar Mendung

Bahagia rasanya bisa menyapamu lagi walau hanya lewat surat. Maaf mengganggumu aku hanya ingin kamu datang besok pagi ke sungai, sebab ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu Mendung……

Tertanda

Langit

“Aku pikir kamu tak mau lagi mengenalku Langit, tapi ternyata kau adalah sahabat terbaik bagiku, sebab bahkan saat aku menyakitimu pun kau masih mau menemuiku” Ucapku tersenyum sembari menutup surat dari Langit.

***

Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini aku merasa sedikit lebih baik, sehingga kuputuskan untuk datang menemui Langit di sungai.

“Terima kasih sudah datang menemuiku Mendung” Ujar Langit tersenyum padaku

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” Ujarnya menarik tanganku ke suatu tempat.

  Aku terus berjalan mengikuti langkah Langit yang begitu cepat membawaku ke tempat yang tak pernah aku duga sebelumnya. Langit membawaku ke sebuah kuburan dengan taburan bunga yang masih segar dan sebuah foto yang begitu jelas dimataku.

“Untuk apa kamu membawaku kesini, lalu kenapa foto dia ada disini?”

“Ini adalah makam Awan adikku, dia adalah laki-laki yang menemuimu beberapa bulan yang lalu Mendung, orang yang telah membuatmu jatuh cinta. Sejak kecil Awan  sangat suka bekerja sebagai seorang tukang ojek payung, padahal bisa dibilang hidup kami masih berkecukupan, tapi kecintaannya pada hujan  membuatnya lebih memilih keluar dari rumah dan berkelana ke tempat dimana dia bisa menemukan hujan”

“Sebenarnya dia ingin sekali menemuimu Mendung, tapi sayang penyakit paru-paru kering yang dideritanya telah merenggut nyawanya, hujan yang dianggapnya sebagai dirinya sendiri telah menjelma menjadi pembunuh baginya”

“Kamu pasti bohong aku yakin dia masih hidup” Tegas lirih sambil memukuli tubuh Langit.

“Dia juga sangat mencintaimu Mendung, karena itulah sebelum dia pergi, dia memintaku untuk menemuimu dan memberikan payung ini padamu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, bahwa aku juga mencintaimu Mendung karena itu aku merahasiakan semua ini darimu, tapi aku sadar hati Mendung hanya untuk Awan bukan untuk Langit, dan Langit yang malang ini tidak bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat untuk Mendung”

“Maaf Langit…”Ujarku terisak

            Mendengar Perkataan Langit, aku hanya bisa menangis dan melepas semua rasa sakit di atas nisan Awan, laki-laki yang telah membuat aku jatuh cinta dan laki-laki yang membuatku bisa bertemu dengan sahabat sebaik Langit. Mungkin ini jalan terbaik yang dipilih cinta dan takdir untukku, Awan dan Langit.  

            Awan kini telah tertidur pulas di bawah batu nisan yang berukir itu, aku tak mungkin bisa lagi bertemu dengan sosok misterius yang telah membuatku mengharapkan agar kemarau segera berakhir. Kini hanya tertinggal kenangan dan senyum yang terlukis pada awan di langit mendung itu.

SHARE
Previous articleDan aku... dan aku
Next article“Gagal Move On”
I will not affraid, and cry or sad again because, Innallah Ma'aana

1 COMMENT

LEAVE A REPLY