Aku dan Paktua

Aku dan Paktua

596
1
SHARE

Sibuk aku menyibak kerumunan orang yang ada didepanku, keringat menetes hingga serasa mandi sore hari di Sungai Ciliwung. Teringat tadi pagi kawan lamaku mengetuk pintu kamar dan mengajakku pergi keluar. Dia mengatakan bahwa aku terlalu lama bersembunyi di depan layar 12 inci hingga tak kenal matahari. Iya, aku begitu menikmati dunia itu, dunia selebar 12 inci. Disana banyak aku temukan cinta yang meluber layaknya air penuh dalam gelas, juga banyak serpihan sakit hati yang tertuang seperti deras air terjun. Kawanku ini orang yang mengajariku menulis, dia selalu saja memberiku semangat akan sebuah tulisan. Kepak sayapnya telah terbang hingga negeri jauh disana. Dia juga yang menyediakanku rumah kedua dihatinya. Di dalam gazebo hati karyanya.

Masih sibuk aku coba menengok-nengokkan kepala hingga menjulurkannya, ingin melihat ada apa sebenarnya di depan sana. Kerumunan ini banyak berbisik, ada pula isak maaf dan tangis. Seperti bisikan wanita tua kepada anaknya untuk terus hidup bila nanti ajal menjemput dirinya sebagai ibu. Aku tersentuh mendengarnya. Anganku melayang ketika penceramah itu datang menghampiriku waktu duduk dipinggir sungai berair jernih bersama kawan lamaku, hingga ikan pun seakan malu untuk bercanda karena aku melihatnya dari atas air. Ah, air dan ikan. Itu sejatinya kehidupan manusia, bisik penceramah tua berbaju putih tadi.

“Teruslah renangi kehidupanmu dari hari ke hari anakku”, begitu katanya. “Tapi apakah ini dejavu?, sekelebat tadi aku melihat tubuhku ada dalam keranda itu”. ‘Bukan anakku, coba lihat aku, gambaran itu? Itu hanya pintu, pintu menuju banyak janji yang harus kamu perjuangkan. Dengan langkah pertamamu”, Suaranya semakin hangat. Setiap kenangan akan mencari sendiri pintunya. Dia terus memberitahuku, namun sekejap aku melihat tubuhku berbicara dengan seseorang tua berbaju putih di depan pintu pemakaman. Tak berapa jauh dari situ, rumahku sudah tak lagi ramai. Lengang.

Sepulang dari Jembrana. Depok, 2010

1 COMMENT

LEAVE A REPLY