Mbah Tiyem

Mbah Tiyem

489
0
SHARE

Dalam sebuah perjumpaanku dengan Mbok Tiyem, di daerah Indramayu, sempat terjadi percakapan yang asyik menggugah dalam setiap detik langkah yang ingin aku lakukan.
“Mau kemana nak??” sapa Mbok Tiyem,
“Mau ke Depok mbah…” sahutku.
“Ohh… Jaman dulu simbah kalau perang sampai daerah sana” sambungnya.
“Wah… tahun berapa itu mbah?” aku tertarik.
“Iya, dulu aku jalan kaki dari Jogjakarta menuju Jakarta bareng rombongan sekitar tahun 1934”.

Sembari terlihat matanya menerawang seakan kembali ke masa lalunya. Gurat wajahnya yang masih terlihat kokoh, menandakan begitu banyaknya pengalaman yang sudah dilaluinya. Langsung keinginanku untuk secepatnya pulang mereda. Penasaran membawaku berusaha ngobrol lebih banyak.

“Emang sekarang simbah mau kemana?” tanyaku.
“Mbah mau ke Jakarta nak, mau ngurus Truk – truk yang kena masalah di Polda Jakarta di daerah komdak”. sahutnya.
“Busyet!” batinku.
Nenek-nenek ngurusin masalah truk di kepolisian???
“Simbah nggak dapat pensiun nak, apa yang sudah pernah diperbuat tidak bisa meninggalkan bekas penghormatan yang layak”, begitu menurutnya.
“Simbah cuma dapat kenalan, dan koneksi dari para anak sejawat simbah yang sekarang banyak jadi pejabat di kepolisian”, sambungnya.
“Terus disana Polda ngapain saja Mbah?”, tanyaku.
“Ya begitu, mengurus truk yang kena tilang di daerah Jakarta”. Sembari menghisap nafas dalam-dalam Mbah Tiyem meneruskan, “Lumayanlah nak, bisa buat mengisi perut”.
“Tapi Mbah tidak pernah mau kalau waktu selesai mau pulang terus ada anggota atau perwira yang memberi uang saku”, sambungnya lagi.

Benakku menerawang jauh, mencoba menggali dan mencoba merubah diri menjadi simbah Tiyem di masa lalu. Berjuang meneteskan darah dan keringat bersabung nyawa, namun saat sudah merdeka justru merekalah yang akhirnya dijajah oleh para penerusnya (mungkin termasuk aku ikut andil). Bila mereka mampu dekat dengan penguasa maka jalan terbuka lebar.

Akhirnya aku putuskan untuk menemani Mbah Tiyem berangkat bersama, sembari menggali cerita lebih dalam. Perjalanan dari Indramayu-Jakarta malah terasa menjadi cepat sekali. Kemacetan lalu lintas yang biasanya membuatku memaksa menahan sabar tiada terasa hari ini.

Sekelumit cerita pertemuanku dengan Mbah Tiyem ini sungguh menyisakan kepedihan teramat dalam. Kenapa sejarah menjadi kacau balau, belum lagi sifat para penggede yang masih seperti ini? Apa sebab mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kenapa?

Selang 5 bulan setelahnya, aku kembali teringat percakapan itu. Aku coba pecahkan inti masalah ala “aku”. Ketika orang membutuhkan makan, maka akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari alat untuk makan dengan bekerja. Ketika orang butuh bekerja dengan layak, maka dia akan dihadapkan dengan situasi akan tingkat pengetahuan dan ilmunya. Dan setelah dihadapkan dengan tingkat pengetahuan dan ilmu seperti itu, maka kita akan berujung dengan satu kata yaitu “Pendidikan”.

Bila pendidikan di negeri ini bagus, maka pejabat kita pun akan jadi bagus, dan bila pejabat kita bagus, maka mbah tiyem tidak akan lagi kesulitan mendapatkan penghormatan layak akan pengorbanan yang sudah dilakukannya di masa perang kemerdekaan, dan beliau bisa makan dengan tenang tanpa harus pergi ke Jakarta untuk mendapatkan sedikit komisi agar bisa menyambung hidup.

SHARE
Previous articleRindu Kering
Next articleDimana Rumahku?
Pak Tani. #SpongeBobAddict #BeautyIsBoring. Blog saya di www.kikasyafii.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY