Nak, Ayah Merindukanmu..

Nak, Ayah Merindukanmu..

821
0
SHARE

Merasakan dinginnya angin malam, Pak Pardi mengencangkan selimut yang selalu menjadi andalan kala malam tiba. Di teras kamar yang selebar gedung bioskop, asap rokok mengepul dari bibir samping mulutnya yang meruncing setiap kali menghembuskannya. Membentuk warna putih yang lama-lama terlihat seperti makhluk halus yang menghilang dengan sendirinya. Pardi mendesah dengan desahan yang aku rasa akan menakutkan ular yang suka mendesis. “Sudah 5 tahun lebih aku tak juga bercengkerama dengan Liana”, terdengar lirih nada kecewa dari ucap Pak Pardi.

Beberapa hari ini Pak Pardi sering memimpikan Liana dalam tidurnya. Putri kecilnya yang sekarang sudah menjelma menjadi seseorang yang sangat dihormati oleh kolega dan teman-temannya. Sebagai Fashion designer yang hebat dan kreatif. Masih terekam dipikirannya, bahwa Liana adalah putri mungilnya. Yang selalu menurut untuk diajak bercanda, tertawa terbahak akan leluconnya sendiri bahkan sampai tergelak bila melihat gerakan apa saja yang dianggapnya lucu. Setiap hari minggu, Pak Pardi, Liana dan Bu Pardi selalu merencanakan agenda kecil yang menyenangkan. Entah itu dengan bepergian ke pantai, bukit-bukit atau makan siang di taman kota. Tanpa terasa sungging senyum merekah dibibirnya. Teringat betapa merdeka dan menyenangkan sebuah keluarga kecil yang selalu dirundung bahagia meski tetap dengan riak-riak kecil terkadang mengelus-ngelus hubungan Pak Pardi dan istrinya.

Hingga suatu hari, Pak Pardi mendapat kehormatan untuk menjabat ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin benar kiranya, hubungan keluarga yang harmonis akan sangat mendukung kinerja tulung punggung mereka. Mereka pun merayakannya dengan makan malam di tempat termahal yang belum pernah dikunjungi. Liana menjadi putri semalam karena malam itu dia dimanjakan sepenuh hati oleh Ayahnya. Bersama istri, dia merencanakan masa depan Liana dengan sebaik mungkin dalam sebuah catatan kecil untuk di simpan kemudian dalam kamar tidur mereka bahkan kamar Liana.

Ketika Liana beranjak memasuki usia SD, Ayahnya memasukkannya ke dalam sekolah dasar yang sangat besar namanya, tentu dengan harga yang sangat mahal pula. Namun semua itu sudah bukan sebuah masalah bagi Pak Pardi muda. Penghasilan perbulannya sudah sangat mampu untuk itu. Meski Bu Pardi hanya sebagai ibu rumah tangga. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Bu Pardi berusaha untuk bertugas dengan baik. Sebaik-baik seorang istri. Karena dalam pembagian tugas dia memegang peran sebagai pengawas langsung kehidupan Liana, tentu dia tak mau sedikitpun anaknya Liana menjadi tidak terkontrol. “Karena aku sangat menyayangi Liana”, begitu jawab Bu Pardi selalu atas kekhawatiran sang suami yang selalu sedikit memprotes bila istrinya berlebihan dalam menyikapi Liana.

Perlahan Liana menjadi anak yang cerdas, namun penurut bila sama ibunya. Ibunya akan selalu ada bila Liana membutuhkan, dan tidak begitu bila dengan ayahnya yang selalu mengajarkan kemandirian dan sedikit keras. Liana sering sekali duduk sendirian dan menanyakan “Kemana Ayah bu??”, bilamana sudah dalam seminggu tidak sekalipun menengok Liana meski masih dalam satu rumah. Kemudian Bu Pardi akan menyambungkannya kepada Sang Suami, “Ayah kan selalu capek Bu, begitu banyak pekerjaan di kantor”. Jawaban yang selalu sama, bagaikan panjangnya rambut yang akan selalu tumbuh meski sudah di potong pendek. Bu Pardi pun mencoba menenangkan Liana diesokan hari, dikala mereka siap-siap sarapan tanpa sang ayah yang sudah hilang di telan debu kota.

******

Kini Pak Pardi teringat kembali masa-masa lalu yang Indah, sementara istrinya sudah terlelap dalam keheningan mimpi di alam tidur. Begitu sulitnya dia mendapatkan waktu dari Liana, hanya untuk sekedar bercengkerama meski itu 5 menit. Terakhir kali dia mencoba menghubungi Liana. “Nak, Ayah merindukanmu”, ucapnya membuka pembicaraan dengan Liana yang ada di seberang. “Ayah, Liana sedang sibuk sekali, lain waktu kita ketemu ya..”, jawab Liana dari selularnya. Ayahnya terdiam dan merenung, apakah ini karena waktu dulu aku selalu menunda-nunda keinginannya untuk bermain bersama, bercanda bersama dan sekedar menemaninya melipat kertas?.

Tanpa terasa, pagi sudah mulai sedikit menyingkirkan malam. Dan Liana belum juga pulang.

Depok, 2009

SHARE
Previous articleAku dan Paktua
Next articleMelukis
Pak Tani. #SpongeBobAddict #BeautyIsBoring. Blog saya di www.kikasyafii.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY