Nenek dan Pohon Tua

Nenek dan Pohon Tua

761
2
SHARE

Beranjak dari batu kehitaman yang tiada mau melepas pantatku, aku mengunjungi tepian sungai bening, tempat dansa serpihan-serpihan kekayaan Indonesia yang selalu mengerling ketika matahari menyapanya. Lama sudah tanah ini digadaikan dalam ranah darah orde baru dengan hitungan 5% Pak Tua, 5% kaki kanan dan kirinya serta 5% bagi 220 juta jiwa lainnya dari ujung sabang sampai tepi batas anak emas Belanda di Merauke.

Disini, kakiku membangunkan desir air yang langsung terlonjak dan tersenyum bulat karena geli terkena ujung jemari kaki. Aku menyambut senyumnya, sembari tangan menyisir rambut untuk meyakinkan keberadaan didalamnya bukan makhluk asing. Iya, setelah menempuh perjalanan 7 jam dengan ditemani pengemudi 10.000 jam terbang beserta garuda tak bernyawanya, terasa sungguh kedamaian ini mengetuk mataku agar tiada meneteskan liur atas girangnya hati memasuki padang keindahan beserta bulu-bulu lembutnya. Disini, dalam bening kaca karya Tuhan, udang-udang kecil berlari tersipu melewati kerling tarian cahaya senggama matahari dan bulir kuning, “Ah…aku ingat kembali 5% itu”, sesakku. Hingga gurauan genit udang-udang kecil yang mencoba menggodaku pun terlewati tanpa menjejakkan kesan di utak-utik-otakku yang serba ingin tahu kemuskilan muka para penjaja alam maha kaya ini.

Pohon-pohon tua memandangiku seraya memelas, seakan ingin mengatakan “Jual saja aku, tapi demi anak-anakku”. Ya, aku tahu keinginan kalian. Akan aku coba untuk mengatakan itu pada mereka. Mereka yang semakin tua semakin lupa dimana arti keindahan hutan berbau harum serta menggairahkan. “Pohon besarku yang tua, ijinkan aku memelukmu sebagai ganti pelukan untuk para pembebas berjiwa satria tanpa pernah menuntut”, pintaku. Tanpa menunggu jawab, rentang tanganku bergerak lebar memeluknya. Terasa kecil. Tak sebanding dengan kepahlawanan langkah Pahlawan yang selalu aku banggakan. Detak jantungmu sehangat pahlawan pengharum bangsa, sewangi burberry yang tercium di rambut panjang Kalimantan. Dimana… “Ah… kembali ada 5% disitu”, aku terisak.

Kicau suara merak memanggil mengajak kembali dalam atap kecil berhias panah dan menggandengku menuju tetua, “selamat datang kembali..”. Selanjutnya aku gauli dipan yang pernah membuatku lirih menulis.

“Nenek mau kemana…?” tanyaku.
“Nenek mau ke Jakarta nak, mau ngurus truk – truk yang kena masalah di Mabes Komdak”. sahutnya. Selanjutnya aku saksikan nenek itu memelukku, tanpa tangis, tanpa sedih, penuh ketegaran. Nemun meninggalkan pahatan sayat di dada, dengan bau mesiu serta letupan granat yang memekakkan telinga. Seketika desing peluru melintas tepat di depan mata mencolek bulu mataku. Aku berontak takut, berlari menghindari terjangan senapan berlaras panjang serta kejaran motor hijau. Tak terasa pelarianku disusul munculnya berragam muka semangat yang terpaksa menghindar. Kami berlarian tumpang tindih diikuti gamelan kaki tanpa sepatu dan batu yang selalu bersedia tanpa marah untuk diinjak. Pletak! Braak!!!. Kepalaku terantuk pelipis dipan yang menjadi teman tidurku.

Mimpi ini kembali datang untuk kedua kali, Nenek Poniyem yang pernah aku temui dalam perjalanan Tasik Malaya-Jakarta. Betapa berat menyandang nama pahlawan hidup, mungkin lebih mudah menjadi pahlawan mati. Nenek, usiamu mendekat 90. Seragammu ternyata tak mampu menyelamatkan kehidupanmu. Pahatanmu masih tersimpan di sekujur tubuh, juga hati dan benakku. Nenek dan Pohon tua, dunia kalian berbeda namun nasib menyamakannya. Dengan sekian banyak 5% yang menggunduli otak suci para pembantu rakyat, habis pulalah kekayaan Indonesia serta habislah penghormatan akan pahlawan Indonesia diluar jalur “keluarga”.

Papua, 2004.

2 COMMENTS

  1. seragam tak mampu menyelamatkan kehidupan 🙂

    nice quote 🙂 dengan itu bisa berlaku lebih bijak dalam hidup daripada sekedar membanggakan seragam yang sewaktu2 bisa dicopot 🙂

LEAVE A REPLY