Tahukah Kapan Kematianmu?

Tahukah Kapan Kematianmu?

532
1
SHARE

Tahukah Kapan Kematianmu?

Tuhan tak pernah memberitahuku, hingga saat ini aku pun belum mengerti harus bagaimana menghadapi kematian. Apakah nanti dengan ribuan harta yang tertinggal atau dengan ribuan doa yang mengawal?. Di dunia ini aku masih menimbun harta, bekerja keras mewujudkannya. Berbagai alasan aku lampirkan kepada tuhan di setiap doa, namun paling sering adalah saat aku meminta kekayaan agar aku bisa makin mudah beramal ibadah.

Sepuluh tahun lalu, tuhan menjadikan kekayaan baju yang megah ditubuhku. Perlahan aku tersenyum dan makin sayang dengan tuhan. Selalu ada puja puji menyebut namanya dalam setiap langkah yang aku lakukan. Aku menyadari betul bahwa tuhan selalu benar dengan kekuasaan dan ketuhanannya. Semakin gagah menyisir rambut hingga ujung kuku, karena tak lagi terkena debu atau asap kotor mobil lain.

Kehidupan indah menyaji seperti masakan ayam sayur lada hitam yang sering aku lahap di meja makan, masa dimana memakan sebungkus nasi menggunakan daun sudah sirna. Tentu dengan piring mahal yang melebihi mahalnya baju orang jalanan yang memeras keringat setiap hari, aku benar-benar hidup sehidup-hidupnya. Dengan sadar, aku mulai tidak lagi mau mengambil koin receh di dashboard mobil untuk polisi cepek yang sudah lelah mengatur perempatan.

Tidak ada lagi yang menyenangkan selain beramal hal-hal yang aku anggap besar dan dilihat orang banyak. Kebanggan menyeruak ke dalam hati hampir setiap detik saat banyak orang mengiyakan perkataan, mengelukan perbuatan hingga menyebarkan apa saja yang aku lakukan. Garis tebal antara kesombongan dan keikhlasan perlahan menipis, setipis kulit ari. Batasannya tidak lagi bisa aku rasakan seperti saat dulu aku ketakutan dan menagis karena dianggap sombong.

Seiring dengan perputaran waktu, keikhlasan perlahan pindah menyingkir dan duduk entah kemana. Dikalahkan oleh kesombongan yang kian terpupuk. Aku senang karena tuhan pasti senang dengan hambanya yang berhasil mengalahkan keterbatasan dunia, berkali-kali aku katakan kepada banyak orang bahwa sebuah kesalahan bila kita meninggal dalam kemiskinan.

Tahukah kamu kapan kematianmu?

Aku mulai melupakan ketakutan kematian itu, setidaknya karena anak-anakku tidak akan menjadi miskin setelah aku mati nanti. Dan karena anak adalah titipan tuhan, maka aku yakin tuhan pasti senang dengan caraku ini. Mungkin ini cara kematian yang paling benar, mungkin pula tuhan memang menginginkan semua manusianya sepertiku.

Saat ini aku duduk di kursi yang empuk berwarna putih, dan mungkin sudah saatnya aku pulang. Maka aku siapkan semua perlengkapan untuk aku bawa pulang ke rumah. Anak dan istriku pasti sudah menunggu dengan gembira. Segera aku turun dari ruangan dan menuju parkiran dimana mobil kesayangan berwarna hijau tua sudah menungguku. Ke enam pengawalku pun dengan sigap membuka pintu dan menjalankan mobil.

Di sela perempatan, banyak anak-anak pengamen dengan baju lusuh mendekati pintu. Segera mereka menyingkir melihat para pengawalku. Tepat di pertigaan sebelum masuk komplek perumahan, ada dua anak perempuan dan seorang ibu duduk seakan menunggu belas kasihan. Entah mengapa aku tergerak untuk menghampirinya. Aku siapkan beberapa lembar uang untuk memberi mereka. Dan saat aku merunduk, aku lihat wajah mereka. Aku terkesiap!

Wajah mereka, itu wajah cinta-cintaku. Istri dan anakku. Aku pegang tangan mereka, aku peluk mereka dan aku minta mereka untuk pulang. Tidak ada yang menjawab, mereka semua diam seribu bahasa. Aku bingung, teriakkan di dekat telinga pun tidak menggugah mereka untuk menengok. Guncangan dari tanganku pun tidak membuat mereka beranjak, bahkan istri lebih memilih menengok ke jalan dan meneteskan air mata.

Segera aku berlari ke rumah, akan aku ambil mainan anakku terkecil agar dia mau aku gendong dengan begitu ibunya akan mengikutinya. Aku kalut, banyaknya orang lewat tidak menyurutkan lariku. Hingga setibanya di rumah, aku hanya bisa berdiri bingung. Disitu ada banyak wajah asing keluar masuk di rumahku. Mereka bercanda bergembira di taman rumah, keluarga ini siapa?

Aku pun balik arah dan berlari kencang lagi menuju istri dan anak-anak. Ditempat yang tadi tidak ada lagi siapapun. Aku temui sebuah kertas yang terlihat ditulis oleh anakku yang besar.

“Papa, aku dan ibu juga adik sangat menyayangimu. Selamat jalan Papa. Semoga Tuhan memberi yang terbaik. Terimalah kebenaran Tuhan ya Papa. Suatu hari, kami juga akan menyusulmu kata ibu. Kami tidak punya apa-apa, karena mungkin Tuhan tidak mengijinkan kami mengelola harta hasil kesombonganmu”.

Bekasi, 2014.

SHARE
Previous articleDeskripsi Cinta
Next articleAku Kalah
Pak Tani. #SpongeBobAddict #BeautyIsBoring. Blog saya di www.kikasyafii.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY