Tukang Loak

Tukang Loak

532
0
SHARE

“Permisiiiiiii…mas…permisiiiiii….”
Aku langsung tergegas bangun tanpa cuci muka, melirik jam dinding.. Ahhh..masih pukul 9, berarti aku sudah 2 jam tidur lagi.
“Ada yang bisa aku bantu mas..” tanyaku.
“Itu buku-buku dijual nggak mas..” tanya orang ini yang ternyata bekerja sebagai pengumpul barang bekas alias tukang loak bukan pemulung.
“Waduh mas, mending kalau mas punya buku-buku saya saja yang beli..” jawabku.
“Lah kok..??” Mas loak malah jadi bingung.
“Iya, kalau Mas ada buku-buku bekas yang masih bagus biar saya saja yang beli…” jawabku.
“Buat aku kirim ke Taman Baca di Cianjur kok Mas, aku bukan pengepul hahaha…” tawaku sembari mencoba menjawab pertanyaan dari kernyit dahinya yang memandang tajam padaku.
“Ohhh…memang seperti apa sih mas itu Taman baca?, kayak perpustakaan begitu??” kembali dia bertanya.
“Sebentar, kenalin dulu saya Kika, njenengan??” sembari aku sodorkan tangan dan mengajaknya masuk ke ruang tamu.
“Prop, tolong dong bikinkan teh buat Mas ini, Mas siapa tadi?, kan belum sebutkan ke saya”, tanyaku sembari meminta pada temanku Edwin yang biasa aku panggil Propesor karena tipenya yang pemikir untuk membikinkan teh.
“Saya Mamat Mas”, dengan malu akhirnya menyebut nama.
Aku ambil beberapa rokok dengan masih berbungkus rapi yang memang selalu aku sediakan untuk orang-orang seperti Mas Mamat yang mampir ke gubukku. “Silahkan ambil dulu Mas rokoknya..” pintaku. Sebelum akhirnya aku lanjutkan pembicaraan seperti yang tadi.
“Jadi Taman Baca itu Mas, semacam perpustakaan untuk anak-anak putus sekolah atau tidak mampu. Karena akses mereka untuk mendapatkan buku tidak mudah, jadi ya biarlah buku mendatangi mereka..begitu Mas Mamat..”, ceritaku panjang.
Sembari menerima suguhan teh dari Edwin, Mas Mamat mulai menghisap rokoknya dalam-dalam. Tanda tanya besar dari gurat warna pertanyaan membahana siap digelontorkannya.
“Lah kalau saya Mas, bisa makan saja sudah bersyukur rasanya”, jawabnya. “Apalagi dengan mikirin begini kayak Mas Kika” sambungnya.
“Wah Mas, saya ini bukan apa-apa, hanya menjalankan kewajiban sebagai makhluk Tuhan saja. Setelah Sholat, Zakat dan lain-lain terpenuhi berarti waktunya berpikir ke yang lain Mas”, terangku.
“Saya pernah batalin berangkat haji gara-gara ketemu anak menangis buku-bukunya dijual sama ibunya ke tukang loak Mas. Dan saya juga tidak menyalahkan situasi ibunya” cerita saya.
“Jadi saya salah ya Mas begini ini?”, tanya Mas Mamat.
“Wah ga ada yang salah Mas, itu tugas anda sebagai pedagang”, buru-buru aku potong.
Setelah akhirnya ngobrol panjang, Mas Mamat meneruskan perjalanannya berburu buku dari rumah ke rumah. Dan aku kembali menjadi manusia Autis di depan komputer. Ngurusi Alurkria, ngurusi Taman Baca, ngurusi Diskusi Penyair dan tentunya tetap dagangan Website dengan sesekali melirik kekasih baruku si cantik fesbuk. Selagi enak-enaknya utak-atik photoshop mendesain web pesanan Mbak Nia Febriana, tiba-tiba ada ketukan lagi di pintu pagar.
“Permisiiiiiiiiiii…mas…ada buku-buku bekas nggak?” teriak seseorang langsung menodong persis rambo meneriaki pasukan afganistan yang bersembunyi di gua tanpa peduli ada orangnya apa tidak.
Aku julurkan kepalaku sembari senyum-senyum sendiri. “Iya Pak??”, tanyaku.
“Buku-bukunya di jual apa nggak Mas?” tanyanya.
Kembali seperti kejadian Mas Mamat, saya persilahkan masuk dan berbincang-bincang dulu dengan topik kurang lebih sama, sekitar 10 menit kemudian akhirnya Pak Mo keluar meneruskan perjalanannya.
Akhirnya kembali lagi saya menghadap ke depan komputer. Kembali meremas-remas kegiatan tanpa rutinitas yang tak pernah aku tahu kapan akan berakhir. Dan tiba-tiba datang lagi pengumpul loak mengetuk pintu pagar.
“Aha..ini sudah ketiga kalinya hehehee..” batinku tersenyum.
Dan kejadian sama dengan Mas Mamat dan Pak Mo pun berlangsung, namun ini lebih singkat karena tawaran teh dan rokok satu bungkus juga ditolaknya.
“Ya sudah, mungkin karena masih buru-buru”, aku mencoba menghibur diri.
Eh, belum juga 5 menit aku duduk sudah datang lagi yang lain, jadi curiga diriku ini melihat dua kejadian hampir sama dengan waktu berdekatan. tapi coba kesampingkan dulu, dan aku pun menemuinya. Hampir sama persis dengan yang sebelumnya hanya berselang 5 menit sudah langsung “terima kasih mas”, tapi kali ini rokoknya diterima..
Dan berlangsunglah kejadian ini selama 5 kali, hingga 5 kali pula aku harus bolak balik duduk kembali di bangku merah yang tidak pernah menjerit aku duduki dengan keras-keras.

Hari berlalu, malam pun mengganti jubahnya menjadi pagi. Jam 7 pagi yang seakan menjadi awal kerinduan setiap harinya. Menyeduh Teh, mengambil batangan rokok dan menghidupkan musik keras-keras punyanya Grup Band “Extreme” favoritku, kemudian ambil bukunya nietze. Menikmati hidup.

“Assalamu alaikum Mas Kika”,
“Wa alaikum salam..woyy Mas Mamat, apa kabar?” bergegas aku membuka pagar.
“Saya sebentar saja kok Mas, mau nitip buku buat anak-anak Taman Baca”, katanya.
“Loh Mas Mamat ga usah repot, saya beli saja”, jawabku buru-buru.
“Nggak bisa mas, saya sudah putuskan untuk menyumbangkan buku-buku yang saya beli setiap saya sudah membeli buku sebanyak 10 kali”, ujarnya pelan tapi mantap.
“Aduuuuuh..mas Mamat beneran nih?”, aku coba meyakinkan.
“Beneran mas, saya sudah diskusi semalam sama istri saya, istri saya mengatakan agar saya tidak jadi orang jahat yang mengambil buku-buku dari anak-anak yang seharusnya bisa menikmatinya”, cerita mas Mamat panjang.
“Dan ini buku-bukunya mas, seadanya dari kami sekeluarga”, penuh senyum ikhlas dimatanya.
Aku peluk mas Mamat, tiada bandingan rasanya keihlasan mas Mamat dimataku. Sembari aku berujar, “mas Mamat, saya akan selalu bilang ke anak-anak di Taman Baca untuk mendoakan dirimu dan sekeluarga disetiap ibadahnya”.

Setelah mas Mamat pergi, aku berpikir keras apa yang bisa aku lakukan untuknya, bilamana dia seorang pebisnis, mungkin dengan mudah aku bisa menggantinya dengan membuatkan website. Tapi ini…susah sekali menjawabnya. Baginya uang 5000 sudah merupakan kekayaan, baginya makan dengan lauk ayam sudah merupakan kemewahan. Namun dengan ikhlas dia membantu menyumbang buku-buku hasil perjuangannya memutari setiap rumah.

Depok, 2009

SHARE
Previous articleBunuh Saja
Next articleRindu Kering
Pak Tani. #SpongeBobAddict #BeautyIsBoring. Blog saya di www.kikasyafii.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY