Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian I)

Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian I)

656
1
SHARE

“Ayah, buku apa itu?”, tanya Joko. “Kamu harus simpan buku ini baik-baik, jangan sampai siapapun tahu…”, bisik ayah Joko. Seminggu kemudian Ayahnya mati tertembus peluru. Joko masih tak tahu apa yang terjadi, sampai saat usianya beranjak dewasa dan ditangannya tergenggam buku pemberian ayahnya. Tertulis disitu pengarangnya “Pramoedya……..”.

Darahnya bergejolak, jaman kebebasan berpendapat ternyata belum benar dilalui oleh ayahnya hingga sekarang. Dibukanya kembali kamar ayah ibunya yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi, dari bawah ranjang hingga atas lemari dicarinya sesuatu yang Joko sendiri tak tahu apa itu. Tanpa lelah terus dicarinya, bongkar sana bongkar sini. Sampai akhirnya duduk bersandar lemari di dekat ranjang, sesaat Joko menarik nafas panjang dan tidak dirasakannya kelelahan. “Pluk….” tiba-tiba didepannya jatuh segulungan kertas, secepatnya Joko membukanya. “Kudeta Soeharto pada….” Judul gulungan kertas yang langsung dilihatnya.

Joko berlari cepat meninggalkan kamar orang tuanya. Digenggamnya erat gulungan kertas kumal itu, dia berlari menuju pusat kota dimana ada bangunan tua peninggalan belanda bertuliskan Perpustakaan. Sepertinya dia tahu benar apa yang dicarinya, matanya memandang lurus menyilang ruangan perpustakaan. “Iya disana, aku pernah membacanya disana…”, bisik Joko. Bergegaslah dia menuju arah pandang matanya, “disini iya disini… Seharusnya disini, aku yakin ada disini..dulu disini”, matanya tiada henti melihat beberapa sab buku yang pernah tak sengaja kena senggol olehnya.

“Ya, seharusnya ada disini… disini..”, mata Joko masih terus mencari-cari sembari mulut tak berhenti berdesis dan tangan menggeser-geser susunan buku yang ada dengan cepat. “kenapa bisa tidak kelihatan ya, kemana ya….”, tangan Joko sedikit demi sedikit mulai gemetar mengikuti kalut pikirannya. Sampai di bagian bawah, dibongkarnya beberapa sab buku yang sudah terlihat usang dan tua. “Seharusnya disini…”, Harap Joko tiada berhenti, keringat mulai menetes dan tak peduli dengan suasana Perpustakaan yang semakin sepi. Terus saja matanya mencari dari buku-buku usang yang berdiri sejajar, ditengokkannya kepala ke samping kanan… “Sedang apa disini!”, spontan Joko berbalik badan karena kaget dan ayunan tangannya menyambar beberapa sab buku hingga berjatuhan menimpa kakinya.

Sebuah wajah dengan perawakan kurus berusia 40an tahun dan kulit coklat menghitam tanpa senyum menatap erat Joko, penjaga perpustakaan!!. “Apa yang kau cari hingga membongkar buku-buku itu?”, tetap dengan tanpa senyum dan juga tanpa melepas pandangan mata ke arah kedua tangan Joko. Sejenak Joko bingung harus berkata apa, dalam benaknya berkecamuk pikiran. “Apa yang mesti aku katakan, sedang aku sendiri bingung dengan judul buku yang aku cari..”, batin Joko terus berdialog. Makin gemetar dia mendapat pandangan tajam dari penjaga perpustakaan ini. “Ini.. ini saya.. sedang mencoba mencari buku..”, tertatih Joko berusaha menjawab. “Buku apa?!”, kembali pertanyaan yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Joko terucap dari penjaga perpustakaan. “Pramoedya..!”, tiba-tiba Joko mengucapkannya dengan lantang. Seketika tangan penjaga perpustakaan langsung menarik tangan kiri Joko dengan kasar, beberapa buku langsung ikut berhamburan jatuh terkena tarikan tangan kanan Joko yang berusaha menahan agar tidak ikut terbawa oleh tarikan kasar penjaga Perpustakaan.

Terlambat sudah usaha Joko untuk bertahan dan tidak ikut terbawa, namun sembari tetap mencoba bertahan Joko mengikuti arah jalan penjaga perpustakaan yang seakan sangat kuat dan tak ingin melepasnya. Melewati beberapa lorong bangunan perpustakaan yang mulai melepuh kulit dindingnya, tidak jelas terlihat apa warna sebenarnya dinding itu. Beberapa kali Joko mengaduh karena kakinya terantuk meja atau tumpukan buku yang dilewati oleh mereka. Penjaga perpustakaan yang sudah hapal tentu dengan mudah melalui semua lorong, berbeda dengan Joko yang harus tetap mempertahankan matanya melihat ke bawah.

Tak berapa lama, Joko dibawa masuk ke sebuah ruangan gelap yang pengap dan terasa kalau tempat ini sudah lama sekali tidak ada yang memakainya. Namun meja dan beberapa rak buku masih tertata rapi berselimut sarang laba-laba nan tebal. Seperti melempar, tangan penjaga perpustakaan menarik keras dan melepas Joko yang menabrak dinding. Dalam keadaan remang-remang Joko mencoba mengamati arah gerak mata penjaga perpustakaan tersebut. Di cobanya melihat agar lebih jelas dengan memicingkan matanya keras-keras, dan hanya kerah baju yang terlihat oleh matanya.

Bersambung.

Novel Sulang dari Timur.

1 COMMENT

  1. […] mengukir air dan akan terus aku lakukan seperti juga aku lukis sebuah nama dengan tetes hujan di jendela kaca meski tak juga aku temukan wajah terus dan terus berjalan berharap yang aku lakukan bisa mempengaruhimu bila tak juga mampu aku akan menjadi batu yang membelah arus derasmu […]

LEAVE A REPLY