Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian II)

Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian II)

617
0
SHARE

Joko mendadak berhenti menulis, sebuah tulisan yang selama ini menjadi percakapan di dalam otaknya. Terlihat Joko lebih memilih untuk menyalakan lilin dan mematikan listrik dikamarnya. Naskah itu dibiarkannya menggeletak dan berserakan. Naskah fiksi yang selama ini selalu berbincang dan bercakap-cakap diluar kemauannya.

“Besok hari terakhirku dirumah,rasanya berat meninggalkan kamar ini”,bisik joko kepada lilin yang menemaninya. Api diujung lilin bergoyang, seakan ikut mengiyakan bisik Joko. Dua puluh dua tahun yang lalu, Joko pindah di kota kabupaten kecil ini berlima dengan ayahnya yang seorang pegawai negeri. Ayahnya baru saja menduda, karena ibunda Joko yang telah diperkenankan pergi menemui Tuhan.

Teringat ketika dirinya dituntun oleh Buleknya untuk melihat sesosok tubuh yang tertidur diatas sebuah dipan dengan balutan kain putih sekujur tubuh dan hidung tertutup kapas putih bersih. “Itu ibu dik, lihatlah beliau tersenyum… Cantik sekali”, ucap buleknya memeluk joko sembari menangis sesenggukan. Dia yang tidak tahu, hanya diam. Diputarkannya pandangan mata ke sekeliling ruangan, semua orang berdoa, ayah terlihat sibuk menemui tamu dan kakak perempuannya terlihat sesenggukan di sudut ruangan begitu melihat tatap mata Joko. Dua kakak laki-lakinya terlihat menempel di pelukan Buleknya yang lain. “Ada apa ini Bulek?”, tanya Joko. Hanya dekapan yang dia terima. Makin erat dan kuat, dia semakin tidak tahu. Tak berapa lama tubuh ibunya diangkat beramai-ramai oleh saudara-saudara dan tetangganya.

“Ikuuuuuuuuttt….”, joko tiba-tiba berteriak. “Ibu mau kemanaaaa….”, seketika buleknya yang lain memeluknya dan mengangkat tubuh kecil Joko ke ruangan lain. Dibawanya dia ke ruangan pesantren yang ada dibelakang rumah kakek nenek Joko. Dia menangis keras, bersikeras untuk ikut kemana ibunya mau dibawa. Buleknya tak kuasa lagi untuk tidak menangis, Joko semakin tidak mengerti. Dia merasa gelisah karena ada sesuatu yang tidak diperbolehkan untuknya tahu. “Bulek, ibu mau kemana?, kok aku tidak diajak? Biasanya ibu selalu mengajak aku kalau pergi…”, dipukuli buleknya yang masih terus mendekap tubuhnya. Joko masih terus berteriak dan memanggil ibunya untuk ikut. Berkali-kali dan menangis hingga akhirnya dia kelelahan, tertidur.

——————-

Bayangan kejadian itu masih membekas dipikirannya hingga sekarang. Hari ini di bulan agustus, Ayahnya pergi menyusul ibunya. Dan kembali Joko memasuki fase ketidakmengertian. Dua hari yang lalu ayahnya sudah dikuburkan, sementara dia masih berada di Jogjakarta. Joko menyesali sikap temannya yang tidak langsung menuju kerumahnya ketika dia pulang ke kampung. Waktu itu Dadang akan pulang dan dia titip agar dikabarkan ke ayahnya kalau dirinya baik-baik saja di Jogjakarta. Sebelumnya Joko sudah merasa ada sesuatu yang membuatnya dia menitip pesan kepada Dadang. Sayangnya Dadang datang ke rumahnya sehari setelah ayahnya dikuburkan. Hingga kabar yang datang kepadanya pun terlambat. Tapi semua itu ditepiskan olehnya. Dadang dan keluarganya sudah seperti rumah kedua baginya. Darimana pun dia pulang, dia selalu menyempatkan untuk datang ke rumah Dadang, sekedar menyapa ayah dan ibunda Dadang.

“Sebentar lagi aku berangkat”, gumam Joko sembari mematikan lilin dan kembali menyalakan lampu kamarnya. Perbekalan yang sedikit memudahkannya untuk bersiap-siap. Semua saudaranya sudah tahu akan rencananya ini, dan karena Joko sudah terbiasa bepergian jauh maka saudaranya juga tidak ada yang melarang. Hanya sedikit pesan-pesan untuk tetap berhati-hati dan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Tak berapa lama, dia sudah sampai di pojok kantor Telkom tempatnya biasa nongkrong bila sore hari.

Bersambung

(Novel Sulang Dari Timur)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY