Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian III)

Sulang dari Timur, Membuka Pintu (Bagian III)

491
0
SHARE

“Temukan jalanmu sendiri nak, disana akan ada banyak lubang entah kering maupun berair yang siap menangkap, memeluk dan mengasah ketajamanmu untuk keluar dari semua rintangan”. Ucap Pak Bardi tukang becak yang menemaniku menunggu bis untuk berangkat ke Jakarta.

Ketika itu mata Pak Bardi menerawang jauh ke atas sembari mengepulkan asap dari kretek putih yang terselip di tangan kokoh berurat namun menampakkan uzurnya. Pak Bardi adalah salah satu teman mainku setiap sore hari, dia tak banyak bicara dan cekatan dalam membantu orang. Beliau pulalah yang pertama kali membangunkan dan memapahku berdiri kembali ketika tanpa sengaja sebuah mobil minibus menabrakku keras dari arah timur.

Aku yang terburu-buru menyeberang ke tempat kerja agar bisa mendapatkan insentif untuk liburan nanti, aku yang berencana naik gunung di daerah Purwokerto dan terkenal angker itu. Akhirnya hanya mendapati tubuhku duduk-duduk di depan teras di kemudian hari tanpa bisa menikmati hasil kerja keras.

Pak Bardi pulalah yang dengan tegas menyuruhku menolak untuk memanfaatkan kejadian itu agar mendapatkan uang ganti rugi dari penabrakku, seorang tionghoa tua yang keluar dari mobil. Dan menyuruh mereka segera pergi sebelum Polisi datang. Dikarenakan jarak kantor Polisi dan kejadian ini tidak sampai 100 meter.

Malam ini Pak Bardi seperti membayangkan sesuatu. Aku dengar anaknya pun ada yang di Jakarta dan berhasil. Namun aku tak berani menanyakannya. Takut salah menghantuiku. Bisa jadi Pak Bardi sedang membayangkan anaknya dan menyamakannya denganku. Karena terlihat pelan dan perlahan dibalik kokoh tangannya, ada sesuatu yang bergetar di pundaknya. Pak Bardi yang berjanji membantuku menghentikan Bis jurusan Jogjakarta – Jakarta, malah beberapa kali melewatkannya.

Sejenak aku sendiri bingung, bagaimana meminta kepadanya untuk segera menghentikan Bis-Bis yang melaju kencang dengan sesekali menyorotkan lampu jauhnya. Dan waktu semakin larut, semakin takut bagiku kehabisan Bis Malam yang menuju Jakarta. Di jalan raya pantai utara yang terkenal rame ini, semakin sepi dan ngelangut.

Tiba-tiba Pak Bardi menolehku dan tersenyum, “Berangkatlah nak, aku yakin kamu akan berhasil. Kamu bisa, karena kamu lebih mudah bergaul daripada anakku. Pulanglah setiap kali ada kesempatan, aku tetap mangkal di sudut kantor Telkom situ dan kunjungi aku sesekali ya…, jangan lupa bawakan kretek kesukaanku”. Sederak roda Pak Bardi sudah tertawa sembari melambai-lambaikan tangan untuk mencegat Bis-Bis Malam yang semakin kehilangan kesopanannya. Tak berapa lama, aku sudah tertidur di dalam bis malam dengan tujuan Jakarta dan akan berakhir di Bogor.

Bersambung

Novel Sulang Dari Timur

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY