Dusun Senja

Dusun Senja

432
0
SHARE

Matahari menahan kantuknya,
waktunya berjaga sudah habis,
sembari menunggu persiapan sang bulan,
dia tersenyum memandangi bumi,
Ekspresiku mulai mengernyit,
“kembali sore”, bisikku,
tiba untukku menemui matahariku,
menjadi pemantik dan menyalakannya,

Demi senja yang senantiasa menjemput,
degup jantungku selalu mengguncang,
pasti ku temui sambutan gairah,
candaan bising mengasyikkan,
mengikis letih menambah senang,
ragu aku untuk merasuk lebih panjang,
karena cinta terdalamku memanggil,
gemanya datang menyambut sang bulan,

Setelahnya aku terduduk menyambut,
bukan saat tepat aku merutuk,
nikmat ini bukan tiada dua,
namun cukup bagiku, sangat cukup,
Aku coba pilin hasil hariku,
“Syukurlah, tiada noda tersisip”,
Tidak akan pernah aku nyalakan cahayaku,
dengan sesisip hitam dalam rongganya,

Keremangan dusun senjaku,
menggelitik senyawa tabu ditelinga,
diiringi percintaan sejati bulan bintang,
aku tepis pena menyambut malam,
Ingin aku ambil kanvas melukis detik ini,
temaram adalah benih,
awal segala hitam dan putih,
karenanya, surgapun lebih dekat.

Depok, 2009

SHARE
Previous articleDi Pagi Hari
Next articlePitak Sapi
Pak Tani. #SpongeBobAddict #BeautyIsBoring. Blog saya di www.kikasyafii.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY