Teras

Teras

570
1
SHARE

Disini di teras waktu yang masih terus berputar, yang tiada berhenti untuk meninggalkan tulang-belulang hidup dimana didalamnya terselip picing pandangan akan kehidupan sosial yang semakin hari semakin menimpang. Duduk dengan pantat tiada menentu untuk menetap, entah dimana sebenarnya pantatku layak berada. Tangan dan kakiku kaku layaknya Patung Sudirman yang hanya diperingati untuk perayaan saja tanpa mengerti jejak langkahnya.

Aku tengadahi langit, mencari selarik benang merah yang “mungkin” menghubungkan satu manusia ke manusia lainnya. Barangkali pula, bisa aku temukan benang yang sewarna denganku hingga akhirnya bisa saling mengikat bahkan melibat. Ahh… Betapa rumitnya menemukan simpul berwarna yang menarik perhatian dan bisa membuatku mati didalamnya. Pernah aku memakai cat warna untuk memoles benang yang tertangkap tangan, namun lama kelamaan warna itu memudar selayaknya cat yang terkena minyak tanah. Pernah juga suatu ketika, aku menangkap paksa satu warna untuk membuatnya berubah dan menjadi sepertiku, namun sabetan kulitku tergores karenanya. Seketika aku lari, aku kembali lari untuk mencari lagi hingga tanpa terasa aku sudah berlarian sedikit menjauh dari pikiran.

Kembali aku mencari tempat duduk, tiada peduli berselimut permadani atau tidak namun terpenting aku dapati kenyamanan. Sudut kenyamanan yang tidak mempunyai bentuk serta presisi tertentu namun selalu membuat manusia sanggup untuk membunuh dengan menanggalkan sifat ketuhanannya.

Depok, 2010

1 COMMENT

LEAVE A REPLY