Tuhan, Ijinkan Aku Mencintaimu

Tuhan, Ijinkan Aku Mencintaimu

1201
1
SHARE
logo berbagi puisi emas

Aku yang tak lagi ingat beberapa tahun yang lalu, seperti apa sebenarnya gelap rahim ibu yang melahirkanku. Hanya ingin melayangkan bebas pikiran yang senantiasa menemani hari-hariku, dimulai manakala aku bangun pagi. Tanpa menganiaya tubuh yang kau ciptakan atau mencabut lebih cepat nyawa ini. Tentu saja, aku tak punya hak atas semua yang menjadi ciptaanmu ini. Hanya berkewajiban menjaga seperti perintahmu.

Aku juga yakin, mudah bagimu untuk menciptakan orang yang sama dan tiada beda sepertiku. Dari situlah, wajar kiranya kalau aku katakan bahwa “aku ciptaanmu” yang spesial. Terbukti tak satupun makhluk yang sama identik di dunia ini. Begitu juga akan hal yang bernama keindahan atau bahagia. Beberapa tetangga bahkan masih saja meributkan semua itu, sesuatu yang sebenarnya sudah engkau ciptakan dalam semua benak kepala masing-masing yaitu otak. Juga masih saja ada yang memperebutkan kedudukan disampingmu. Berlomba-lomba berusaha merayumu dengan segala tingkah laku duniawi yang kadang tidak masuk akal. Bahkan ada yang berusaha menempati posisimu. Kalau memang manusia adalah tuhan itu sendiri, kenapa manusia tak bisa menangkap meniupkan ruh?.

Dulu sewaktu kecil, ketika aku duduk di pangkuan bapak. Selalu aku tanyakan, kenapa harus ada yang berkelahi? Demi memperebutkan beberapa butir beras dan kertas bergambar manusia?. Dikatakan pula bahwa di Indonesia ini ada pasal yang menyebutkan “ketuhanan yang maha esa”. Kenapa pula mesti memperebutkan tuhan yang sudah jelas satu. Ataukah pelajaran di kelas-kelas itu adalah pencipta tuhan-tuhan lain? Ataukah hanya sebuah tuah yang membuat manusia menjadi berbesar rasa hingga menciptakan tuhan sendiri-sendiri?. “Anakku, manusia ada di dunia karena tuhan butuh mainan”, begitu kata bapak.

Maka dari itu, ijinkan aku mencintaimu tuhan. Ijinkan aku mencintaimu seperti keindahan syair yang dituliskan para penyair. Menyenangimu seperti senangnya seorang filsuf yang bermain filosofi. Dan bermain bersama kesulitan dunia ini seperti anak-anak yang mendapatkan mainan barunya. Kamu tahu tuhan, namamulah yang selalu menjadi gema dalam nyanyian hatiku. Jantungku melompat kesana kemari setiap kali menyebutmu.

Ijinkan aku mencintaimu tuhan.

Depok, 2010.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY