Tuhan, Ijinkan Aku Mencintaimu (II)

Tuhan, Ijinkan Aku Mencintaimu (II)

464
0
SHARE
logo berbagi puisi emas

Aku masih tak tahu apa yang disepakati oleh Bapak dan Ibuku ketika bercinta hingga Ibu mengandung diriku. Setelah perlahan selama 9 bulan 10 hari kemudian, aku menangis terlahir di Dunia. Aku pun masih tak tahu apa yang sudah aku ketahui hingga menangis karena terlahir. Yang pasti kata kakakku, aku selalu diam dan tenang ketika berada dalam dekapan Ibu. Entah apa pula yang aku sepakati dengan Tuhan. Perjanjian apa yang sudah aku tuliskan dihadapan Tuhan agar aku terlahir.

Aku dihidupkan dan lahir, yang menurut buku berasal dari segenggam tanah. Betapa maha kuasa dirimu yaa tuhan, entah proses seperti apa yang dilalui hingga akhirnya aku bisa merasa, melihat bahkan bergembira. Melewati itu semua, kau selipkan teka-teki atas kehidupan yang harus dilalui. Aku hanya bisa berusaha dan berusaha. Berusaha mengenalmu, berusaha mengerti akan keindahanmu hingga berusaha memahami untuk apa aku hidup. Dan pesanmu terselip agar aku siap untuk hidup di kehidupan setelah mati.

Seperti itukah perjanjian yang engkau inginkan? Apakah mungkin semua ini hanya gara-gara kesalahan adam? Tidak, aku tidak melihatnya. Adam mungkin bagian dari alasanmu untuk menciptakan dunia ini, kemungkinan engkau sudah merencanakannya. Namun apakah pertikaian atas namamu juga bagian dari rencanamu? Bila memang iya, jadikanlah aku manusia yang penuh kasih, selalu menyayangi manusia lain ciptaanmu, agar terhindar dari ilusi setan yang mengatasnamakan namamu.

Harus aku akui Tuhan, dengan kehidupan yang simpel dan sederhana yang kau tiupkan dari sucinya ruh. Berkali-kali aku kotori semua ini dengan persahabatanku bersama setan. Bagaimanapun Tuhan, pesta dengan setan ini sungguh menggiurkan. Tak ada satupun janji setan yang tidak nikmat saat itu juga, berbeda denganmu ya Tuhan. Engkau menjanjikan surga, yang harus aku kejar tiada henti.

Aku tidak menentangmu ya Tuhan, apa sih yang bisa aku tolak dari pemberianmu. Aku percaya betul engkau ada disisi urat leherku. Betapa dekat dengan nafasku. Tapi hanya satu lagi permintaanku tuhan, ijinkan aku menciptajan keindahan yang aku minta setiap doa malam itu. Biarkan aku menuruti banyaknya aturan yang engkau ciptakan lewat nabimu yang besar itu. Dan aku bisa siap untuk mati lagi.

Tuhan, ijinkan aku mencintaimu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY