Puisiku Satire Peraturan

Puisiku Satire Peraturan

915
0
SHARE

Bertanya aku pada bocah-bocah jalanan pagi hari, apa itu peraturan?
Dengan santai dan lagak lugu mereka menjawab tanpa ada gurat kebingungan dikeningnya. Peraturan itu tak ubah seperti layang-layang. Diulur atau ditarik, dipenyap atau dibiar terbang, tergantung taktik dan strategi pemegang benang.
Hah?… keningku mengkerut, jawabanya menghentak otakku untuk berpikir memaknai ucapan itu. Sungguh… aku benar-benar gagu, tak begitu paham dengan pengertiannya.

Dalam asa mencari ketidaktahuan, dengan semangat, kuayunkan kaki menyusuri teriknya mentari siang. Hingga waktu menghantar bertemu dengan seorang dalang. Tanpa segan kukeluarkan sebuah tanya yang sama. Apa itu peraturan?
Dengan khas gaya bicaranya, dia menjawab: peraturan itu adalah boneka wayang. Dimainkan atau dimatikan; terserah!. Sesuai suasana hatiku sebagai sang dalangnya.

__Aih…
__Ah…
__Pttttt
Kembali bingung bertumpuk di alam pikiran.
Memaknai jawaban yang seolah-olah menerjang badan.
Hingga kuhardik jawaban itu dengan label tidak memuaskan.

Capai rasanya mencari jawaban dari sebuah tanya, hingga malam turun menyelimuti dan membimbing raga menapaki alam tidur. Lalu, sejenak aku menidurkan diri bersamanya keheningan.
“Oh…HuSttttt… Penuh harapku, mimpi pertemukan aku dengan arti pasti dari peraturan.

Bersama selaksa rinai hujan
Malaikat tuntun aku ke dunia mimpi
Mempertemukan aku pada rumah peraturan
Yang di dindingnya tertulis berbagai macam jawaban
Ya… Begitu jawab yang penuh ragam

Di muka pintu
Dinding pertama
Tertulis tulisan yang aneh
Namun sesuai dengan jawaban bocah-bocah jalanan dan sang dalang tadi.

_: “Peraturan adalah teka-teki,
artinya tak pasti,
tergantung situasi dan kondisi”

_: “Peraturan adalah puisi,
penuh dengan kesamaran makna bahasa,
penulis dan pembaca punya cara beda menilainya”

Ya Ilah, Ilahi Maha Kuasa atas segala kasih
Sungguh tiada yang sia-sia dari jawaban tadi
Aku sadar
Aku tersentak bangun dari mimpi pendek itu.
Hingga meriau tanyaku,
Tuan, Puan.. Apakah peraturan di NKRI seperti itu?
Atau bahkan lebih aneh?

__: Aih… Entahlah!

==O.o.O==
Bengkulu, Maret 2014
[LEP] – #PenaIlusi
IDFAM2015M

ILUSTRASI disini

SHARE
Previous articleYour Call
Next articleAku Menyetubuhi Puisiku
a.k.a Pena Ilusi - Writer - Founder & CEO of @bukutang - Penulis Buku Membungkam Priayi! "Guratan Impian dan Pembuktian Pena Ilusi" (Penerbit Pena Nusantara, Mei 2014), Romantika Cinta: Selaksa Bahasa Asmara (Penerbit Alif Gemilang Pressindo, Juli 2014) - terkutuklah semua yang ada dibumi, termasuk dirimu yang membaca diriku :)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY