Senandung Pohon Tua

Senandung Pohon Tua

920
0
SHARE

telah puluhan ribu tahun

aku tegak kokoh hadir di sini

telah gugur pula beribu helai daun

dari ranting-rantingku ke wajah bumi ini

tetapi tak ada yang kutangisi

karena kutahu, tiada yang pernah lenyap

setelah semua dicerna diolah oleh rahang bumi

sari-sari mereka oleh akarku akan kembali diserap

 

namun sekarang,

semenjak kota kian gemerlipan

udara berserbuk racun berpercik biji api

di hadapanku dibangun jalan aspal berkilapan

dan di belakangku trotoar besar untuk pejalan kaki

 

maka sedari itu jualah hadir rapatan perih atas deritaku

menyaksikan daun-daunku menguning gugur begitu saja

hanya untuk singgah berbaring sia-sia dan tersiksa di depan mataku

lalu mengering dan mengerang putus asa karena tak kunjung hancur

 

kadang ada yang diinjak dilindas karena merasa tak berguna

kadang pula oleh angin disapu di bawa semaunya; kemana-mana

namun yang paling sakit, menyaksikan dedaunku ditumpuk-tumpuk lalu dibakar

dalam bak sampah yang masih dibawah naungan bayang-bayang rindangku

_: Aih.. mengerutlah sekujur tubuhku bisu dan kaku

hingga akar-akarku ringkih berdenyutan menggeletar

 

kulihat tanpa daya mereka dikerkah taring api yang berkobar

dan kudengar tanpa daya keluh terakhir mereka menyayup sendu

hingga akhirnya tuntas mengabu lalu musnah tersebar

sayatnya lebih tajam dari tetakan mata kapak beribu-ribu!

 

==O.o.O==
Bengkulu, 20 Maret 2014
[LEP] – #PenaIlusi
IDFAM2015M

BACA JUGA : Tembang Iba Rimba Raya
Sumber Gambar : DISINI

SHARE
Previous articleYang telah kau tanam di dadaku
Next articleAngkasa Cinta
a.k.a Pena Ilusi - Writer - Founder & CEO of @bukutang - Penulis Buku Membungkam Priayi! "Guratan Impian dan Pembuktian Pena Ilusi" (Penerbit Pena Nusantara, Mei 2014), Romantika Cinta: Selaksa Bahasa Asmara (Penerbit Alif Gemilang Pressindo, Juli 2014) - terkutuklah semua yang ada dibumi, termasuk dirimu yang membaca diriku :)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY