Your Call

Your Call

583
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

 Secangkir kopi hitam pekat dan kenangan manis yang melekat.

Kututup rapat jendela kamarku yang mengarah ke ufuk barat tempat matahari meneggelamkan dirinya setiap hari. Merah-jingganya menyapu kerajaan langit yang cukup mendung. Perlahan, kristal-kristal kecil itu mulai turun dari langit dan mengecup bumi. Melodi hujan pun mempermainkan pikiran dan perasaanku seketika. Hujan, kopi dan senja. Siapa lagi yang menyukai semua itu kalau bukan dia? Laki-laki menyebalkan yang membuatku tersungkur dalam kubangan cintanya.

Kulirik secangkir kopi hangat yang kuletakkan di depanku. Kopi itu mengepul-ngepulkan asapnya ke udara. Aroma pahitnya menyatu dengan wangi tanah yang tersiram hujan. Jujur, aku menyukai perpaduan kedua aroma itu. Dan senja hari ini, lagi-lagi aku melanggar janjiku untuk tidak menyentuh kopi. Aku melanggar janji itu karena aku ingin mencumbui rinduku yang terus kutahan sendirian. Aku merindukannya, semua yang ada di dirinya. Aku rindu caranya memarahiku, aku rindu caranya melihatku, aku rindu caranya memanggilku, aku rindu suaranya…

Kuseruput dengan liar kopiku. “Aww!” pekikku kaget saat merasa lidahku terbakar. Lagi dan lagi, aku melakukan kesalahan yang sama. Berulang kali ia sudah mengajarkanku bagaimana caranya meminum kopi dengan baik dan benar. Ia selalu mengingatkan,

“Minum kopi itu pelan-pelan, dinikmati tiap tegukannya. Diseruput seperti ini supaya lidahmu nggak terbakar dan rasa pahitnya nggak terlalu terasa.” Aku menganggukkan kepalaku sebagai pengganti ucapan ‘aku mengerti’. Tapi, kurasa aku terus melakukan kesalahan itu agar aku mendapatkan perhatian darinya setiap saat aku meminum kopi. Iya, aku ingin diperhatikannya seperti aku selalu memperhatikannya.

Handphone-ku berdering. Sungguh, belakangan ini aku enggan melihat nama siapa yang muncul di layar handphone itu. Karena setiap aku bersemangat meraihnya, kekecewaan menyambutku setelahnya. Saat ini, aku tidak ingin membaca ada nama lain yang muncul kecuali namanya dan aku tidak ingin mendengarkan suara lain selain suaranya. Tapi, handphone sialan itu terus berteriak memanggilku untuk mengangkatnya atau paling tidak membuatnya berhenti meraung dengan cara membatingnya hingga berkeping. Akhirnya, aku mengalah. Kulangkahkan kakiku dengan malas menuju meja belajar tempat handphone itu kuletakkan. Tuhan mendengarkan permohonan yang kupanjatkan pada senja hari ini. Bukan orang lain, itu dia, ‘Melodi Hujan’-ku.

“Jack!” Pekikku bahagia mendengar suara ‘halo’ dari seberang sana.

“Chloe?”

Gosh! Aku rindu dipanggil olehnya!

“Iya. Ini aku, Jack. Ada apa?”

“Maaf, ya, aku harus meninggalkan kamu lagi.”

Oh, come on, Jack! Kamu selalu begitu. Pergi dan kembali sesuka hatimu. Aku bosan seperti ini terus!” kusadari nada suaraku mulai berubah. Aku terdengar rapuh dan bergetar. Aku takut Jack pergi lagi.

“Chloe, aku minta maaf. Ini darurat dan aku harus benar-benar pergi kali ini. Kamu juga tahu, kan, ke mana aku akan pergi?”

“Nggak! Aku nggak tahu dan aku nggak mau tahu ke mana pun kamu akan pergi! Aku mau ikut atau kamu nggak boleh pergi sama sekali!” itu hanya ancaman pura-pura. Atau katakan saja aku ingin Jack tahu bahwa aku benar-benar tidak ingin ditinggalkan dia.

“Chloe, kamu nggak boleh ikut. Belum saatnya kamu ikut!”

“Kalau begitu kamu jangan pergi. Kumohon Jack. Aku nggak mau ditinggal lagi. Aku tersiksa kalau harus menahan rindu setiap hari!”

“Aku tahu, Chloe. Aku juga nggak mau pergi. Tapi aku harus pergi. Baiklah, aku akan memberikan satu hadiah untuk perpisahan kecil ini.” 

“Apa hadiahnya?” tanyaku sambil berharap ia akan menyanyikan lagu kenangan kami. Lagu pertama yang kami dengarkan saat kencan pertama dan lagu yang selalu kudengarkan saat aku merindukannya.

Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry

Call I’m desperate for your voice

I’m listening to the song we used to sing

In the car, do you remember, butterfly, early summer?

It’s playing on repeat, just like when we would meet

Like when we would meet…”

Halilintar menderum dan menggelegar. Aku kaget dan menjatuhkan handphone yang dari tadi kutempelkan tepat di depan rongga telingaku. Secepatnya kuraih handphone sialan itu,

“Halo? Jack?”

Beep-beep

Sayangnya, sambungan telepon dengan Jack sudah terputus. Kulirik langit yang tadinya sempat anggun karena jubah senja sekarang menjadi menyeramkan karena tertutup sempurna oleh awan kelabu. Hujan turun dengan sangat deras. Cangkir kopiku kosong. Kemana larinya kopi ini? Cangkir ini tidak bocor, kan? Apa aku sudah menghabiskan semuanya, ya? Tapi, kapan?

“Chloe.”

“JACK?!!” aku melompat ke arahnya. Ia ada di kamarku, di hadapanku.

“Chloe, hentikan!” hardiknya semenit kemudian. Baiklah, aku menurut. Kulepaskan lingkaran tanganku yang mengelilingi tubuh kurusnya. Aku sudah cukup puas walaupun hanya semenit mendapat pelukan mendadak itu. Detik kemudian, kutatap wajah Jack sepuasnya. Ini kejutan besar dan jarang terjadi. Ia benar-benar datang hanya untuk membuatku bahagia sebelum ia berpergian.

“Kenapa nggak bilang kalau kamu sudah di bawah? Kalau tahu seperti itu, kan, aku bisa berdandan dulu.” selorohku pada Jack. Jack hanya tersenyum menanggapi omelanku. Ia tahu aku hanya bercanda. Dan aku pun tak perlu berdandan seperti yang kukatakan pada Jack tadi. Aku tahu ia menyukaiku apa adanya, dengan atau tidak adanya polesan di wajahku.

“Aku senang bisa bertemu denganmu, Chloe. Aku senang bisa ada kamu di hidupku. Senang sekali.” Merah-jingga pada pipi senja di langit berpindah ke pipiku.

“Kenapa kamu senang bisa bertemu dengan orang aneh sepertiku, Jack?” tanyaku semakin penasaran.

Cause I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
…”

***

“JACK!!!” tenggorokanku terasa terbakar. Rasanya sangat panas dan perih seperti habis meminum sebotol anggur yang disimpan ratusan tahun lamanya. Aroma khas alkohol menusuk indra penciumanku. Oh, aku baru sadar kalau aku sedang terduduk di atas ranjang kecil, di dalam ruangan serba putih dengan tirai-tirai menggantung dilangit-langit sebagai penyekat ruangannya. Aku tidak berada di kamarku. Ini ruang gawat darurat rumah sakit. Dan semua yang terjadi tadi… berarti hanya dalam mimpi.

Aku mencoba mengingat lagi kejadian sebelumnya. Ingatanku tertuju pada Jack beberapa jam yang lalu. Ia meneleponku, bercerita tentang kegiatannya minggu depan, lalu tiba-tiba ia berteriak keras dan sambungan telepon terputus. Aku ketakutan. Tak lama kemudian, Jack meneleponku lagi. Tapi orang lain, bukan Jack. Ia menggunakan handphone Jack untuk menghubungiku. Jack mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke rumahku. 

“Jack di mana? Apa Jack sudah sadar dari koma?” tanyaku pada ayah. Ayah hanya terdiam. Wajahnya menunduk pasrah.

“Ayah, Jack dimana? Bagiamana keadaannya?” pekikku dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Chloe, senja telah membawa Jack kembali ke ‘rumahnya’. Ia sudah menenggelamkan dirinya bersama matahari. Tidak hanya untuk menyambut malam, tapi untuk selamanya.”

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY