Selamat tidur, Sayang

Selamat tidur, Sayang

682
0
SHARE

Apa kabar, Tuan mata hitam-bundar?

Masihkah kau mencintainya dengan sabar

Tak dapat banyak berujar, tak dapat mengumbar

Tak pernah didengar, cukup mendengar?

Tidakkah nasib kita terlihat kembar?

Cinta takkan memudar, selama api rindu masih berkobar

Atau logam mulia di jari manisnya sempurna melingkar.

 

Selamat pagi, Tuan

Masihkah sosokmu setenang puisi?

Senyum dan matamu sehangat matahari pagi,

Tutur dan katamu yang menenangkan hati?

Tapi Tuan yang baik hati,

Langkah kakimu yang menjauh pergi,

Senyum terakhirmu yang membekukan hati,

Lambaian tanganmu, mereka membuka lebar penutup peti mati,

Bagi sepotong hati yang tak pernah sudi kautempati?

 

Selamat siang, Tuan

Masihkah kamu mencintai petang yang pirang?

Menyambut kedatangannya dengan girang,

Menghabiskan separuh waktumu bersamanya di tanah lapang, 

Membakar rindumu hingga menjadi arang

Mengantarnya kembali pulang,

Ke pintu laut yang paling tenang.

 

Selamat senja, Tuan

Bolehkah kupukul anak-anak rindu yang terlalu manja?

Ia membuatku merasa seperti seorang pendosa

Karena ia terus meminta-minta,

Pada Tuhan Yang Amat Mulia

Menyatukan kita selamanya

Seperti laut dengan senja

Atau seperti senja dengan jingga.

Selamat malam, Tuan

Palingkan wajahmu ke langit malam

Mungkin hanya akan kau temukan langit kelam

Atau bintang-gemintang yang bercahaya buram

Atau rinduku yang tak pernah temaram

Atau cintaku yang menemanimu diam-diam

Ia mengalir ditiap untaian doaku yang paling dalam; doa penutup malam.

 

Selamat tidur, Sayang

Rapatkan pelupuk matamu dalam damai seraya bersyukur

Lalu mulailah terlelap hingga mendengkur

Sementara aku akan mencarikan cintaku sebuah pelipur,

Atau alasan kita tak dapat berbaur,

Mungkin pula mengutuk jarak kita yang semakin tak terukur.

 

 

Untukmu yang membuat jari-jariku ingin ‘menari’

Entah untuk menuliskan sebaris luka hati,

puisi, atau sejenis jampi-jampi

Terima kasih,

Frey

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY