Yang Kusebut ‘Kita’

Yang Kusebut ‘Kita’

466
3
SHARE

Lewat racikan air langit yang gagal kita rasa, kau dan aku malah meracik air mata. Bukan untuk menikmati berbilah-bilah cinta, tapi karena menahan sakit atas tepi-tepi hati yang tergores luka.

Katamu, kita hidup dalam nyata, bukan dalam buku dongeng yang selalu berakhir bahagia. Bagimu, aku pun tak berhak bahagia. Jika yang kusebut adalah ‘kita’.

Coba ingat kembali, bagaimana rasanya ketika kita bertemu untuk yang pertama kali. Hangat di wajah kita, menjalar dari hati. Lalu merebahkan merahnya di permukaan pipi.

Coba ingat kembali, bagaimana jemariku berubah pula menjadi rahim bagi puisi. Di dalam sana, darahmu mengalir pula, menghidupkannya, mengatur denyut nadi puisi kita. Namamu tak luput diselipkannya. Dan kamu akan terbaca berpasang-pasang mata di luar sana. Sebagai bukti, bahwa kita, cintaku dan luka bukan hanya cerita belaka.

Dan coba ingat kembali, hari dimana Dewa Cinta membawamu kepadaku. Kala itu, Ia menancapkan pedang cinta, lewat kedua bola matamu, tepat di bagian tengah hatiku.

 

Crying Girl by Bento

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY