2000 hari

2000 hari

579
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

“Dalam kesendirian, kian lama kurasakan kebenaran sebuah ungkapan lama. Betapa nilai seseorang sangat terasa, justru ketika dia tiada”

[divider]

               Masa SMA, masa dimana persahabatan dan cinta begitu bermakna. Masa dimana cinta benar terasa adanya. Suka, kenalan, curi-curi pandang, PDKT, hingga akhirnya jadian. Kadang mudah ditebak, kadang sulit dimengerti. Ya, cinta itu… Ah, makna nya terlalu dalam. Sangat bingkas jika hanya dijelaskan ringkas. Yang jelas, cinta itu tak perduli dimana daksa harus selalu bersama. Biarpun jarak menyekat, cinta tak pernah peduli.

 

                Mona Irawani. Panggil saja Mona. Gadis belia yang terkenal ceria. Kini tengah duduk dibangku SMA. Tepatnya kelas 2. Dia cantik, pintar, anggun, dan tentu saja dia begitu populer disekolahnya berkat puisi-puisi maupun cerita-cerita karangannya yang tak pernah absen dimuat dimading. Dia adalah idaman semua laki-laki disekolahnya. Selain cantik, dia ramah.

 

                Di SMA tempat Mona sekolah, ada seorang pria tampan yang terkenal playboy. Namanya Aldi Wiranata. Memang, banyak wanita-wanita yang menggilainya. Dia kaya dan tampan. Tetapi disatu sisi, dia selalu menyakiti banyak wanita. Seolah-olah dia bisa melakukan apa saja dengan hartanya. Ya, Aldi belum pernah merasakan bagaimana mencintai wanita dengan segenap hatinya.

 

◘ ◘ ◘ ◘

 

                Dikantin, Mona dan teman-temannya terlihat lagi asik makan sambil cerita-cerita. Dikantin yang sama, Aldi juga lagi bersama gengnya. Iya, dia punya geng. Geng yang terkenal brandalan. 

“Bro, gue yakin, lo gak bakalan bisa dapetin si Mona!” ucap salah seorang teman Aldi.

                “Kenapa gak bisa? Heh, semua cewek disekolahan ini tergila-gila dengan gue. Apalagi cewek kayak yang lo bilang itu. Emm, siapa namanya??” Aldi meresponnya dengan wajah begitu santai.

                “Namanya Mona. Eh lagian dia itu gak bakalan mau sama lo. Dia itu belum pernah pacaran.” ucap temannya itu.

                “Gue bisa dapetin cewek manapun!”

                “Nah lo buktiin dong. Gue aja mimpi banget bisa dapetin Mona… Duh, cantiknya dia… Liat tuh, matanya indah, rambutnya juga indah, senyumnya, aduhai… Manis banget!”

                “Lebay lo! Kayak gak pernah liat cewek aja” ucap Aldi sambil memukul pelan kepalanya.

 

◘ ◘ ◘ ◘

            Semenjak ditantang oleh temannya, Aldi jadi terobsesi mendapatkan Mona. Dia sibuk mencari tau tentang Mona ke teman-teman Mona. Dia sudah berhasil mendapatkan nomor teleponnya. Mona itu gadis yang ramah. Sangat ramah. Selain itu dia polos. Dan sifat-sifatnya itulah sebagai daya tarik dan alasan mengapa banyak yang tergila-gila padanya.

 

                Satu bulan mereka dekat, tampaknya mulai ada rasa suka. Mona menyukai Aldi. Tapi bagaimana dengan Aldi? Apakah sama? Atau hanya sekedar memenuhi tantangan temannya? Entahlah. Pagi ini, Mona yang menyukai Aldi mengantarkan rainbow cake ke kelas Aldi.

 

 

                “Ini Aldi, buat kamu. Buatan aku loh. Cobain deh!” ucap Mona dengan senyum manisnya.

                “Wah… Repot-repot, makasih ya Mona…”

 

                Lama kelamaan, mereka jadi semakin dekat. Aldi menyadari bahwa gak ada perempuan sebaik dan setulus Mona. Semua mantan-mantan pacarnya adalah gadis-gadis yang diotaknya hanya harta, harta dan harta. Yang taunya hanya nge-date, shopping, clubbing. Berbeda dengan Mona, yang mencintai Aldi apa-adanya. Mona tidak pernah macam-macam, minta ini-itu ke Aldi. Tampaknya Aldi mulai mencintai Mona. Tampak dari kelakuan Aldi yang kini sudah mulai berubah. Tidak pernah bolos lagi, tidak pernah mabuk-mabukan lagi, dan yang paling dominan; Aldi tidak pernah melirik perempuan manapun. Dia hanya terobsesi menjadi pacar Mona.

 

                2 bulan mereka kenal dan dekat. Akhirnya mimpi Aldi menjadi kekasih Mona kesampaian. Disini Aldi benar-benar serius dalam menjalani hubungan spesialnya dengan Mona. Aldi semakin giat belajar, berkat motivasi dari Mona yang selalu menyemangati Aldi. Mona itu puitis dan romantis.

Sungguh, hari ini panas.
Tapi tatapanmu meleraikannya.
Sungguh, hari ini gelisah.
Tapi senyummu meratakannya.
Sungguh, hari ini merepotkan.
Tapi suaramu mengelarkannya.
Sungguh, hari ini melelahkan.
Tapi dekapanmu menyurutkannya.
Sungguh…

◘ ◘ ◘ ◘

 

                Mereka saling mencintai. Kali ini Aldi begitu setia, mereka menjalin hubungan. Mereka memiliki dunia yang indah, kemanapun selalu bersama. Cinta. Cinta adalah alasan yang mengubah buruk menjadi baik. Mereka selalu pergi kesebuah tempat favorit mereka, taman. Taman yang begitu indah. Bunga-bunga mekar, berwarna warni. Rumput-rumput mengayun kekanan dan kekiri. Angin sejuk yang menemani percakapan-percakapan mereka. Semua indah karena cinta. Kalau bukan cinta pelakonnya, siapa lagi?

 

◘ ◘ ◘ ◘

Lihat keatas sayangku… Tepat diatas kepala, berenteng cahaya memergoki kita.
Senja itu terlihat malu-malu mengintip senyum kita diantara rona cinta.
Lihat kesamping sayangku… Deretan rumput menari, goyang kanan kiri.
Menemani kita mengujarkan rasa, yang membuat komentar beradu kita.
Lihat kebawah sayangku… Bumi yang kita pijak bersama, mampu menguatkan cerita.
Dari pertama kita bertemu, menguraikan kisah. Sampai hari ini tubuh kita tedekap erat.
Dan lihat kedalam benak sayangku… Ada banyak bertumpuk kata sayang berlapis kasih.
Terukir indah, tajam terasah, terang benderang, bahkan takkan teraih senja yang menjadi saksi itu.
Dia tau, takkan terpisah raga dan jiwa kita, meski kita berbeda dunia…

 

◘ ◘ ◘ ◘

            Sudah 1 tahun mereka bersama.Segenap rasa dan cinta sama-sama mereka berikan. Mereka duduk dibawah pohon besar nan rindang itu. Pohon yang menjadi saksi bagaimana sehari-harinya mereka makan rainbow cake, atau malam dimana mereka bersama menyaksikan dan mengitung bintang.

                “Aldi…” ucap Mona sambil meraih dan menggenggam tangan Aldi.

                “Iya Mona?” Aldi menatap mata Mona.

                “Aku mau kita buat janji” ucap Mona sambil tersenyum. Tapi matanya tidak menatap Aldi. Dia hanya memperhatikan rumput-rumput yang tengah mengayun tak tentu arah.

                “Janji apa sayang?” ucap Aldi penasaran.

                “Aku mau kita buat surat, kita hanya boleh membacanya ketika hubungan kita menginjak 2000 hari. Entar suratnya kita masukin kedalam kaleng, terus kita tanam dibawah pohon ini. Isi suratnya harus ngungkapin gimana perasaan kita, apa yang kamu rasain selama sama-sama dengan aku, apa cita-cita kamu untuk masa depan kita. Apa aja boleh deh. Agak ngelantur juga boleh. Ingat, harus ada puisi nya juga” jelas Mona sambil bergurau kecil.

                “Hehe, ide bagus. Sekarang ayo kita buat”

                Mereka mulai menulis surat itu, dengan catatan tidak boleh mengintip. Setelah selesai, mereka masukkan suratnya kedalam kaleng. Lalu mereka menguburkannya dibawah pohon besar itu.

                “Aldi, berhubung karena kita bakalan pisah seusai tamat sekolah dan bakalan ngelanjutin studi di universitas yang beda, aku mau ketika hubungan kita menginjak usia 2000 hari atau 6 tahun, kita ketemu ditempat ini. Jam 2 siang. Gimana?”

                “Oke Mona, aku janji”

 

◘ ◘ ◘ ◘

            Masa-masa terberat bagi anak SMA telah berhasil mereka lalui. UN. Mereka lulus UN dengan nilai memuaskan. Mona melanjutkan sekolahnya di UGM, jurusan sastra. Sedangkan Aldi melanjutkan di Jerman, Biberach University, jurusan Arsitektur.

 

                Kini, jarak memisahkan mereka. Mau tidak mau mereka harus sabar menjalani long distance relationship. Sebagai perpisahan terakhir sebelum esoknya Aldi pergi ke Jerman, mereka ingin berjumpa ditempat favorit mereka, taman.

                “Mona…” Aldi menyebut nama Mona sambil mengusap kepala Mona.

                “Ada apa?”

                “Kamu tau kan, jarak akan memisahkan kita. Kamu setia kan nunggu aku?”

                “Tentu saja, kamu cinta pertamaku, aku hanya mau hidup bersamamu. Ingat janji kita kan? Ditengah kesibukan kita, kita harus bisa bertemu ditempat ini tepat dihari ke-2000 kita pacaran, tepat jam 2”

                “Iya, Mona. Tentu saja aku ingat”

 

                Begitulah, mereka sudah mengikat janji untuk sehidup semati ketika mereka benar-benar sukses. Sebagai hari terakhir mereka bertemu, mereka menghabiskan waktu berdua, hingga malam tiba, menghantarkan segenap lelah berpadu bahagia. Memadu-padankan antara cinta dan perpisahan. Mencoba melupakan jarak yang akan ditemui walau hanya semalam

 

◘ ◘ ◘ ◘

            Mereka sering berkirim surat. Rindu diantara mereka sudah terbiasa terbalas walau hanya lewat surat. Lama kelamaan sikap Aldi tampak berubah, dia jarang mengirimkan kabarnya lantaran dia sibuk dengan studinya. Berbeda dengan Mona…

Yogyakarta, 19 September…

          Hai, sayang… Apa kabar kamu disana? Tetap sehat kan? Jangan lupa jaga stamina dan jangan lupa berdoa dan beribadah ya. Sayang, kenapa jarang kirim surat lagi? Kamu sibuk ya? Hmm, gapapa. Aku paham.

          Kamu masih tetap cintai aku kan? Aku harap juga. Jangan duain aku disana ya… Oh iya, gimana studi kamu? Aku disini berdoa supaya lancar-lancar dan semua mimpimu bisa terwujud.

          Sayang, tak banyak yang bisa kuucap. Aku Cuma mau ngasih kabar ke kamu kalau aku disini kuliah sambil jadi penulis. Aku sengaja sertakan surat dan novel terbaru aku untuk kamu, dibaca ya… Semoga kamu suka. Dan jangan pernah lupa datang ke taman dihari ke-2000 kita. Aku gak bakalan jenuh ingatin kamu…

Salam cinta,
Mona Irawani

 

                Aldi membaca surat itu, melihat novel itu. Tapi, tampaknya dia mengabaikan begitu saja tanpa membalas pesan Mona. Benar. Aldi sudah mulai bosan dengan Mona. Sifat buruknya kembali lagi. Dia ingin meninggalkan Mona dan janji-janji itu.

 

◘ ◘ ◘ ◘

                Sudah hampir  6 tahun, menjalani hubungan yang begitu-begitu saja. Aldi bosan, sedangkan Mona tetap mencinta. Kebetulan bulan depan adalah hari yang ke-2000 mereka. Aldi pulang ke Indonesia lantaran bukan karena hari ke 2000 mereka. Tetapi untuk kerja. Aldi harus menetap 2 bulan di Indonesia sebelum akhirnya kembali ke Jerman.

 

                Aldi tidak memberitahukan keberadaannya pada Mona. Dia tetap membiarkan Mona menunggu, menunggu dan terus menunggu. Entah apa yang ada dipikiran Aldi sehingga begitu tega memperlakukan Mona seperti itu.

 

                Hari yang ditunggu-tunggu tiba, 16 September 2013. Tepat dihari ke-2000 mereka bersama. Mona berdandan sedemikian rupa, membuat dirinya begitu mempesona hari ini dengan gaya casual nya. Dia pergi ke taman jam 2 siang. Namun tak menemukan sosok Aldi disana.

 

                1 jam, 2 jam, 3 jam… Namun Aldi tak kunjung datang. Akankah Aldi lupa? Sudah hampir jam 7 malam, Mona menunggu kedatangannya. Mona menangis sejadinya. Dia mengambil secarik kertas beserta pena. Menuliskan surat yang akan diletakkannya didepan rumah Aldi. Walaupun dia tidak tau apakah Aldi berada dirumah atau tidak. Bergegaslah dia pergi kerumah Aldi, tempat tinggal Aldi semasa SMA dulu. Berharap orang rumah akan menyerahkan surat itu ke Aldi.

 

                Dia pulang. Pulang dengan harapan kosong. Tatapan matanya kosong, langkah kakinya hampa, tidak tau kemana dan bagaimana. Kejadian buruk menerpa Mona, dia ditabrak oleh mobil sedan hitam yang melaju cepat dikarenakan Mona tidak melihat jalan ketika hendak menyeberang.

 

◘ ◘ ◘ ◘

            Paginya, Aldi yang tengah berada di Indonesia menerima telepon dari rekan SMA nya. Dia menerima kabar bahwa Mona sedang berada dirumah sakit, dalam keadaan kritis. Ibu Aldi menyerahkan surat yang ditemukan ibunya didepan rumah…

Teruntuk : Aldi Wiranata

          Maafkan aku, aku tak bermaksud mengganggumu. Apakah kau dapat merasa betapa angin malam menggejolakkan rinduku padamu? Tiada sunyikah detik-detik waktumu berlalu tanpaku?

          Aku baru tau, ternyata kamu telah sergap semua rinduku, membunuh semua janjiku semenjak tadi siang. Pantas saja membekas sisa yang kamu tinggalkan di sudut jantung hatiku. Jadilah aku sang pelamun. Jadilah sesak dadaku ini. Jadilah aku pula seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Rinduku, telah kau bunuh dengan secerca harapan-harapan beriring janji.

          2000 hari? Tak mudah rasanya mencoba sabar dan tabah. Dipisahkan jarak dan waktu, cintaku tak kunjung layu. Kenapa kamu tak berbalas? Aku tau kamu melupakanku disana, kau kubur aku dengan kebahagiaan-kebahagiaan barumu. Tinggallah aku disini dengan segala kebodohan berlapis rindu, membuat cintaku hanya sebelah pihak.

          Akankah kamu tau betapa pilu hati yang berharap ini? Akankah kamu tau berapa banyak derai air mata bercampur peluh yang tercurah? Terimakasih untuk hari panjang nan pilu ini. Selamat bahagia…

 

          Begitulah isi surat yang diberi oleh ibu Aldi. Aldi tertegun. Dia langsung teringat bahwa semalam adalah hari jadi mereka yang ke-2000. Aldi langsung sigap pergi menuju rumah sakit. Disana dia melihat nyawa Mona yang kini hanya bergantung pada alat-alat medis. Dia hanya bisa memandangi Mona dari sekat kaca.

                Tuhan berkehendak lain, Mona harus pergi walaupun cintanya tidak pergi. Aldi menyesal atas perbuatannya. Bagaimanapun ini semua sudah ditakdirkan. Sudah tertulis seperti ini dan tak mungkin kembali lagi. Seusai pemakaman, Aldi pergi ketempat dimana mereka selalu menciptakan tawa berderai cinta. Taman. Aldi merasa cinta Mona tetap hidup dihatinya. Aldi menggali tempat persembunyian kaleng itu. Membuka, lalu membaca isi surat itu.

 

Dari Mona, untuk Aldi

          Hei lelakiku. Kamu terlihat tampan sekali hari ini. Kamu terlihat lebih dewasa. Membuat aku makin mencintaimu. Bagaimana? Rindu tidak kamu dengan tempat ini? Kamu ingat kita pernah makan rainbow cake buatan aku disini? Kamu ingat kamu pernah nyatain cinta dan nyanyiin aku lagu The Beatles yang judulnya And I Love Her disini? Kamu ingat kita pernah berbaring dibawah bintang-bintang sambil mengutarakan cita-cita? Kamu ingat kita pernah berjanji kalau kamu bakalan nemenin hari tuaku?

          Aldi… Satu rasa yang harus kamu tau… Aku begitu mencintanya kepadamu. Betapa merindunya hariku tanpa sapamu. Jujur, menetapkan hati untuk terus menjadi biasa, tidaklah mudah.

          Aldi aku sayang kamu. Aku yakin cintaku akan tertambat kekamu. Hatiku tak akan mencari peraduan lain, karena jelas dan nyata aku tercipta hanya untuk mencintaimu.

          Hari-hari yang kulalui selalu diiringi dengan cintamu. Cinta yang pernah kita janjikan untuk dibangun menjadi abadi. Aku selalu berdoa pada Tuhan; “Tuhan, jika benar dia adalah takdirku, dan memang benar aku harus menjalani semua ini, berikanlah aku hati yang selalu mau mencintai semua anugerah ini. Hati yang tidak melulu mencintai kesukaan tetapi juga mencintai kedukaan”. Maaf kalau aku harus membocorkan doaku kepadamu.

          Aku membuatkanmu sebuah puisi, semoga kamu suka…

Secercah sinar masuk ke dasar raga yang sunyi tak bersuara,
Membelai lembut bak sutra, menyanyi indah penghibur luka, merentang harapan nyaris keawan.

Kudiam, kunikmati, kurasa, kuselami
Gejolak sanubari pelepas letih, penyeka sepi

Serentang waktu buahkan mimpi
Saat buaian kian meninggi, ku lihat sinar itu meniup pergi
Mengembalikan bias sunyi terjaga, tak peduli hati berujar kata
“Ku inginkan saat itu kembali ada”

                Iya, aku ingin bersamamu. Aku kangen saat-saat bersamamu, Dy… Kamu harus sukses, kamu pasti bisa gapai apa yang kamu mau. Apa kamu gak mau jemput aku buat sehidup semati sama aku? Aku cerewet ya? Hehe, biarin aja…

          Dy, kamu udah berhasil isi masa-masa indah saat aku SMA. Aku selalu diledek karena gak punya pacar hingga akhirnya aku punya pacar sebaik dan seganteng kamu. Ngertikan? Aku Cuma cinta kamu, now and forever until I close my eyes…

Dari yang mencintaimu, Mona Irawani…

 

                Aldi menangis membaca pesan indah beserta puisi dari Mona. Disaat itulah Aldi sadar bahwa selama ini sikapnya kepada Mona sangatlah buruk, bahkan ia belum sempat mengucapkan kata maaf. Perlahan dia mulai mengingat semua kenangan-kenangan manisnya bersama gadis yang sempat bersamanya itu. Ia juga kembali ingat dengan semua janji-janji yang pernah mereka ciptakan bersama. Kenangan-kenangan itu membuat penyesalannya begitu dalam.

 

◘ ◘ ◘ ◘

                Dalam kesendirian, kian lama kurasakan kebenaran sebuah ungkapan lama. Betapa nilai seseorang sangat terasa, justru ketika dia tiada. Dan ketiadaanmu memberi petunjuk yang amat nyata. Betapa rapuh jiwaku dalam kesendirian. Dan betapa utuh dalam kebersamaan. Hanya ada satu kata yang mampu mengungkap semuanya, yaitu “CINTA”. Namun ada satu hutang yang selama ini belum terbayar, Mona. Kurasa sudah tiba saatnya aku bercerita. Kenapa dengan cinta itu, aku justru menjauh darimu.

 

                Maaf kalau semua tak berjalan seperti yang kita mau. Kadang kita berharap Tuhan akan menunjuk jalan untuk kita. Perasaanku akan selalu dekat denganmu. Sepi bicara, betapa sempitnya waktu. Betapa terasa besarnya cinta. Jikapun aku percaya ada hidup setelah mati, kita tidak akan pernah bertemu lagi.

 

                Lalu apa setelah ini? Tak ada kan? Berwarna nya hidupku kini akan berubah menjadi abu-abu. Kamu… Kamu sudah meninggalkanku. Tapi tenang saja… Aku berjanji. Aku akan melanjutkan mimpiku bersamamu. Bersamamu didalam lubuk hatiku. Menyimpan cintamu, menyelimuti kenangan antara kita. Hanya dengan mengingat senyum manismu saja, aku sudah bisa bertahan. Kau hidup dihatiku, kau tercipta hanya untukku. Hanya ada maaf, penyesalan, dan rasa terimakasih untukmu.

 

                Maaf karena aku sudah menyiakan segala pengorbananmu. Terimakasih untuk membuatku menjadi lebih hidup. Kau terlalu berarti dihidupku, Mona…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY