Berbeda

Berbeda

1266
0
SHARE

Aku sering lupa kalau kita berbeda… Karena rasanya cinta sudah cukup untuk membuat kita tersenyum tiap hari. Alasan yang cukup kuat untuk diperjuangkan.
Aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.
Aku masih mengingat ucapanmu ; “Kita jalani aja dulu. Yang penting kita masih bisa bersama. Tapi kita harus siap membunuh perasaan kita kalau masing-masing dari kita sudah menemukan pasangan yang keyakinannya sama.”
 
*****
 tumblr_kzwuqzrda41qb7rfio1_500
                Mataku menangkap dua sosok tubuh yang berjalan beberapa meter didepanku saat aku baru saja memasuki gerbang kampus. Cindy dan Gilang. Betapa mesranya! Mereka saling berpegangan tangan. Berjalan dengan lambat seakan sedang menikmati udara pagi yang sejuk. Kenapa aku merasa iri? Cemburukah? Pada siapa? Cindy? Atau kebahagiaan mereka? Entahlah. Aku mencoba tabah. Kuatkan aku, Tuhan. Jangan biarkan aku bodoh dengan perasaan ini.
                Perlahan, aku berjalan. Kemesraan mereka tak lagi kuperhatikan. Aku harus bisa melupakannya. Beberapa mahasiswa tampak sedang bersenda gurau diparkiran yang cukup luas. Hmm, kenapa hariku tak secerah dan seceria mereka? Sampai kapan aku berkubang dalam kesepian?
                “Rinaaa!!!” seseorang memanggilku. Aku menghentikan langkah dan menoleh untuk mencari sumber suara itu. Ada cowok yang sedang tersenyum lembut kearahku. “Pagi-pagi udah datang, rajin banget ya.”
                “Ah kamu juga” balasku tersenyum.
                “Haha, intinya kita sama-sama rajin”
                “Idih, ge-ernya kamu!” aku tertawa sambil melanjutkan berjalan. Andri mengikuti langkahku dari belakang.
                “Rin, wajah kamu muram banget. Padahal pagi ini cerah lho. Kenapa aku nggak pernah liat kamu ceria? Atau… Jangan-jangan masih mikirin Gilang, ya?” tanyanya sambil meledek dengan tatapan sinis.
                “Entahlah…” aku angkat bahu. “Aku sendiri juga bingung, kenapa aku masih ingat dia?”
                “Itu tandanya kamu masih cinta dia, Rin.” Kata Andri.
                “Maybe.” Aku menghentikan langkahku tepat dihalaman gedung fakultas ekonomi. Duduk di bangku kayu yang berada dibawah pohon.
                “Betapa bahagianya cowok yang dicintai oleh gadis yang lembut kayak kamu. Seandainya aku bisa rebut cinta kamu dari Gilang,” ucap Andri sembari duduk disampingku. “Apa seluruh ruang dihati kamu hanya buat Gilang? Adakah ruang tersisa untukku?” tanya Andri lirih.
                “Aku… Aku nggak tau, Ndri…”
                “Aku serius, Rin.”
                “Udahlah, Ndri. Kita sahabatan aja.” Elakku lalu bangkit memasuki gedung itu.
*****
                Kuliah hari ini tidak bisa kuikuti dengan baik. Kata-kata Andri tadi masih terngiang-ngiang ditelingaku. Andri begitu baik dan penuh perhatian. Berbeda dengan Gilang. Apa aku harus nerima cintanya? Apa dia harus jadi tempat pelarianku? Ah, enggak… Aku tidak mau bermain dengan perasaan orang lain. Aku tidak mau melukai Andri. Dia terlalu baik.
                “Rin… Jangan lupa nanti ada kebaktian.” Suara Andri mengejutkanku. Aku mengangguk. Andri… Cowok itu memang seorang kristiani yang sejati. Dia taat pada agamanya.
                Setiap kali ada kegiatan keagamaan dikampus dia tak pernah absen. Dia pula yang banyak membimbingku agar lebih dekat dengan Tuhan, terutama setelah aku putus dengan Gilang. Kadang aku berangan, seandainya Gilang adalah Andri. Pasti aku masih menikmati masa-masa indah bersamanya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Gilang bukan lelaki yang dipilih-Nya untuk bersamaku. Ada sebuah jurang pemisah diantara kami.
                Gilang seorang penganut agama Islam yang kuat, sedangkan aku begitu yakin dengan agama Kristen. Tidak mungkin bagi kami untuk bersatu. Banyak resiko jika kami ngotot untuk bersama. Apalagi, tak ada satupun dari kami yang bersedia melepaskan kepercayaan lalu memeluk agama lain.
                Maka, sebelum cinta melekat lebih dalam, aku lebih memilih untuk melepaskannya. Walaupun aku masih begitu mencintainya. Gilangpun tampaknya mengerti. Kami berpisah baik-baik.
                Tak lama setelah usainya hubungan diantara kami, Gilang menemukan penggantiku, Cindy. Mahasiswa kedokteran cantik yang berhasil digaetnya. Nah, sangat mudah bagi Gilang melupakanku. Tapi kenapa aku tidak bisa sepertinya, semudah membalikkan telapak tangan untuk menghapuskan cinta? Apa cinta seorang wanita lebih abadi dari cinta seorang pria? Atau apa hanya aku terlalu mencintainya?
                “Rina!” ada yang menyentuh lenganku. Aku terkejut. Lamunanku buyar. Aku melihat Andri berdiri dihadapanku.
                “Melamun?” dia tersenyum. Aku ikut tersenyum lalu bangkit dari dudukku. Rupanya, kuliah sudah selesai. Dosen kelas sosiologi telah keluar ruangan.
                “Ke kantin?” ajak Andri. “Kebaktiannya masih satu setengah jam lagi.” Lanjutnya. Aku mengangguk
                Dikantin aku melihat pemandangan yang cukup membuatku tertegun. Gilang dan Cindy. Hei… Kenapa aku cemburu? Aku sudah berupaya menepis cinta ini, tapi rasanya percuma.
                “Rina… Sampai kapan kamu bertahan dengan keadaanmu ini?” tanya Andri. Dia ikut melirik Cindy dan Gilang.
                “Nggak tau.” Ujarku menunduk. Memperhatikan gelasku.
                “Kamu menyiksa dirimu sendiri, Rin” ujar Andri. “Biarkan aku memupus bayangan Gilang dihatimu. Aku mau meniti hari dengan kamu.” Ujar lembut suara Andri.
                Aku diam. Termanggu dalam batin. Bagaimana bisa, Ndri? Aku tidak punya cinta untukmu. Aku tak pernah merasakan getaran aneh ketika kita sedang berduaan. Tapi dengan Gilang… Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah Andri memang pilihanMu?
                “Rina…” Andri mengenggam tanganku. “Apa aku nggak punya harapan untuk mengisi ruang dihatimu?”
                “Aku…” kutatap Andri. Aku melihat ada pancaran kasih disana. Penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku harus mengusir bayangan Gilang dari hatiku. “Ndri, apa kamu percaya kalau cinta akan tumbuh seiring dengan kebersamaan dan waktu yang cukup lama?” tanyaku. Andri mengangguk.
                “Kalau gitu, kasih aku waktu untuk belajar mencintai kamu. Barangkali esok atau lusa aku bisa mencintaimu sedikit demi sedikit” ujarku datar.
                “Ah, Rina. Tentu saja aku akan menantimu. Berapa lamapun waktunya, aku nggak keberatan. Aku mencintaimu dengan sadar dan akan terus mencintaimu dengan sabar” mata Andri berbinar, memancarkan kebahagiaan dan cinta. Genggamannya semakin erat, lekat dengan cinta.
*****
                Dear Gilang… Cinta diantara kita terlarang. Takkan bisa diwujudkan menjadi nyata. Kehadiranmu dihidupku seolah-olah seperti ilusi, sarat akan mimpi. Sekuat-kuatnya cintaku kepadamu, jauh lebih kuat perbedaan yang menghalanginya. Biarlah engkau hanya menjadi mimpi. Mimpi yang penuh harap, harap yang tak kunjung berbalas. Lihatlah lekatnya cintaku… Samakah dengan dirimu? Bahkan melupakanku secepat itupun kamu mampu. Gampang bagimu menimpa cintaku dengan cinta yang lain. Aku kini hanyut. Kemana cintamu? Tak ada kah? Kamu harus mengerti, untuk mencintaimu tak sedikit waktu yang diperlukan. Begitu pula untuk melupakanmu, butuh waktu yang lama. Namun kini, kubuka lah hati ku untuk seseorang yang selalu menghadirkan cinta dengan nyata untukku. Biarkanlah aku melupakanmu. Aku akan mencoba. Selamat tinggal, cinta yang salah…
                Dear Andri, tak perlu banyak kata yang aku ucap kepadamu. Sudah cukup jelas dan nyata akan cinta yang kau hadirkan, begitu suci dan murni. Aku akan belajar. Memupuk cintamu dihatiku, lalu membiarkannya tumbuh subur, membiarkannya sampai rindang. Beri aku waktu…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY