Cinta dalam Beda

Cinta dalam Beda

854
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Namaku Naya, mungkin aku termasuk anak yang beruntung. Sebab, aku mendapat beasiswa untuk bersekolah di sebuah SMA yang terbilang sekolah elit dan modern karena mayoritas anak-anak disini adalah anak orang kaya. Berbeda denganku yang hanyalah seorang anak tukang nasi goreng. Dan hal ini patut ku syukuri. Walaupun aku tak pantas bersekolah disini, tetapi prestasiku harus tetap kutingkatkan. Hari ini adalah hari pertamaku disekolah. Memang benar sekolah ini sangat megah dan elit, batinku.

           

                “Heh, lo! Siapa lo? Kayak baru liat” tanya seorang cewek yang terlihat judes dan tampaknya dia kakak kelasku.

“Saya Naya kak” jawabku.

“Oh jadi lo anak yang dapat beasiswa itu?” tanyanya lagi

“Iya..” jawabku.

“Ternyata bener ya, lo itu kampungan dan norak abis. Gak cocok banget. Ini sekolah buat anak-anak orang kaya seperti kita, bener gak guys?”

“Bener banget tuh” kata teman-temannya.

Tiba-tiba ada seorang cowok yang datang menghampiri kami.

“Lidya! Ada apaan nih?” tanya cowok itu.

“Ini loh sayang, ada seorang anak kampung datang kesekolah kita”

“Nah, terus? Dia gak boleh sekolah disini gitu? Emangnya kenapa kalo dia sekolah disini? Siapa aja pantas kok sekolah disini.” ujar cowok itu.

“Lahh.. Sayang kok belain dia sih?” tanyanya lagi.

“Yauda, ayo saya tunjukin kelas kamu” ujar cowok itu seraya menarik tanganku dan meninggalkan kakak kelas yang judes-judes itu.

 

 

                Cowok yang belum kuketahui namanya itu mengantarkan aku ke kelas X-B, kelasku. Dia baik sekali dan sangat tampan.

“Ini kelas kamu” ujarnya

“Makasih ya kak” jawabku

“Ehm, gausa panggil kakak. Anggap aja kita sebaya. Aku masih kelas 2 kok. Gak beda jauh umurnya” katanya sambil tersenyum.

“Namaku Naya Sabrina” ujarku seraya mengulurkan tangan mengajak berjabat.

“Namaku Rio Abrasya. Kamu bisa panggil Rio” ujarnya sambil membalas jabatan tanganku.

“Eh, tadi kamu gak diapa-apain sama Lidya kan? Dia itu emang usil banget” sambungnya lagi.

“Nggak kok, aku gak diapa-apain”

“Bagus deh, kalo gitu aku pamit ya. Udah mau bel nih.”

“Iya”

                Akupun memasuki kelas dan ada yang mengajakku duduk bersama dan kami berbincang-bincang.

“Hei, duduk disini aja sama aku” katanya.

“Makasih ya” jawabku sambil bergegas duduk disebelahnya.

“Nama aku Latifa, bisa dipanggil Tifa” katanya.

“Namaku Naya Sabrina”

“Tadi kamu kok sama kak Rio sih?”

“Tadi dia nunjukin dan nganterin aku kekelas ini”

“Kamu beruntung ya, kak Rio itu ganteng, baik, ramah. Tapi sayangnya….”

“Kenapa?”

“Ada kak Lidya yang mati-matian naksir dan ngejar-ngejar dia. Lidya itu cewek paling jahat disekolah ini. Dia itu panas banget kalo liat Rio deket sama cewek lain”

“Oh kak Lidya”

“Iya, kamu kenal?”

“Gak kenal sih, cuma tadi aku ketemu sama dia”

 

***

                Beberapa lama aku disekolah ini, aku merasa nyaman sekolah disini. Aku mendapatkan banyak teman dan ternyata mereka tidak memandang status sosialku yang jauh berbeda dibawah mereka. Hari ini aku dan Tifa pergi ke kantin. Saat aku tengah membawa makanan, aku tak sengaja menabrak Lidya dan menumpahkan minuman yang dipegangnya, sehingga bajunya kotor dan basah.

“Heh, anak kampung. Lo punya mata gak sih?”

“Maaf banget kak, aku gak sengaja”

“Enak banget lo bilang gak sengaja. Dasar anak kampung!!”

               

                Lidya membalasku dengan menumpahkan minuman ke bajuku. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku benar-benar ingin menangis saat Lidya mengatakan aku anak kampung dan dia mencoba menamparku. Alangkah beruntungnya aku karena Rio menahan tangan Lidya.

“Lid, apa-apaan sih lo. Setiap masalah pasti lo selesain dengan emosi.”

“Gimana gue gak emosi say? Liat dong baju gueee. Kotor nih gara-gara anak kampung ini”

“Dia punya nama, namanya Naya. Namanya bukan anak kampung. Jangan suka ganti-ganti nama orang”

                Rio menarik tanganku dan mengajakku serta Tifa pergi dari kantin yang telah ramai dan dikerumuni orang-orang yang menyaksikan kejadian tadi.

“Kak Rio, sekali lagi makasih ya udah nolongin aku dari Lidya”

“Iya Nay, jangan panggil kakak dong. Lupa ya?”

“Hehehe, maaf kak. Ehhh… Maaf Rio, aku lupa”

“Aku gak suka banget tuh sama sikapnya Lidya”

“Kamu gak malu nolongin aku?”

“Malu kenapa?”

“Iya, Rio. Aku itu cuma anak kampung, aku ini bukan orang kaya. Berbeda dengan kamu, dan anak-anak lainnya. Aku hanya anak penjual nasi goreng.

“Hahahahahaha” Rio tertawa mendengar perkataanku itu. “Kamu kok ngomong gitu? Aku senang bisa kenal kamu. Dan aku bangga berteman sama kamu”

***

                Sekarang aku mempunyai satu teman lagi, yaitu Rio. Dia memang kakak kelasku yang sangat baik. Nyaman sekali kalau berada disampingnya. Sehari saja aku tak melihatnya, aku merasa kangen sekali. Dan yang anehnya, aku selalu deg-degan kalau didekat dia.

                Malam ini aku membantu ayah dan ibuku untuk berjualan nasi goreng. Aku mendengar suara seorang memesan nasi goreng, dan…. Sepertinya aku mengenal suara itu.

“Nasi goreng spesial satu ya”

“Ehhh, Rio. Bentar ya aku buatin nasi gorengnya.”

Aku mengantarkan nasi goreng itu ke Rio.

“Ini nasi gorengnya Rio”

“Makasi ya Naya. Kamu temenin aku makan ya.”

“Oke-oke. Kamu suka nasi goreng?”

“Suka banget, apalagi yang bikinin putri cantik. Enak banget”

“Makasih” aku tersenyum kecentilan mendengar pujian Rio barusan.

***

                Dirumah, saat aku sedang belajar. Ibu menghampiriku.

“Nay, kamu suka sama cowok yang kemarin beli nasi goreng itu ya?”

“Apa-apaan sih ibu. Ibu tau darimana? Ngarang deh”

“Jangan bohongin ibu. Sepulang cowok itu beli nasi goreng, kamu senyum-senyum terus. Ibu tau perasaan kamu.”

“Aku Cuma….”

“Naya, ibu gak mau hati kamu tersakiti. Kita ini orang miskin, nak. Sedangkan dia anak orang kaya. Kita gak pantas bersanding dengan orang kaya seperti dia”

                Mendengar ucapan ibu, aku segera masuk kekamar dan mengunci kamarku. Air mataku menetes mendengar perkataan ibu.

“Ya Allah, aku sudah mencintai Rio. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi kenapa seperti ini? Kenapa cinta ini terhalangi oleh status? Aku belum rela berpisah dengan Rio, ya Allah” tangisku.

***

                Ucapan ibu selalu membayangi pikiranku dan seringkali aku melamun dibuatnya. Aku dan Tifa sedang duduk-duduk dikantin.

“Naya, kamu kenapa sih? Kok melamun terus daritadi?”

“Gapapa, Tif”

“Nay, menurut gue ya.. Kayaknya kak Rio itu suka deh sama kamu.”

“Ah gila lo Tif, mana mungkin Rio suka sama cewek kampung kayak gue”

“YAIYALAH! Mana mungkin Rio mau sama cewek kampung, miskin, dan norak kayak lo” tiba-tiba Lidya datang dan memotong pembicaraan kami.

“Kata siapa? Gue itu sukanya sama Naya, bukan sama loe!” Rio juga datang dan membalas perkataan Lidya.

“Eh sayang, apa-apaan sih kamu. Kamu itu pantes sama aku”

“Itu menurut lo. Gue sayangnya sama Naya bukan sama lo. Sekali lagi lo gangguin Naya, lo berhadapan sama gue. Oke”

Dengan kesalnya Lidya pergi dengan wajah sembrawut bersama teman-temannya.

“Rio. Maksud kamu apa sih ngomong kayak tadi?”

“Aku serius Nay, aku emang sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?”

Seketika perasaanku sangat senang karena Rio mengungkapkan perasaan yang sama kepadaku. Tetapi disisi lain, aku begitu sedih teringat ucapan ibu yang ada benarnya juga. Aku berlari dan meninggalkan Rio. Air mataku menetes mengiri langkah-langkah larianku. Teriakan Rio yang memanggilku benar-benar tak kuhiraukan lagi.

***

                Setelah kejadian itu, aku menghindar dari Rio. Setibanya pulang sekolah, aku menemuinya digerbang. Ternyata dia sudah menungguku, aku ingin menghindar, tetapi tidak bisa. Rio menarik tanganku dan membawaku kesebuah taman.

“Naya, kamu kok menghindar dari aku?”

“Gak kok. Aku gak menghindar dari kamu.”

“Nay, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu mau nggak jadi pacarku?”

“Ngga bisa Rio”

“Kenapa?”

“Penting ya kamu tau alasan kenapa aku nolak kamu?”

“Penting banget. Aku juga tau kalo kamu punya perasaan yang sama seperti aku”

“Kamu gak usah ke PD’an deh. Memang banyak cewek disekolah ini yang suka sama kamu. Tapi enggak denganku”

“Ya tapi aku harus tau alasannya Nay!”

Aku berusaha pergi dari Rio. Tapi dia menahanku dan menggenggam tanganku.

“Nay dengerin ya. Aku sayang banget sama kamu. Kamu itu berbeda sama cewek lain, kamu istimewa Nay. Kamu berharga buat aku.”

“Sebaiknya kamu lupain perasaan kamu tentang aku. Kita gak cocok, aku gak pantes buat kamu”

“Siapa bilang? Kamu jangan ngomong gitu dong”

“Rio.. Aku ini Cuma anak penjual nasi goreng. Berbeda dengan kamu.”

“Aku itu gak mandang status sosial kamu, Nay. Aku tulus sama kamu”

“Tapi ibu aku gak pernah setuju”

“Biar aku yang ngomong sama ibu kamu, Nay”

Aku pun terdiam beberapa saat.

“Gimana Nay? Kamu mau kan jadi pacarku?”

“Ehm, iya Rio”

 

                Sekarang hubungan kami sudah benar-benar resmi menjadi pacaran. Selepas dari taman, Rio mengantarkan ku kerumah.

“Assalamualaikum bu.” Ujar Rio.

“Naya, kenapa kamu pulang sama dia?”

“Bu, saya Rio”

“Ada apa kamu datang kesini?”

“Saya mau minta restu dari ibu. Saya sayang sama Naya, bu”

“Kami ini orang miskin. Tidak pantas kami bersanding dengan kamu yang berasal dari keluarga terpandang”

“Keluarga saya tidak pernah memandang kasta atau status bu. Kita semua sama. Saya berjanji akan menjaga Naya”

“Benar seperti itu? Benar kalau kamu akan menjaga Naya?”

“Iya bu. Saya berjanji”

“Baiklah ibu beri restu. Jaga Naya ya. Jangan kamu sakiti dia. Dia itu manja dan cengeng sekali”

“Iya bu”

 

                Sekarang aku sadar, cinta bisa menyatukan segala sesuatu yang mungkin sulit untuk disatukan. Cinta bisa menyatukan segala perbedaan menjadi satu. Cinta tak memandang apapun. Karena cinta datang dari mata lalu turun ke hati. Cinta tidak bisa dibohongi. Cinta adalah dimana seseorang mempunyai perasaan yang tulus tanpa ada pamrih.  

SHARE
Previous articleEs Krim
Next articleDermagamu
Author di nonadmk.blogspot.com Visit me : @NonaNadaDamanik via twitter

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY