Es Krim

Es Krim

1071
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Huft, ini sudah mangkuk kedua es krim yang kumakan. Tak kuperdulikan lagi lamanya aku duduk di kedai ini, sudah 2 jam. Wow, bahkan pelayan tua itu sering memalingkan wajah kearahku. Entahlah, mungkin dia merasa aku sudah tidak waras. Bagaimana tidak? Di cuaca yang sedingin ini, dan hujan deras begini, ada seorang gadis yang makan es krim hingga mangkuk kedua. Hmm, biarlah dia berpikir seperti itu. Tapi, tenang saja pak tua, mungkin akan ada mangkuk ke tiga, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai aku sendiri yang berhenti.

                Sendok demi sendok kulahap perlahan-lahan sambil memusatkan pandangan pada satu titik sembarang dalam lamunanku. Kenangan demi kenangan aku putar satu persatu bak komidi putar. Ku rewind semua kenangan itu dalam suapan demi suapan es krim.

***

3 tahun yang lalu di kedai yang sama…

                Wajahnya yang sedikit pucat, berambut agak panjang dan sedikit berantakan. Dia tersenyum menatapku penasaran, menunggu pendapatku mengenai rasa es krim yang barusan aku cicipi bersamanya. Ya, baru kali ini aku dibawanya ketempat ini.

“Gimana Han?” tampak wajahnya yang sangat penasaran karena melihatku mengerutkan kening seolah-olah ada yang salah dari rasa es krim ini.
“Ehmm.. Tunggu” kusengaja berpura-pura berpikir serius untuk melihat wajahnya yang makin penasaran itu.
“Enakkkk Ris” seru ku.

Dia tersenyum kecil dan mencubit pipiku, merasa tidak terima akan ekspresi wajahku yang menipunya. Aku malah tertawa kegirangan karena bisa menipunya melalui ekspresi.

 

                Ya.. Dia Haris. Haris dan aku pertama kali bertemu di perpustakaan kampusku. Aku bertemu dengannya saat aku dan dia bertabrakan dengan sama-sama membawa buku yang banyak dan berat. Disanalah awal perkenalan kami, yaa.. dia memanglah seniorku, usianya 2 tahun lebih tua daripada aku.

 

                Dia mengajakku pertama kalinya untuk makan es krim sebagai imbalan jasa karena aku sering memilihkan artikel-artikel yang cocok untuk studinya dan aku juga sering membantunya menemukan ide-ide untuk membuat skripsi. Dari situlah, dia sering mengajakku makan es krim di kedai yang letaknya tidak jauh dari kampus.

 

                Haris dan aku bisa dibilang memiliki hobby yang terbalik. Haris senang berkreasi dengan es krim dan pancake-pancake manis. Sedangkan aku? Aku malah tertarik sekali untuk menonton sepak bola dan bermain basket. Terbalik ya?

 

                Sore itu Haris menculikku dari kampus. Uppss, maksudnya mengajakku kabur dari kampus. Dia mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Yaa.. Aku percaya hal itu sejak aku melihat sendiri bangunannya serta interiornya yang memang tampak kuno dan memiliki nilai sejarah. Seperti meja kasir yang terbuat dari kayu oak yang berplitur. Serta pintu masuk yang memiliki bingkai kayu yang bercorak dan mengkilap. Mesin kasirnya pun tampak sudah kuno dan tua. Dan disisi kanan terdapat roti-roti hangat yang ditata rapi di etalase tua. Bahkan sampai pelayannya pun sudah tua semua.

 

                Haris menceritakan bahwa tempat ini adalah tempat yang sering ia kunjungi bersama ibunya sewaktu dia masih kecil. Tak lupa dia menceritakan kegemarannya makan es krim, dia menyukai es krim karena ibunya pernah bilang kalau makanan manis bisa mengobati patah hati dan bad mood. Entahlah, aku tak pernah tau akan hal itu.

“Semua orang hampir suka es krim kan? Termasuk kamu, yang rakus sampai makan es krim campur roti” tanyanya kepadaku.
“Yeee… Sembarangan!! Ini enak Ris, cobain deh” sambil menyodorkan roti isi es krim.
“Aku udah tau lama kaleeee. Dasar Hana jelek!” ejeknya sambil tertawa puas.

                Mungkin, siapa saja yang melihat kami berdua merasa kalau kami adalah sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau. Tapi siapapun yang berpikir seperti itu salah. Kami tidak pacaran, Haris sudah mempunyai pacar yaitu Raissa. Aku tak tau banyak mengenai hubungan Haris dengan Raissa karena dia jarang bercerita tentang itu. Setahuku mereka sudah pacaran sejak kelas 3 SMA. Pacarnya, Raissa adalah seorang gadis cantik, smart, anggun dan terlihat kalem.
“Pulang yuk Han. Nanti kamu ketinggalan jadwal nonton bola” ajak Haris.
“Oh iya, hampir lupa! Yauda ayo..” jawabku sambil beranjak dari kursi.

 

***

2 tahun yang lalu di kedai yang sama…

“Tadaaaa… Happy birthday Hana” sorak Haris sambil menyodorkan sesuatu. Aku terdiam dan terpaku, waaahh ada sebuah surprise nih!
Malam itu tanggal 19 September, Haris membuatkanku kue ulang tahun bermotif bola dengan hiasan warna biru dan putih. Seperti warna klub kesukaanku lengkap dengan tulisan “Happy Birthday Hana” diatas kepingan coklat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan menarik.

“Sebelum kamu tiup lilin, kamu make a wish dulu ya..” lagi-lagi senyuman manis dari wajahnya itu dilemparkannya kepadaku.
Aku menutup mataku dan berdoa sejenak sebelum akhirnya aku meniup lilin dengan angka kembar itu. Berdua kami rayakan ulang tahun ku ini, ditemani dengan sebuah tart cantik buatan Haris dan tak lupa es krim tentunya.

“Ehm, Fadly udah ngucapin belom?” tanyanya kepadaku membuatku mengingat Fadly. By the way, Fadly adalah pacarku. Eh maksudnya mantan pacar semenjak seminggu yang lalu. Kami mengakhiri hubungan yang berjalan 5 bulan itu lantaran dia jarang memberi kabar dan alasan lain adalah karena dia tak menyukai hobbyku yang terlalu jantan. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan dengan baik-baik.

“Apaan sih kamu, ngapain ingat-ingat Fadly?” jawabku dengan nada kesal.
“Udah-udah maaf deh, jangan marah ya.. Yang penting keluarga kamu kan sudah mengucapkan” katanya seraya menenangkan aku.
Aku hanya tersenyum kepadanya. Didalam hatiku, tidak diucapkan oleh Fadly pun tak masalah bagiku, asal Haris ngucapin. Hahaha.

 

                Haris selalu peduli dan selalu menghiburku. Dialah teman yang selalu ada untukku. Hanya dialah orang pertama yang memberikanku surprise seperti ini selain keluargaku. Lalu, bagaimanakah dengan Raissa pacarnya? Apakah Raissa memberikannya surprise ketika dia ulang tahun? Apakah Haris melakukan hal sebaliknya kepada Raissa saat Raissa ulang tahun? Ah!! Bodoh! Kenapa aku ingin sekali tahu tentang hubungan Haris dengan Raissa? Itu bukan urusanku. Entahlah, entah… Buat apa aku memikirkannya.

“Barusan make a wish apa?” pertanyaan Haris membangunkanku dari lamunan lantaran pertanyaan-pertanyaan yang melintas-lintas dipikiranku tadi.
“Rahasia dong, mana ada yang boleh tau” aku menjawab dengan spontan dengan raut wajah yang jahil.
“Pelit” dia pura-pura cemberut.
“Anyway, thanks a lot for this night. You’re my best!” aku tersenyum kepadanya karena kebahagiaan yang kudapat malam ini.
“Any time, Han” balasnya.

 

                Malam itu di umurku yang bertambah, aku menyadari seseorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang saat diam terlihat cool, saat tersenyum terasa manis dan saat berbicara terdengar lembut. Dia yang membuatku tiba-tiba merasa sesuatu itu ada. Entah apa namanya sesuatu itu. Jelasnya, tak bisa dihitung dengan rumus matematika, tak bisa diteliti dengan rumus kimia dan tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Tetapi… Sesuatu itu hidup dan berdetak, dan membuat dada ini sesak, dan sering juga membuat bibir ini tersenyum dengan sendirinya.

***

                Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi ini. Debu-debu kepenatan yang terdapat disepanjang jalan-jalan tua inipun ikut tersapu olehnya. Kedai itu tetap tidak berubah, desain interiornya tetap terlihat tua dimakan usia.

Dua jam yang lalu, aku dan Haris duduk berdua di kedai ini. Wajahnya sudah tak sepucat dulu dan rambutnya sudah tak berantakan seperti setahun yang lalu.  Dia terlihat benar-benar sangat baik. Wajahnya cerah ditengah dinginnya cuaca malam ini. Tapi aku tak melihat sepetik senyuman dari wajah Haris. Dia bersikap dingin, sedingin es krim ini. 
“Kenapa kamu nggak ada kabar Han?”
Aku tak sanggup menatap mata Haris. Aku hanya bisa tertunduk dan terdiam.
“Aku sibuk Ris. Maafya, aku keterlaluan” ucapku. Kutahan air mata yang nyaris tertumpah ini.
Haris seperti tidak menyangka akan tindakan seorang sahabat yang hanya berpamitan lewat sebuah pesan singkat dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun layaknya tertelan bumi. Sepertinya Haris terlihat marah. Tetapi dengan segala kerendahan hatinya, dia tetap bersikap baik kepada seorang sahabat yang meninggalkannya selama setahun tanpa kabar.  Aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku terhadap Haris yang selalu baik kepadaku. Karena sikap Haris yang seperti itu telah membuat makhluk yang bernama PERASAAN ini tumbuh dengan mekar tanpa diberi pupuk. Bahkan kerap kali aku mencoba untuk mematikan dan memotongnya, dia tetap tumbuh dan terus tumbuh. Maka ketika aku ditawari kesempatan kerja di luar kota, aku segera menerimanya demi alasan untuk mencegah perasaan ini bertambah subur.

“Tapi kamu baik-baik saja kan Han?” tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Aku menatap matanya lekat-lekat. Air mataku hampir tertumpah.
“Lalu bagaimana dengan kamu Ris?” tanyaku terbata-bata.
“Aku baik..” ucapnya. Dia menatap dalam mataku.

***

                Seperti langit yang menumpahkan kerinduannya pada bumi, akupun sama. Aku menumpahkan segala kerinduanku pada kedai ini, pada ice cream, dan pada Haris. Entah berapa puluh kali aku membolak-balik benda itu, begitu juga dengan hatiku yang terbolak-balik karena membaca isi benda itu. Benda yang sedikit tebal terbuat dari kertas berwarna merah muda, pemberian Haris dua jam yang lalu.
Seharusnya aku senang membaca isi surat ini, tetapi disisi lain, makhluk yang bernama perasaan ini sangat tergoncang dan terombang-ambing. Dimana aku harus menempatkan diri?

 

                Sudah setahun lamanya aku menyesuaikan antara logika dan perasaan ini untuk mendapatkan jawabannya. Di mangkuk es krim yang ketiga ini aku mendapatkan sebuah pemahaman bahwa Haris tak pernah berubah. Dia selalu melindungiku, menghiburku, memaafkanku dan menyayangiku sebagai sahabatnya. Aku yang terlalu bodoh, kenapa aku tak mengambil tindakan untuk menyatakannya? Aku malah pergi meninggalkan jejak ketidak pastian kepadanya.

 

                Hujan sudah reda, tampaknya dia sudah puas menumpahkan segala kerinduannya kepada bumi. Akupun beranjak dari kursi di kedai tua itu menuju kekasir. Pelayan tua itu menatapku tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku hanya membalas sekedarnya karena perasaanku masih bercampur aduk.

 

                Aku melangkah keluar kedai, berjalan menuju stasiun untuk meninggalkan kota ini dan aku berjanji akan kembali ke kota ini minggu depan, sebagai saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Haris dan Raissa. Akan kuhadapi semuanya, aku tak mungkin lari dari kenyataan. Sekarang aku mengerti, sejauh apapun kita berlari, tak akan mampu membantu melupakan orang yang kita sayangi. Yang membantu hanyalah dengan menerima kenyataan.

 

                Biarlah aku menelan semua pahit perasaan ini Ris. Biarlah waktu yang mencernanya. Karena kamu telah mengajarkanku sebuah makna manis bahwa rasa sakit hanya bersifat sementara. Karena semangkuk es krim akan menjadi penawarnya, bukan?

 

-END-

 

 
 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY