Man With Red Jacket

Man With Red Jacket

541
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

            Aku berdiri didepan pintu kelas, sekolahku masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin aku yang terlalu cepat tiba disekolah. Tiba-tiba pandanganku terfokus pada suatu objek. Ya! Laki-laki itu lagi. Aku tak berhenti menatapnya, mungkin kegiatan memandanginya itu sudah termasuk dalam daftar kebiasaanku. Dia selalu tiba lebih awal disekolah, sama denganku. Setiap kali aku berdiri didepan pintu kelas, pasti aku menemukannya sedang duduk ditaman seberang kelasku. Satu hal yang menjadi ciri khasnya ialah jaket merah yang selalu ia kenakan. Aku sendiri tak tau siapa namanya.

            Pulang sekolah, aku juga masih melihatnya berdiri didepan kelasnya. Masih tetap mengenakan jaket merah itu. Oh iya, namaku Bellinda, gadis yang sangat penasaran dengan cowok berjaket merah yang tampan, menawan, dan membuat pandanganku hanya tertuju padanya.

“Bell, ayo pulang. Ngapain lo berdiri disitu terus?” Sisca membuyarkan pandanganku dan membuatku kaget. Tapi aku tetap terdiam, dan kembali memperhatikan cowok itu.
“Bell, kok diem? Ayo pulang!” Sisca masih terus mencoba menyadarkanku.
“Oh, oh. Aku tau, kamu suka sama cowok yang pake jaket merah itu kan?” Sisca mulai menebak.
“Hah? Jaket merah? Yang mana?” barulah aku tersadar.
“Bellinda, aku tau kok isi hati dan pikiran kamu. Secara aku itu punya indra keenam alias sixth sense gitu. Jangan bohongin aku deh, kamu suka kan sama cowok berjaket merah yang lagi ketawa-ketawa di IPA3 itu kan?”
“Idih. Kamu itu bukannya punya sixth sense, tapi SOTOY. S-O-T-O-Y!”
“Yaelah, tapi emang benarkan?”
Aku terdiam saat Sisca bertanya padaku. Aku kembali memperhatikan cowok itu, sedangkan Sisca menatapiku dengan terheran-heran.
“Sis, namanya siapa?”
“Wah, jadi kamu belum tau namanya? Namanya Devan Refandra. Kelas 11 IPA3”
“Kakak kelas dong ya?”
“Yaiyalah Bell. Yaudah, ayo pulang!”

 

            By the way, Sisca adalah sahabatku. Kami bertetanggaan. Kami sudah seperti saudara kandung. Sepulang sekolah, aku langsung mengambil buku harianku. Disana aku menulis sepenggal puisi. Ya, menulis adalah hobbyku apalagi menulis puisi bertema apa yang kurasakan. Tak perduli tempat ataupun waktu, aku sering menulis puisi diberbagai kesempatan seperti saat pelajaran Matematika.

 

  Keesokan Harinya  

 

            Benar-benar bosan rasanya kalau pelajaran matematika ini. Belum lagi punya guru yang super killer. Dengan maksud cuek, aku mengambil buku harianku dan mulai menulis puisi. Tak perduli walaupun sekarang pelajaran matematika.

“Bellinda Felicia!” aku terkejut saat pak guru menegurku.
“Ada apa pak?”
“Apa yang kamu tulis? Sedari tadi saya tidak ada menyuruh untuk mencatat.”
“Emm.. Saya nggak nulis apa-apa kok pak”
“Bawa kemari bukunya”
“Buku?” aku belum sempat menjawabnya. Tiba-tiba pak guru datang menghampiriku dan mengambil buku harian yang kumasukkan kedalam laci.

“Rasanya ingin aku nyatakan

rasa yang lama menepi dihati ini

sebelum redup bintang itu

sebelum ia terlarang untuk ku petik

terimakasih karena engkau telah memberikanku inspirasi, man with red jacket.”

Suara pak guru yang begitu membahana bagaikan suara proklamasi kemerdekaan Indonesia telah membuat sepenjuru kelasku ini menertawakan dan menyoraki aku. Tampaklah wajahku yang memerah dan memendam perasaan malu.

“Baiklah Bellinda, kali ini saya maafkan kamu. Tapi untuk yang kesekian kalinya, saya akan mengeluarkan kamu selama jam pelajaran saya.”

“Terimakasih pak”

“Man with red jacket siapa Bell? Kok gak pernah cerita?” tanya Niken teman sebangkuku.

“Ehmm, itu Nik. Anak 11 IPA3 yang sering pake jaket merah, namanya Devan.”

“Hah? Devan? Anak IPA3 itu?”

“Emangnya kenapa Nik? Kok kamu kaget gitu?”

“Diakan udah punya pacar!”

“Serius? Siapa Nik?” tanyaku kaget.

“Kayaknya sih anak kelas 11 juga. Udah ah Bell, jangan dibahas. Nanti kamu kecewa.”

“Kecewa kenapa? Toh dia bukan pacarku kok. Kasihtau dong!”

“Bellinda!! Maju sekarang kedepan, kerjakan nomor 1-3 halaman 78!” suara petir dari bapak itu mengagetkanku dan membubarkan percakapan kami.

 

“Mampus deh gue” ujarku pelan.

 

 

 

  Bel Istirahat  

 

            Aku meminum segelas jus alpukat dan duduk dipojok kantin sambil menulis buku harianku. Hmm, aku tak kunjung menemukan inspirasi untuk menulis puisi. Ditengah keheninganku, datanglah seorang gadis cantik yang tak kukenal.
“Sorry, boleh gabung?” kata gadis itu.
“Oh silahkan” dan dia mengambil posisi tepat didepanku.
“Kelas berapa?” tanyanya.
“Kelas 10-1. Kalau kamu?”
“Aku kelas 11 IPA2”
“Oh, maaf kak. Seharusnya daritadi aku manggil kakak”
“Iya gapapa kok” kata gadis itu. Kulihat dia daritadi tampak tak tenang, seperti ada yang ditunggunya.
“Kayaknya lagi nunggu seseorang nih. Nunggu siapa kak?”
“Ehm, nunggu pacar”
“Oh gitu.”

 

            Pusat pikiranku kini kembali tertuju pada buku harianku. Dengan tiba-tiba seorang cowok datang menghampiri mejaku. Lebih jelasnya menghampiri gadis yang duduk dihadapanku. Dan cowok itu benar-benar tak asing lagi bagiku. Dia Devan. Cowok dengan jaket merah itu!
“Van, kok lama banget sih? Aku nunggu kamu daritadi” ungkap gadis itu.
“Sorry sayang, tadi aku disuruh ngangkat buku kekantor. Ada apa sayang? Kangen yaa. Hehehe”

Devan pun duduk disebelah gadis itu. Benar-benar pemandangan yang membuatku terluka dalam sekejap. Didepanku mereka melantunkan berbagai kata-kata yang sangat mesra, membuatku envy sekali. Ya Tuhan, Devan benar-benar sudah punya pacar!

 

  Pulang Sekolah  

 

            Sial! Benar-benar sial hari ini. Biarkan aku mengingat beberapa bukti kesialanku. Yang pertama, aku benar-benar habis dibuat guru matematika dengan suara petir itu. Yang kedua, aku melihat tayangan yang benar-benar membuatku patah hati, perihal hubungan Devan dan gadis tadi. Yang ketiga, handphoneku low-bat dan aku tidak bisa menghubungi Sisca yang tidak tau kemana perginya. Dan terpaksa, aku harus pulang sendiri. Syukur rumahku tidak terlalu jauh dari sini.

 

            Selama perjalanan, aku meratapi kejadian hari ini. Bukan! Bukan kejadian soal guru matematika tadi melainkan kejadian dikantin yang telah membuat hatiku remuk dan rapuh. Aku menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan pikiranku.

 

            “Oke, Devan. Sudah saatnya aku melupakan kamu. Aku bukan pecundang yang merebut kekasih orang. Lagipula bukan hanya kamu laki-laki didunia ini. Ya, aku janji!” aku berbicara sendiri. Tetapi… Ada suara teriakan yang mengagetkanku. Ada seorang ibu-ibu yang minta tolong. Akupun menghampirinya.
“Permisi bu, ibu kenapa?”
“Tolongin ibu nak, ibu kecopetan tadi. Tas ibu dijambret. Didalamnya ada dompet dan handphone. Ibu tidak tau harus menghubungi siapa. Disini benar-benar sunyi”
“Rumah ibu dimana?”
“Dijalan Perintis nak”
“Sepertinya saya tau jalan itu bu. Mari saya antarkan ibu kerumah” kataku sambil membantu ibu itu bangkit dari jatuhnya dan akupun memanggil taksi.

  Setibanya di Rumah Ibu Vina  

 

“Silahkan masuk nak”
“Makasih bu” kataku. Kamipun berbincang-bincang.
“Baru pulang sekolah ya nak?”
“Iya bu.”
“Sekolah dimana?”
“SMA Negeri 1 bu”
“Wah, anak saya juga sekolah disana. Dia kelas 2, kamu kelas berapa?”
“Saya masih kelas 1 bu. Kalo boleh tau siapa nama anak ibu? Siapa tau saya mengenalnya”
“Namanya Devan Refandra nak. Kelas 11 IPA3”
“Devan?” aku kaget.
“Iya, kamu kenal?”
“K..kayaknya g.. gak kenal bu” jawabku gugup. Aduh bagaimana ini? Devan? Astagaa! Aku bisa malu banget kalau ketemu dia. Tiba-tiba sebuah ide muncul dari otakku. Yaa!! Aku harus melarikan diri dari sini.
“Maaf bu, saya pulang ya. Takut dicariin mama”
“Kok cepat banget? Makan dulu ya nak, sekalian nunggu anak ibu pulang. Kerjaannya kelayapan mulu”
“Nggak usah bu, makasih” aku beranjak dari sofa.
“Yasudah, ibu antarkan sampai ke gerbang aja ya”
Aku pun berjalan menuju pintu dan bu Vina berada dibelakangku. Aku membuka pintu, dan… Crriiinggggg!! Ada seorang pria tinggi nan tampan sedang membungkuk untuk membuka sepatunya. Diapun berdiri dan memperhatikan wajahku.
“Eh, Devan. Mama tungguin dari tadi, lama banget pulangnya”
“Dia siapa ma?” tanya Devan kepada bu Vina.
“Namanya Bellinda. Tadi dia yang nolongin mama, tadi mama kecopetan. Oh iya, dia adik kelas kamu loh” kata bu Vina sambil merangkulku.
“Hah? Kecopetan? Jadi mama gimana?”
“Gapapa kok, mama baik-baik aja. Untung ada Bellinda” puji bu Vina.
“Ehm, yauda bu. Bell pulang dulu ya. Assalamualaikum.”
“Bell, biar Devan aja yang nganter kamu”
Aku jadi teringat kalau jarak rumahku dari sini sangat jauh. Mana lagi ongkosku sudah tidak ada dan handphoneku low-bat. Kacau! Gimana nih aku. Masa aku harus dianterin Devan? OMG!
“Tapi ma…”
“Udahlah Van, anterin Bellinda dong. Kasihan dia pulang sendirian, nanti dia diapa-apain orang dijalan”
Ya! Dan akupun pulang diantar oleh Devan. Ooow, so sweet!!

 

  Keesokan Harinya  

 

            Bagiku kemarin itu bukan hari yang sial, melainkan hari yang menyenangkan. Bayangkan saja! Aku diantar oleh Devan! Niatku untuk melupakannya kini terbengkalai dengan sendirinya, seolah-olah kubatalkan. Oke, biarin aku cerita sedikit waktu Devan antar aku pulang. Walaupun kami jarang ngobrol. Tetapi begitu tiba dirumahku, dia mengucapkan terimakasih karena telah menolong ibunya. Dan akupun begitu berbunga-bunga walaupun dia belum sempat tau namaku.
“Oke Bell, kamu harus bisa dapetin Devan. Bagaimanapun! Walaupun dengan cara membuat Devan dan pacarnya putus. Oke Bell, strategi dimulai” ungkapku dalam hati sambil tersenyum kecil.

 

  Strategi 1: Neror Kiki pacarnya Devan  

 

 

 

            Dengan penuh perjuangan bagaikan perjuangan para pejuang 45 akhirnya aku mendapatkan nomor Kiki. This will successfully! 

 

 

 

 

 

♥ ♥ Strategi 2: Membuat Kiki dan Devan batal janjian ♥ ♥

            Lagi-lagi kulakukan dengan handphone kesayanganku. Caranya adalah dengan menjadi perantara atas janjiannya Devan dengan Kiki. Aku sms Kiki dan untuk ketemuan dengan Devan di café Potluck. Yang jelas, mereka bakalan gak ketemu, soalnya Devan gak tau soal janjian ini. Kiki itu gampang banget ditipuin. Dan yang lebih mengejutkan, Kiki masih menunggu Devan di café itu sampai pukul 9 malam. It was terrible! Aku yang memperhatikan Kiki di café itu dari kejauhan melihat wajahnya yang benar-benar sedih dan dia menangis. Lalu pada saat yang bersamaan aku sms Devan, mengatakan bahwa Kiki sudah lama menunggunya di café Potluck. Jadi, saat Devan datang Kiki malah menangis dan pergi meninggalkan Devan tanpa mendengar sepatah alasan dari Devan. Dan… Strategi kedua berhasil!

 

♥ ♥ Strategi 3: Membuat Kiki dan Devan resmi putus ♥ ♥

            Ini nih yang paling menyenangkan. Karena dengan cara ini aku berhasil membuat Devan dan Kiki resmi putus. Caranya? Yaitu dengan membuat Kiki cemburu. Kiki tau selama ini aku memang tampak dekat dengan Devan. Dan saat Kiki menemuiku, aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku benar-benar mencintai Devan. Memang Kiki terlalu bodoh, dia mengatakan kalau secepatnya dia akan memutuskan hubungannya dengan Devan. Dan dia ngizinin aku jadian sama Devan karena Kiki dan Devan benar-benar sudah tidak cocok lagi. Dan… The result: Mereka benar-benar putus. Cheerio!!

 

   

            Pokoknya aku benar-benar senang. Malah Devan dan aku semakin dekat saja. Dan aku harus menulisnya dibuku harianku. Kucari buku harianku didalam tas, tetapi tidak ada. Dilaci, bahkan sampai nanya sama satu kelas, tetapi hasilnya tak ada. Aku benar-benar ketakutan. Bagaimana jika ada yang membaca strategi jahatku soal Devan dan Kiki? Kacau!

            Tiba-tiba tangan seorang cowok menarikku, dan dia adalah Devan. Dia membawaku kedalam aula yang kosong dan dia meluapkan segala amarahnya kepadaku.
“Lo itu orang yang paling jahat yang pernah gue kenal! Busuk lo!”
“Maksud kakak?”
“Ah! Gausa pasang muka polos lo sama gue. Munafik lo, pecundang!”
“Aku gak ngerti, kak”
“Gak ngerti? Ini apa?!” dia menunjukkan buku harianku yang dipegangnya.
“Itukan diary aku kak”
“Ya ini emang diary lo! Gue udah baca semua!”
“Aku suka sama kakak!”
“Jahat bener ya ambisi lo!”
“AKU SUKA SAMA KAKAK!” aku mengulangi dengan suara keras sambil menangis.
“Dan lo pengen gue nembak lo? Sadar ya! GUE GAK SUKA SAMA LO! Karna lo jahat. Nih buku lo” Devan melemparkan buku itu kearahku dan meninggalkanku sendirian. Sementara aku hanya bisa menangis menyesali semuanya.

 

            Sekarang aku sadar, kesalahan ku ini sudah sangat fatal. Aku telah menganggu hubungan orang lain, aku telah membuat mereka berpisah karena perasaan cinta yang aku miliki. Sekarang benar aku adalah seorang pecundang. Aku sudah meminta maaf kepada mereka berdua dan menyuruh mereka untuk balikan lagi. Tapi mereka gak bisa balikan lagi. Entahlah, hanya mereka lah yang mengetahui apa alasannya. Tapi aku sudah cukup senang kok, mereka sudah memaafkan dan menganggapku sebagai adiknya. Walaupun sekarang mereka sudah tidak pacaran, bukan berarti aku bisa jadian sama Devan. Yang lalu biarlah berlalu. Segala perbuatan buruk akan mendapat hasil yang buruk. Dan untuk mendapatkan seseorang yang dicintai harus lah dengan cara yang natural. Devan, i am sorry i’m not what you wanted. But, its okay. Thank you, my man with red jacket, kau mengajarkanku sebuah arti 

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY