Mencinta Tanpa Dicinta

Mencinta Tanpa Dicinta

613
0
SHARE

Mungkin ini memang jalan takdirku, mengagumi tanpa dicintai. Tak mengapa bagiku, asal kau pun bahagia dengan hidupmu, dengan hidupmu..
Potongan lagu itu sepertinya sangat menebak isi hatiku, tentang perasaan yang mengendap dan menetap dalam hatiku yang rapuh ini.
—–
Seulas senyuman tipis dipancarkan oleh pria itu saat melihat sosok dirinya yang lain didalam cermin. Cermin memantulkan bayangannya yang tampak gagah hari ini, dengan setelan jas hitam. Dan tampaknya ada yang berbeda, rambutnya yang biasanya acak-acakan kini tampak rapi dilumuri gel rambut. Sebut saja namanya Billy, anak bungsu dari 2 orang kakaknya. Memang, Billy mempunyai kepribadian yang kurang menghargai waktu senggang. Bagaimana tidak? Dia itu terlalu pendiam, dia lebih suka menghitung rumus-rumus daripada menghabiskan waktu remajanya untuk bergaul dengan teman sebayanya.
—-
“Bill, sampai kapan kamu diam disitu?” suara khas ibunya membuat Billy menghela nafas dan mulai beranjak dari posisinya. Billy meraih arloji miliknya, melingkarkannya dipergelangan tangan kanannya. Dalam waktu yang bersamaan, dia meraih tasnya lalu segera keluar dari kamar.
“Wow!! Liat deh siapa yang datang..” kata Endi, kakak Billy ketika melihat adiknya berpenampilan beda dari biasanya, “Ehm.. Benar-benar sangat.. Uhm.. MANIS” lanjutnya seraya menahan tawa dalam rongga mulutnya. “Diam kamu kak! Bisanya cuma ngeledek aja!” kata Billy yang kesal lalu pergi meninggalkan kakaknya. “Ibu, aku berangkat ya!!” teriaknya sambil meraih kunci motornya yang tergeletak diatas meja.
♥ ♥ ♥ ♥
Ceritakanlah sayang, semua ceritamu, semua harapanmu, semua impianmu.. Aku ingin kau menjemputku, aku ingin kau membawaku, kedalam hatimu bersama-sama…
Nova berlari kecil mendekati kedua sahabatnya yang duduk di sudut aula. Ruangan yang lebar ini tampak dipenuhi dengan wajah-wajah ceria dan semangat setelah menghadapi perang yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Mereka semua baru saja selesai mengikuti pelajaran tambahan, try out, ujian dan segala cobaan-cobaan sebagai anak sekolah. Dan hari ini adalah klimaksnya, puncak kelulusan.
“Nova kamu jadi baca puisi kan?” ujar Tika yang mendapati Nova duduk disebelahnya.
“Aku nggak yakin Tik, gugup banget” jawab Nova lirih.
“Ya kamu harus hadapin Nov, coba aja dulu. Hilangin semua kegugupan kamu” sambung Luna yang duduk disebelah kiri Tika.
“Dan kamu juga perlu mengungkapkan semua perasaan kamu yang udah lama terpendam dan tersimpan. Kamu mau perasaan kamu ini membusuk gitu aja?” kata Tika.
“Iya, Nova.. Kamu harus ungkapin hari ini lewat puisi kamu”
Nova melongo mendengar saran-saran dari kedua sahabatnya itu. Kalimat itu seolah-olah menjejali pikirannya.
“Kalau seenggaknya dia belum nyadar soal perasaan kamu, setidaknya kamu udah ngungkapinnya Nova” kata Luna sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Kedua bola mata Nova terpaku menatapi selembar kertas yang tertulis puisi didalamnya itu. Dia sudah membuat puisi itu semalaman, dan sekarang yang ia butuhkan hanyalah keberanian.
♥ ♥ ♥ ♥
Aku dan kamu, itulah mimpiku, itulah khayalku.
Kau sempurna diantara yang sempurna,
Kau terindah diantara yang terindah.

 

Senyum manismu, tatap tajammu,
Membawa duniaku lenyap terbelenggu mengagumi sisi gelapmu.
Tak paham, aku benar-benar tak paham.
Itulah hal teraneh dalam hidupku,
Terjebak untuk mencintaimu, kau menyekap hatiku dalam sebuah ruang kosong nan indah.
Hatimu! Itulah dia tempatnya..
Tempat dimana aku ingin bernaung, tempat dimana aku akan merawat sebuah zat yang aneh bernama cinta

 

Kau!! Kaulah mimpiku selama ini.
Akankah selamanya rasa ini hanya sebuah kagum?
Akankah selamanya rasa ini hanya sebuah khayal?
Sayang, aku ingin kau mengerti.
Hari-hari yang kulalui adalah catatan tentang cinta.
Dan aku ingin tenggelam bersamaan dengan cinta.
Cinta yang kau bawa.

 

Memendam perasaan itu memang tak menyenangkan.
Dimana hatiku ini tak bisa lantang mengungkapkan semuanya padamu.
Benar-benar beku,
Hatiku benar-benar beku.
Bagaimana bisa aku mencintaimu?
Bagaimana bisa aku mengagumimu?
Yang anehnya, diriku sendiri tak mengetahui alasan dan sebabnya.
Yang kutau pasti,
Cintaku datang bukan karena sekedar mengagumi kelebihanmu.
Cinta datang karena hatiku yang mau, hatiku yang ingin.
Aku tak bisa menolaknya, sayang.
Dan sekarang,
Perasaan ini telah terpatri.
Terpaku mati, terpasung abadi,
Hanya kepadamu, hanya dihatimu.
Mungkin hanya satu kata yang ingin kuucapkan, tak banyak.
Aku hanya ingin kau tau, mencintaimu adalah kecelakaan terindah dalam hidupku.
Satu hal yang selalu ku terka dalam imajiku,
Maukah kau mengetahuinya?
Tuhan menciptakanmu dengan sempurna, sesempurna mungkin.
Dunia menyambutmu ceria saat kau melontarkan tawa untuk yang pertama kali.
Sayang,
Terimakasih untuk cinta yang kau beri.
Cinta yang kuyakin takkan padam.
Cinta ini akan terus bergejolak.
Bergelora indah membawa duniaku untuk terus-menerus mengagumimu.
Mengagumi walau dari sisi gelapmu.
Cinta, itu kamu!

—-

Hati Nova sekarang benar-benar lega meskipun bercampur aduk dengan rasa takut, membingungkan, dan bahagia. Puisi yang dibacakannya tadi sepenuhnya adalah ungkapan perasaannya kepada seseorang yang dicintainya dan dikaguminya selama 2 tahun.

—-

“Puisi tadi buat kamu Billy, sepenuhnya itu adalah perasaanku ke kamu…” ucap Nova pelan didepan microphone. Seketika semua pandangan sepenjuru aula berpaling kearah Billy. “Kenapa aku?” ucap Billy pelan. Terdengar menggema suara tepuk tangan seantero aula.
“Brooo, selama ini kamu punya secret admirer. Ciyee” kata Erwin sambil melepas tawa. Billy menjitak keras kepala Erwin yang meledeknya dengan guyonan yang membuatnya malu itu.
“Sakit, bodoh!!”
“Diam lo! Sebaiknya aku pergi aja dari sini” ucap Billy dengan kesalnya.
Dengan segala upaya, akhirnya Billy berhasil keluar dari deretan kursi yang penuh. Dia meninggalkan aula dan pergi menuju gazebo yang terletak ditaman belakang.
“Billy!!” terdengar sebuah suara yang tak asing lagi di telinga Billy. Billy langsung membalikkan badannya dan menemukan sosok Nova yang berbalut kebaya coklat. Nova menghampiri Billy dan mengambil posisi duduk tepat didepan Billy. Keadaan berubah menjadi hening, tak ada satupun yang bersuara diantara mereka berdua.
“Kamu membuatku malu, Nov” kata Billy.
“Kamu pikir aku gak malu?”
Billy menunduk, “Tapi kenapa harus aku?” ucap Billy pelan.
“Aku tidak memilihmu, cinta yang memilihmu. Kalau aku bisa memilih, aku pasti memilih mencintai orang yang dekat denganku, Billy”
“Dan kamu tidak mengenalku Nova”
“Ya, tapi mataku tidak buta, aku selalu memperhatikanmu diantara banyaknya orang yang berlalu-lalang didepan kelasku” kata Nova. “Ini untukmu, Bill…” Nova menyerahkan sebuah kotak yang tidak terlalu besar kepada Billy.
“Aku tidak menyukaimu” ucap Billy. Kali ini dia mulai memberanikan untuk menatap wajah Nova langsung. Dan memang, Nova memang cantik.
“Tak masalah, tapi ini mengenai tentang perasaanku. Dan aku memang harus mengungkapkannya Bill. Setelah ini kita tak akan bertemu, aku akan pergi bersama jalanku dan kamu akan pergi juga bersama jalanmu untuk meraih mimpi. Benar begitu, bukan?” kata Nova.
Air mata memang selalu tak paham dengan situasi dan kondisi, dengan mendadak air mata itu tertumpah dengan sendirinya. Nova berusaha menghapus setiap jatuhnya tetesan air matanya. Dan ia tak pernah berpikir seperti ini. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk menangisi orang yang mengkhianati cintanya. Tetapi satu hal yang tidak diketahui Billy, dalam kesakitan ini Nova masih bisa merasakan secuil kebahagiaan.
“Maaf jika telah membuatmu menyaksikan aku menangis seperti ini” kata Nova sambil tertawa kecil dalam tangisnya. Diluar dugaan, Billy langsung menghapus air mata Nova.
“Aku pikir kamu nggak bisa nangis. Soalnya aku selalu liat kamu tertawa lepas didepan kelasmu bersama sahabat-sahabatmu. Maafin aku yang gak pernah ngertiin perasaan kamu, tapi sampai kapanpun aku gak akan bisa membawa kamu bersama mengikuti mimpiku”
Nova menghapus air matanya, “Kita akan mengikuti mimpi masing-masing Bill” ujar Nova. “Dan jika kita memang jodoh, kita pasti bertemu…” sambung Billy.
♥ ♥ ♥ ♥
Telah lama kupendam perasaan itu, menunggu hatimu menyambut diriku. Tak mengapa bagiku mencintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku…

 

“Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba” ucap Billy yang menatap langit-langit kamarnya yang tidak begitu luas itu. “Dan, hari ini aku bukanlah anak SMA lagi, melainkan mahasiswa. Good luck Billy” ucap Billy meyakinkan dirinya sendiri.
Sinar-sinar arona menembus celah-celah kecil dari jendela kamarnya, dan pagi yang cerah ini tampak menyambut baik pergantian status yang akan dijalani oleh Billy. Billy bangkit dari tempat tidur empuknya, menatap sepenjuru kamarnya, hanya tampak sebuah lemari besar, TV, meja hias, meja belajar juga ranjangnya. Tiba-tiba matanya terfokus pada suatu objek. Sebuah kotak yang tidak terlalu besar yang tak sengaja terpandangnya berada dibawah meja belajar.
“Astaga, bukankah itu kotak pemberian Nova? Ahh, aku lupa membukanya hingga saat ini. Kenapa aku baru sadar akan kotak itu sekarang?” dengan sigap Billy langsung meraih kotak itu dan membukanya perlahan.
Buku diary, foto-foto dan sebuah kertas putih polos berisi lukisan amatir dirinya yang sesungguhnya tak menggambarkan dirinya. Billy memandangi buku diary bersampul biru muda itu dan refleks tangannya perlahan membuka halaman pertama, kedua, ketiga dan halaman-halaman berikutnya dengan hening.
“Novaa.. Aku gak pernah tau kalau kamu sesakit ini!” ucapnya lirih. Pandangannya berubah, dahinya sedikit mengernyit, menatapi halaman tengah dari diary yang dipenuhi oleh namanya itu. Dia membaca tulisan terakhir Nova.
Dear diary…
Kemarin itu benar-benar berkesaaaaannn banget. Kenapa? Soalnya aku liat senyumannya yang khas terpancar dari bibirnya. Matanya yang indah nan tajam itu juga membuat aku semakin jatuh cinta padanya. Dia masih sama seperti yang dulu, kulitnya masih seputih yang dulu..
 
Diary, kami semua udah lulus. Bersyukur banget karna nilainya memuaskan. Aku sedih tapi bercampur senang juga. Sedihnya karena aku bakalan kehilangan senyumnya. Gara-gara dia aku punya alasan lain buat berangkat kesekolah.
 
Hey diary, menurut kamu dia ngerti perasaanku gak?
Aku masih ingat banget sakitnya dikhianatin sama mantanku, Reza.
Dan aku mau nanya nih sama diary, Sakitan mana, cinta ditolak atau dikhianatin?
 
Diary!! Aku benar-benar menyukainya meskipun aku gak kenal kepribadiannya.
Billy.. Billy.. Billy.. Sumpah! Dia selalu melintas didepan kelas dan dipikiranku..
Diary… Apa yaa yang akan kurasakan setelah ini??? Aku mengagumi tanpa dicintai. Hahaha,
dan aku jadi sering galau nih sambil dengerin lagu cinta dalam hati, kena banget ke aku. 
Perpisahan itu menyakitkan banget ya, diary.. Ah, lagian aku tau kok. Tuhan pasti menjaga dia buat aku. Semoga 🙂
Love you ever after Billy..
Nova, 26 Juli 2012
“Nova.. Dimana dia sekarang?” tanya Billy.
♥ ♥ ♥ ♥
Kuingin kau tau, diriku disini menanti dirimu, meski kutunggu hingga ujung waktukku. Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya. Dan izinkan aku memeluk dirimu skali ini saja, tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja…
Melepas adalah hal tersulit. Dan lebih sulit lagi melupakan perasaan yang terlanjur melekat dihati Nova. Dia masih menunggu dan terus menunggu Billy dan berharap Tuhan menciptakan jalan menuju mimpi seseorang yang dicintainya.
Kilauan mata Nova mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kampus barunya. Ya, suasana baru dan orang-orang baru tentunya. Dia masuk ke fakultas ekonomi dan memilih jurusan yang sama dengan Billy. Apa mungkin Billy disini?
Langit sore itu memancarkan cahaya oranye nan indah. Nova tak berhenti memandang seluas-luasnya keseluruh penjuru kampus barunya. Banyak orang berlalu lalang didepan matanya. Senyuman nya terpancar dibalik wajah manisnya.
Seketika waktu terasa berhenti berjalan. Ia memfokuskan pandangannya terhadap seseorang yang ia lihat. Apakah itu…..

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY