Misery: Tuhan, Cinta dan Kehidupan

Misery: Tuhan, Cinta dan Kehidupan

475
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Emily benar-benar tidak percaya pada pemandangan yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Dia melihat Harry dari kejauhan, tengah duduk dengan seorang gadis. Begitu dekat. Normal saja, mereka sepasang kekasih.

                Emily melewati pemandangan itu. Dia memilih berjalan dan berpura-pura tidak melihat pemandangan itu. Dia terlalu sakit melihat Harry dengan gadis lain. Dia tak bisa percaya, bahwa seorang pria yang ia kagumi membuatnya sakit. Bagi Emily, Harry adalah orang yang berhasil membuka pikiran Emily secara luas tentang Tuhan, cinta, dan kehidupan.

 

                Emily melewatinya beberapa meter jauhnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.

 

                “Emily!”

 

                Emily membalikkan badannya, mencari siapa yang baru saja memanggil namanya. Lalu dia melihat tiga orang gadis yang tengah berdiri di lantai dua sekolahnya. Tepat diatasnya. Mereka adalah teman sekelas Emily sewaktu kelas sepuluh – Jani, Prisa, dan Anna. Emily melemparkan senyuman manisnya kepada teman –temannya. Emily menghampiri mereka.

 

                “Hai” sambil tersenyum ramah. “Ada apa?”

 

                “Mendekatlah” kata salah satu temannya, Jani.

 

                Emily berjalan kearah mereka.

 

                “Ada apa guys?” tanya Emily lagi.

 

                “Kita mau nanya sesuatu sama kamu” kata Anna. “Tapi tolong kamu jangan marah ya. Dan kita mau kamu jujur” sambungnya.

 

                “Oke, jadi pertanyannya… Kamu suka sama Harry?”

 

                Emily terdiam membeku sejenak.

 

                “Tunggu… Kenapa kalian nanya ini?” tanya Emily bingung.

 

                “Jawab aja, Mil” ujar salah seorang temannya, Jani.

 

                Emily merasa sedikit bingung. Dia takut mengatakan yang sebenarnya – dia menyukai Harry. Dia takut teman-temannya membeberkan masalah itu jika dia memberitahukannya.

 

                “Mily.. Jujur sama kita” kata Anna. “Kita gak bakalan apa-apain kamu kok”

 

                “Baiklah…” Emily mengambil napas panjang, tersenyum berat. “Iya, aku suka dia”

 

                Tampaknya teman-teman Emily begitu terengah-engah. Dan Emily merasa tidak nyaman akan reaksi mereka.

 

                “Ada yang salah?” tanya Emily khawatir.

 

                “Nggg… Nggak kok Mil. Gak ada yang salah” kata Anna. “Kita cuma… Hahaha. Kita cuma kaget denger jawaban kamu. Wajarkan kita kaget?”

 

                “Kita pikir kamu gak akan jatuh cinta sama dia, Mil… Tapi sebenarnya kamu sama aja dengan kami” kata Jani dengan mata nanar.

 

                “Ini berarti aku normal dong” jawab Emily. Mereka menertawai Emily.

 

                “Umm… Lalu, aku boleh nggak nanya sesuatu?” tanya Emily.

 

                “Nanya apa?” tanya Anna balik.

 

                “Tentang konflik antara kalian dengan Harry” kata Emily pelan. “Sebenarnya, apa yang terjadi sama kalian semua? Kayaknya ada sesuatu buruk yang terjadi.”

 

                “Oh, soal itu…” Anna berbicara dengan nada berat. “Tentang Harry, kita nggak tau siapa yang sebenarnya benar dan siapa yang salah diantara kami. Kami cuma… Ah… Apa harus aku kasitau kamu dari awal? Prisa… Help me…”

 

                “Hah? Apa?” teriak Prisa.

 

                “Bantu aku nyeritainnya ke Mily” bujuk Anna.

 

                “Yah…” kata Prisa, mengarahkan pandangannya secara utuh kepada Emily.

 

                “Pertama…” Prisa mulai bercerita. “Pertama kamu tau kan masalah diantara kita kan Mil? Kita baik-baik aja. Kami sama-sama suka sama Harry dan masing-masing dari kami udah bilang ke dia. Dan kami berjanji untuk tidak akan marah bila akhirnya salah satu dari kami jadi pacar Harry. Kamu tau itu kan Mil?”

 

                “Iya..” kata Emily penuh perhatian. Dia tampak serius mendengar penjelasan mereka.

 

                “Kemudian semuanya berubah saat Harry jadian sama salah satu teman kami, Shara. Pertama-tamanya sih, kita baik-baik aja. Masih berteman kayak biasanya. Tapi seiring berjalannya waktu, Shara perlahan mulai meninggalkan dan melupakan kita. Dia sibuk sama Harry dan gak pernah lagi mau ngumpul sama kita. Kami juga sering nyoba buat jaga komunikasi sama Shara, tapi Shara ngabaikan gitu aja. Itulah kenapa kami kecewa sama dia sampai sekarang, Mil”

 

                Emily menganggukkan kepalanya, tandanya dia mengerti. Namun ia menyadari, bahwa Anna dan Prisa belum bicara soal Harry.

 

                “Terus, gimana dengan Harry? Kalian kecewa sama dia juga?”

 

                “Ya tentu aja, Mil” kata Anna tragis.

 

                Jawabannya mengejutkan pikiran Emily. Dia penasaran. “Kenapa?”

 

                “Karena dia tuh udah berubah 180 derajat sebelum dia jadian sama Shara” jawab Prisa.

 

                “Emang Harry berubah gimana? Let me know…” jawab Emily.

 

                “Banyak banget, Mil” Anna berbicara dengan nada sedih. “Pertama, kita kenal kalau Harry itu anak yang rajin, aktif, rendah hati, ekstrovert, dan taat sama agama. Tapi sekarang, kita sama sekali kehilangan sosok Harry yang seperti itu. Dia sekarang cuek, tertutup, dan dia makin kurang ajar. Itulah perubahan yang aku lihat.”

 

                Emily mengambil napas panjang, merasa iba pada apa yang barusan ia dengar.

 

                “Gimana sama kamu Mil?” tanya Jani.

 

                “Aku? Iya, aku rasa sama juga dengan kalian. Aku harap dia bisa balik lagi kayak dulu. Aku rindu dia yang dulu…”

 

                “Aku juga” jawab Anna. “Atau, gimana kalau kita lakukan sesuatu…”

 

                Suasana menjadi hening. Tiba-tiba, ide cemerlang dari Jani muncul. Dia adalah gadis imut-imut dan terkenal dengan sifat pendiamnya.

 

                “Aku punya ide…!!!” Jani berteriak.

 

                Semua orang melihat Jani.

 

                “Tapi… Mungkin… Uhmm – Emily, apa kita bisa pergi? Pliiiisss”

 

                Sekali lagi, Emily mengerutkan kening. Kemudian dia menuruti permintaan Jani. Dia berjalan pergi dengan rasa ingin tau yang besar dalam benaknya. Berpikir dan terus berpikir, apa yang mereka rencanakan?

 

 

 

                Waktu berlalu, dan Emily pergi sekolah seperti biasa. Dia melupakan Harry, Shara atau segala sesuatu apapun tentang mereka. Dia memutuskan untuk menjalani hidupnya seperti biasa, dengan sukacita juga dengan senyuman. Dia tak peduli akan Harry lagi. Dia lebih fokus dengan dirinya sendiri dan kehidupannya kelak.

 

                Sudah waktunya pulang. Emily menerima sebuah pesan di ponselnya. Langkahnya terhenti sewaktu dia merasakan getaran yang berasal dari ponselnya.

 

                “Datang ke ruang kesenian sekarang. Kita harus ngelakuin sesuatu”

 

                Pesan itu dari Jani. “Hah?” Emily mengerutkan kening. “Ada apa ya?”

 

                Meskipun Emily tidak terlalu yakin dengan langkahnya, dia tetap memaksa berjalan keruangan itu. Dan sesampainya disana, dia sedikit kaget.

 

                Sebuah adegan yang buruk berhasil disaksikan Emily. Dia melihat Shara menangis. Sementara disisi lain, dia juga melihat Harry. Berdiri didepan pintu. Anna dan gengnya berdiri menghadapi mereka, hanya beberapa sentimeter dari posisi Shara dan Harry. Dia melihat ekspresi Harry, begitu gelisah dan bersalah. Emily benar-benar tidak bisa paham soal adegan yang dilihatnya itu.

 

                “A… Aku datang, guys!” sapa Emily memecah kesunyian. “Ada apa ini?”

 

                Semuanya memandang Emily. Mata mereka menatap Emily dengan nanar.

 

                “Oh, Emil… Akhirnya kamu datang juga” Prisa menyambutnya, berjalan kearahnya, memeluknya dan menangis tersedu-sedu. “Bilang sesuatu sama mereka Mil… Apa aja! Katakan sesuatu…”

 

                “Pris…” Emily bingung, hanya bisa bingung. “Sebenarnya ada apa nih? Tolong kasih tau aku!”

 

                “Emil,” giliran Jani untuk berbicara. “Kita udah nyoba buat ngasih tau mereka dari jalan yang salah, tapi mereka nggak pernah mau percaya. Sekarang kamu aja yang ngomong…”

 

                “Apa?” mata Emily melebar. “Aku harus ngomong apa?”

 

                “Emily…” tiba-tiba Harry menyebut namanya.

 

                Emily terkesiap, terkejut. Dia merasa gugup karena dipanggil Harry. Dia menatap Harry yang berdiri putus asa didepan pintu.

 

                “Ya?” jawab Emily pelan menahan napas.

 

                Harry mendekati dan menatap matanya dengan lekat. “Bicaralah soal kebenaran” kata Harry.

 

                “Apa?” seru Emily. Dia terkejut mendengar pertanyaan Harry. Dia tidak menyangka Harry menanyakan hal ini.

 

                “Jawab aku, Mily…” kata Harry memaksa.

 

                “Apa maksudmu?” tanya Emily. Dia tidak tau harus menjawab apa. “Apa maksud kamu, Harry?”

 

                “Jawab aja pertanyaanku, Mil…” Harry terus memaksa Emily.

 

                Mulut Emily terkunci. Dia tidak bisa berbicara apa-apa. Dia tak tau apa yang harus ia katakan, dan ia juga bingung bagaimana harus menjawab. Dia tidak mau jujur, karena dengan kejujurannya dia bisa menyakiti hati teman-temannya. Dia berpikir untuk lekas pergi dari ruangan itu.

 

                “Maaf, aku harus pergi” kata Emily seraya berbalik untuk pergi. Tapi, dengan tangkas Harry memegang tangannya, membuat Emily tak bisa bergerak.

 

                “Tolong, Mily…” Harry memohon. “Tolong jujur ke aku, Mil. Jangan takut, kita gak akan marah”

 

                “Ya, Mily.. Plis” kata Jani.

 

                Emily diam-diam menangis dalam hati. Sebenarnya dia tak ingin siapapun melihatnya sedih.

 

                “Jadi, aku harus kasih tau semuanya sekarang?”  Emily bertanya dengan nada berat. Dia membatalkan keputusannya untuk pergi. Dia juga tak melepaskan tangan Harry. Dia berusaha menahan tangisnya itu.

 

                “Iya Mil” kata Harry.

 

                Emily mengambil nafas panjang. Memejamkan mata, berpikir apa yang harus ia katakan untuk memulai penjelasannya.

 

                “Kalau begitu…” Emily akhirnya mulai bicara. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Yap, jujur. Aku menyukaimu.”

 

                Semua orang tenang mendengar kata-kata Emily. Semuanya terlihat begitu menanti kalimat berikutnya dari Emily, terutama Harry.

 

                Masih menghadap jauh dari wajah Harry, Emily terus berbicara. “Aku menyukaimu sejak kita kelas sepuluh. Aku suka senyum kamu, kata-kata mereka tentang seberapa dinginnya kamu, aku suka liat kamu tertawa, aku suka pikiran bijaksana kamu. Begitu juga tentang pemikiranmu soal agama. Aku begitu kagum karena hal itu. Wajar aja kalau banyak gadis yang suka sama kamu. Aku gak ragu soal itu”

 

                Harry menarik napas panjang setelah mendengar pernyataan Emily. “Terus, kenapa kamu gak ngasih tau aku?”

 

                “Gimana aku ngasih tau kamu sementara banyak gadis-gadis itu disekitar kamu?” kata Emily dengan nada tinggi. “Aku lihat mereka lebih cantik, lebih pintar dan lebih segalanya dari aku. Aku merasa kalah sama mereka. Dan, karena keadaan itu, aku memilih menjauh. Aku selalu nyoba buat dekat sama kamu dengan banyak cara, tapi aku selalu gagal.”

 

                “Jadi, karena itu, kamu gak ngungkapin semuanya ke aku?” tanya Harry. “Terus kamu ngerasa gimana? Kamu kan bisa sakit hati untuk waktu yang cukup lama…”

 

                “Kamu benar Harry” jawab Emily. “Tapi, setelah aku berpikir tentang seberapa kuat pengetahuanmu tentang agama, aku memilih untuk menyembunyikan semuanya darimu dan bersikap seperti tidak ada apa-apa didepanmu. Lalu aku ingat, waktu kamu bicara soal Tuhan, cinta, dan kehidupan. Aku ingat betapa murninya kamu bicara soal itu. Sejak itu aku ngerti bahwa begitu banyak kesalahanku didepan Allah. Kau membukakan mataku, dan menunjukkan kepadaku segala sesuatu. Aku sadar kalau aku punya banyak dosa dimasa lalu dan bagaimana kosongnya hidupku karna aku tak pernah mengingat Tuhan. Makanya aku nyerahin semuanya ke Tuhan dan ngucapin terima kasih sama Tuhan.”

 

                “Subhanallah…” Harry mengerang.

 

                “Dan satu hal lagi…” tambah Emil. Air matanya menetes lalu jatuh kebibirnya. “Aku punya sesuatu untuk aku katakan ke kamu. Aku harap ini gak akan nyakitin perasaan kamu.”

 

                “Baik… Semoga aja enggak.” Kata Harry sembari memegang tangan Emily ketat.

 

                “Well, jujur…” Emil mencoba berpura-pura tegar demi menahan rasa sakit dihatinya. “Aku kagum sama kamu karna kamu adalah orang yang murni kayak apa yang aku lihat. Kamu selalu berpikir tegas, percaya diri, dan punya rasa takut yang besar sama Tuhan. Tapi, setelah aku tau kamu punya pacar, kamu seketika berubah menjadi begitu buruk, aku kecewa sama kamu, Harry.”

 

                “Hah?” Harry menghela napas. Tak bisa dia berpikir bagaimana Emil berbicara tentang hubungannya dengan Shara. Dia merasa kalau Emil tidak setuju akan hubungannya itu.

 

                “Kamu gak setuju dengan hubunganku dengannya, kan?” tanya Harry dengan merasa terhina. Harry marah. “Kamu sama aja dengan Anna dan gengnya, Mily! Kamu gak pernah ngedukung aku!”

 

                “Enggak Ry! Bukan gitu!” seru Emily. Air mata membasahi pipinya.

 

                Harry terkejut melihat ekspresi Emily. Seketika hangat menyelimuti hatinya.

 

                “Emily?” keluhnya. “Kamu nangis?”

 

                “Tolong jangan benci aku, Ry.” Kata Emily. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi. “Tolong jangan salah paham. Hal yang buat aku kecewa bukan tentang hubungan kamu dengan Shara, bukan!”

 

                “Terus, apa?” tanya Harry dengan perasaan sakit dihatinya.

 

                “Ini adalah masalah yang kamu buat setelah kamu jadian sama Shara” kata Emily sambil terisak. “Aku nggak keberatan kalau kamu jadian sama orang lain, tidak kecuali Shara. Tapi aku hanya berharap satu hal…”

 

                Hati Harry menjadi lebih hangat setelah melihat ekspresi Emily yang penuh harap dan tulus. “Apa yang kamu harapkan?”

 

                “Aa… Aku harap…” Emily berkata pelan dengan begitu banyak harapan dalam hatinya. “Aku harap meskipun kamu jadian dengan gadis manapun, kamu tetap dengan sifat baikmu, Ry. Ingatlah Allah sebagai prioritas nomor satu. Buat orang tua kamu bangga sama kamu dan gak akan hilangin kepercayaan mereka ke kamu. Tunjukin sama mereka kalau kamu bisa jaga kepercayaan yang mereka kasih. Jangan pernah sakiti Shara dan jangan lupain teman-teman kamu.”

 

                “Emil…” Harry merasa tersenuh. Suasana hangat berlama-lama bernaung dalam pikirannya. Tanpa disadari, ada setitik air mata yang menitik dari matanya. Dia tak pernah menyangka kalau Emil setulus itu dan berharap yang terbaik untuknya.”

 

                Emily berjalan, mendekati Shara yang masih berada diposisinya dengan keadaan terisak-isak dalam tangisnya.

 

                “Aku cuma mau ngasihtau kamu, Sha…” kata Emil sembari menyeka air mata dari pipi Shara. “Meskipun kamu sudah memiliki teman yang istimewa kayak Harry, kamu nggak boleh lupa teman-teman lamamu. Tetaplah berhubungan dengan mereka, jangan buat mereka khawatir atau membuat mereka salah paham soal kondisi kamu. Dan, jaga perasaan Harry, oke? Aku percaya sama kamu.”

 

                “Dan kamu guys” Emily berbalik menghadap pada Anna dan teman-temannya. Dia tersenyum manis, melambangkan rasa terimakasih pada mereka. “Makasih atas rencana ini. Terutama buat kamu, Jani! Jika kamu nggak sms aku dan ngerencanain momen luar biasa ini, aku nggak tau apa yang bakal terjadi besok dan hari-hari berikutnya. Kalian hebat!”

 

                Emily berbalik lagi melihat Harry. Dia berdiri, menatapi dengan senyum manis penuh kekaguman kepadanya.

 

                “Kamu salah besar, Mily.” Kata Harry pelan sambil mendekati Emily. Harry memeluknya erat dengan begitu banyak rasa syukur.

 

                Seketika Emily merasa bahagia dipeluk oleh orang yang disayanginya. Merasa beku untuk sementara waktu. Namun menyadari bahwa banyak perempuan yang mencintai Harry disekitar mereka, dia menolak pelukan Harry. Namun, gagal. Harry memeluknya dengan eratnya.

 

                “Lepasin pelukan kamu bodoh!” teriak Emily.

 

                Harry tidak peduli. Dia terus memeluk Emily, berbisik ketelinganya. “Makasih atas segala keinginanmu. Sebenarnya, aku menyayangimu.”

 

 

                Sekali lagi Emily dibekukan. Tetap juga dia tak tau harus berbuat apa.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY