Mr. Mysterious

Mr. Mysterious

927
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Setahun yang lalu, dimana aku mempunyai seorang pacar yang sangat aku sayangi. Sebut saja namanya Fadil, cowok yang romantis, baik, dan perhatian. Tapi sayang, hubungan kami harus berakhir karena dia pindah ke kota lain. Dia pindah gitu aja, sampai aku sendiri tidak tau dia pindah kemana. Dan semenjak itu aku gak pernah tau tentang kabarnya lagi. Jujur, sampai sekarang aku masih sayang sama dia, gimana enggak? Aku sudah pacaran 3 tahun lebih dengannya.

               Jadi, dua bulan yang lalu ada sebuah kejadian aneh yang menerpaku, tepatnya saat aku baru pulang kerja sekitar pukul 23:00. Berhubung karena mataku yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Ya, kira-kira baru 15 menit aku tidur, tiba-tiba handphone ku berdering. Langsung aja kubuka handphoneku, lalu membaca smsnya.

                Sebenarnya aku masih penasaran banget sama dia. Tapi yaudah lah, aku senang sekali bisa berkomunikasi dengannya lagi sampai-sampai kebawa sampai ke mimpi. Hampir tiap pagi, siang dan malam aku smsan dengannya. Tapi satu hal yang kuherankan, kenapa dia gak pernah nelepon aku? Dan kenapa setiap kali diajak ketemuan dia selalu nolak? Padahal kami sudah berkomunikasi hampir 1 bulan. Dan setiap kali aku mencoba mengambil keputusan untuk menghubunginya, selalu direject. Sampai akhirnya sekitar jam 2 malam, handphoneku berdering. Siapa ya yang menelepon jam segini? Ternyata Fadil.

“Halo Nadira”

“Halo juga Dil”

“Kok belum tidur jam segini?”

“Sebenernya udah tidur sih, cuma kebangun sama telepon kamu. Nah kamu sendiri ngapain malem-malem gini telepon aku? Dan siang tadi kemana aja lo? Ditelepon kok nggak diangkat.

“Sorry tadi siang aku sibuk banget Ra. Oh iya Ra, maafin aku ya. Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku sms atau telepon kamu. Aku harus pergi jauh dari kehidupan kamu. Sekali lagi aku minta maaf kalau ada kesalahan sama kamu.”

“Eh jangan ngomong gitu dong. Emangnya kamu mau kemana? Kayak mau mati aja deh kamu ah, jangan ngaco dong Dil. Jangan bercanda dong.”

Teleponnya terputus.

 

                Dan semenjak malam itulah dia tak pernah menelepon atau sms aku lagi. Bahkan nomornya sudah tidak aktif lagi. Satu minggu aku sibuk mencari-cari kabarnya, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya aku ketemu saudaranya Fadil saat dia hendak melamar ke perusahaan tempat aku bekerja. Gak tau lah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan. Dan aku bertanya perihal keadaannya sama saudaranya itu.

“Mbak Tika…”

“Maaf?”

“Saya Nadira mbak, mantan pacarnya Fadil. Mbak ingat? Dulu saya sering main kerumah Fadil”

“Oh, kamu. Iya-iya ada apa?”

“Fadilnya sekarang ada dimana ya mbak? Udah lama gak ketemu sama dia”

Mbak Tika hanya terdiam karena aku bertanya seperti itu, dia mencoba menghindariku dan pergi dariku. Tapi aku mengejarnya, menarik tangannya.

“Mbak tunggu dulu! Saya cuma mau nanya mbak. Tolong jawab saya”

Kemudian mbak TIka memelukku sambil menangis histeris. Akhirnya aku mutusin untuk membawa mbak Tika keruanganku. Aku menyuguhkannya segelas air putih, dan aku membiarkan dia tenang sejenak. Hingga akhirnya dia mulai berbicara.

“Nadira..”

“Iya mbak?”

“Sudah saatnya mbak cerita ke kamu”

“Cerita apa mbak?”

“Begini ceritanya, 3 bulan yang lalu Fadil berniat pergi ketempat kamu. Tapi dia mengalami kecelakaan. Dan nyawanya tak tertolong lagi, dia harus pergi menghadap ilahi”

Mendengar pernyataan Mbak Tika, aku langsung shock dan pingsan. Sampai-sampai aku dilarikan kerumah sakit yang dekat dengan kantor. Dan teman-teman sekantorku menelepon mamaku. Setibanya mama dirumah sakit, aku langsung memeluk mamaku, menangis dibahunya. Aku tidak menceritakan perihal kematian Fadil 3 bulan lalu.

 

                Keesokan harinya, aku meminta mbak Tika mengantarkanku kemakam Fadil. Air mataku benar-benar tak bisa tertahan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Fadil yang selama ini smsan denganku sudah tiada. Benar-benar misterius, tak bisa ditebak. Disana, aku mendoakannya agar dirinya diterima disisi Tuhan. Tapi yang anehnya, baru beberapa langkah aku meninggalkan makamnya, handphoneku berdering, dan siapa lagi kalau bukan nomor misterius itu. Kalau seperti ini akhirnya, aku lebih memilih tidak mengetahui kabarnya daripada harus membuatku sedih.

 

 

                Jujur, aku sangat merasa bersalah kepada Fadil dan hal itu selalu membuatku kepikiran. Aku merasa kalau Fadil itu selalu ada disampingku, dan tak akan pernah aku lupa untuk mendoakannya, sosok yang sangat kucintai. Dan sekali lagi, cinta memang tak mengenal dunia…

SHARE
Previous articleDERAP HUJAN
Next articleLukarela
Author di nonadmk.blogspot.com Visit me : @NonaNadaDamanik via twitter

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY