Pertemuan Kita (I)

Pertemuan Kita (I)

512
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Terlihat seorang pria muda mengenakan kemeja bergaris-garis hitam dan putih memasuki galeri pameran. Entah kenapa dia mengingatkanku pada seseorang yang begitu familiar dipikiranku. FAHRI. Dia begitu mirip dengan Fahri, orang yang sudah mencuri hatiku tanpa mengembalikannya lagi. Entah kenapa hatiku bergetar aneh. Terasa getaran yang sudah lama hilang semenjak perpisahanku dengan dengan Fahri beberapa tahun silam. Kira-kira empat atau 5 tahun. Sudahlah, aku tidak mau mengingatnya. Tak akan… Tapi, sosok pria itu…

 

                “Van, gue mau beli mie rebus. Laper nih!” suara Calista mengagetkanku.

 

                “Yaudah. Jangan lama-lama ya. Gak enak jaga sendirian.”

 

                “Beres, kamu mau nitip apa?”

 

                “Donat deh. Dua aja yang coklat,” jawabku sambil mengambil uang dari dalam tas.

 

                “Eitss… Ongkos jalannya mana?” ujar Calista ketika kusodorkan uang sepuluh ribu.

 

                “Matre lo! Ongkos jalannya satu buah donat aja.” Omelku berpura-pura marah. Calista memasang wajah jengkel, lalu dengan gesit pergi ke area bazaar.

 

                Perlahan punggung Calista sudah menjauh, tubuhnya tidak kelihatan lagi. Aku mengarahkan pandanganku ke pintu masuk. Pemuda itu sudah tidak ada. Kemana dia? Ku putar pandangan, ke kanan dan ke kiri. Hei, itu dia! Dia sedang melihat majalah-majalah kampus yang dipamerkan disebelah standku. Sebentar lagi dia pasti melewati standku. Hatiku kembali bergetar. Berkat melihat pria itu, tiba-tiba sosok Fahri menari-menari dibenakku.

 

 

 

                “Kak Vanya!” ya ampun… ternyata pemuda itu sudah berdiri dihadapanku, semua ini karena lamunanku. Sehingga aku tak lagi memperhatikan sekitarku. Refleks, aku berbalik ke arah suara. Ya Tuhan, pria ini mirip sekali dengan Fahri.

 

                “Kakak lupa ya? Saya Lukman.” Dia tersenyum manis. Mempesona seperti senyum Fahri.

 

                “Astaga!” aku menatap tak percaya. Aku mengenalnya. Dia adalah adik kelasku dulu. Dia SMP dan aku SMA. “Lukman? Hampir saja kakak lupa kamu.”

 

                “Hahaha.” Lukman tertawa. “Kakak kuliah disini ya?” tanyanya.

 

                Aku mengangguk.

 

                “Kalau gitu kita satu almamater dong kak!” kata Lukman girang, mirip seperti anak kecil mendapatkan permen. “Tapi baru hari ini kita ketemunya ya kak.”

 

                “Ya begitulah. Kalau kita nggak satu fakultas, sangat kecil kemungkinan buat ketemu.”

 

                “Yayaya… Emangnya, kakak ngambil fakultas apa?”

 

                “Hukum. Teknik Sipil. Bulan depan kakak ujian sidang. Doain ya?!” balasku centil.

 

                “Ciye. Bentar lagi sarjana nih!” Lukman tersenyum simpul. Ah, senyum itu. Bagai melihat kembaran Fahri.

 

                “Kamu sendiri, ngambil fakultas apa?” tanyaku.

 

                “Kedokteran. Baru semester satu.”

 

                “Kamu harus tahan banting dong, soalnya lulusnya susah.”

 

                “Iya kak, untung aku satu kost sama kak Fahri. Jadi, ada yang ngingatin aku kalau malas.”

 

                Aku terdiam mendengar ucapan Lukman barusan. Ternyata Fahri kuliah di Bandung juga. Jurusan apa ya dia? Apa dia juga seperti aku yang sebentar lagi lulus?

 

                “Kakak, mau tau kabar kak Fahri gak?” tanya Lukman tiba-tiba. Aku terdiam. Tak menjawab. Tak tahu harus bilang apa. Padahal, sungguh aku kangen sekali dengannya. Aku sangat ingin tahu kabarnya. Sehatkah dia? Makin gemuk atau kurus? Apa dia masih rajin mencukur kumisnya? Dulu, aku selalu mengingatkannya kalau kumisnya sudah semakin lebat. Karena aku enggak suka pria berkumis. Tua sekali nampaknya.

 

                “Kakak tau nggak? Fahri berubah lho semenjak putus sama kak Vanya. Dia jadi suka betah dirumah. Main gitar kalau nggak ada kerjaan. Nyanyiin lagu cengeng terus.”

 

                “Dia kuliah dimana?” tanyaku sebelum Lukman memutuskan untuk melanjutkan ceritanya tentang Fahri yang hanya membuat hatiku tercabik dan tersayat.

 

                “UNPAD kak. Lagi skripsi. Harusnya udah lulus tahun lalu. Tapi dia katanya malas. Mungkin karena nggak ada yang nyemangatin.” Kata Lukman sambil menatapku penuh arti.

 

                Uh! Aku paham ucapan dan tatapan Lukman. Ketika masih pacaran dengan Fahri dulu, aku selalu memberi nasihat agar dia giat. Dan Fahri pasti patuh. Nilai-nilainya disekolah melejit menyamai nilaiku. Sekarang…

 

                “Kak Fahri masih sayang sama kak Vanya. Udah empat tahun lebih putus sama kak Van, tapi dia belum nemuin pengganti. Padahal banyak yang naksir kak Fahri lho.” Cerita Lukman bersemangat.

 

                “Ya mungkin aja belum ada yang cocok,” tukasku.

 

                “Andai aja ya kak Vanya bisa difotocopy, hahaha.” Alvin berkata setengah berguyon. Andai aja kamu tau, aku masih begitu menyayangi kakakmu. Aku masih mencintainya. Sudah lelah aku untuk belajar melupakannya, percuma saja.

 

***

 

                Langkahku terhenti. Tertegun memandang seorang pria berkaos putih sedang ngobrol dengan Calista di stand majalah Fakultas Teknologi. Fahri! Jantungku berdegup kencang, hatiku bergetar hebat. Ah… Kenapa dia disini? Mencariku kah? Pasti Lukman memberitahunya. Tidak! Aku tidak mau kita ketemu, Ri. Aku tidak mau melihat matamu yang memancarkan duka. Aku tidak mau luka dihatiku terbuka lagi. Dengan cepat aku membalikkan tubuhku, bergegas meninggalkan ruang pameran. Tak peduli lagi kalau hari ini masih giliranku untuk menjaga stand. Yang ada dipikiranku hanyalah mencoba menghindari Fahri. Semoga Calista tidak memberitahukan alamatku ke Fahri.

 

                “Hei… Cepat banget pulangnya?” tegur tante ku ketika membukakan pintu gerbang.

 

                “I… Iya tan. Soalnya udah banyak yang jagain stand” dustaku sambil melangkah masuk.

 

                “Kebetulan. Tuh ada sate, masih hangat.” Balas tante ku sambil tersenyum.

 

                “Oh… Gak usah repot-repot, tan. Van masih kenyang. Tadi barusan makan bakso di kampus.” Lagi-lagi aku berdusta.

 

                “Yaudah. Nanti aja kamu makannya kalau udah lapar” balasnya sambil tersenyum lagi.

                Aku menghela nafas lega. Untung tante nggak maksa aku untuk melahap sate buatannya yang selalu menjadi kebanggaannya. Untung dia tidak curiga melihat ekspresi wajahku yang jelas-jelas berdusta. Tanteku memang sangat sayang kepadaku. Karena dia belum dikaruniai satu orang anakpun.

 

                Diam-diam aku menyelinap masuk kekamar sebelum tante melihat wajah murungku. Didalam kamarku yang cukup besar, aku merebahkan tubuh ditempat tidur. Memejamkan mata dan memutar kenangan dimasa lalu. Kenangan yang mendesak dan menerobos masuk lagi, setelah sekian waktu aku berupaya menyembunyikan dan mengubur kenangan itu.

 

***

 

 

                Dulu kami satu sekolah, tapi beda kelas. Aku dikelas 3-A dan Fahri di 3-B. Dia termasuk cowok yang ngetop disekolah. Tampan, pintar nyanyi dan main gitar. Suaranya… Ah… Merdu sekali. Semua cewek-cewek di SMA itu jatuh cinta dan tergila-gila padanya, apalagi aku. Namun aku termasuk yang beruntung ketimbang yang lain. Karena aku suka buat puisi.

 

                Pernah, puisiku dimuat di tabloid. Fahri adalah orang kedua yang mengomentari puisi buatanku setelah Mama. Katanya, puisi ku bagus. Tentu saja, aku merasa bangga dipuji oleh cowok yang menjadi idolaku. Sejak saat itu, Fahri jadi sering nemuin aku. Kami sering berdiskusi banyak hal dari hal politik sampai menggosip.

 

                Keakraban menjelma menjadi benang-benang kasih. Bagai Romeo dan Juliet, kami selalu sama-sama. Namun, kenyataan berbicara lain. Fahri Rahman adalah putra dari bapak Rahman Arnawarma, seorang jaksa yang pernah menuntut Papa dalam sebuah kasus korupsi. Aku tahu dari Fahri, saat Fahri mengajakku ke pengadilan untuk menyaksikan jalannya persidangan kasus pidana. Dia bilang kalau papanya adalah jaksa penuntutnya.

 

                “Papaku itu jaksa penuntutnya loh, Van.” Ujar Fahri bangga.

 

                “Wah hebat! Siapa nama papamu? Siapa tau aku kenal” tanyaku kagum.

 

                “Rahman Arnawarma.”

 

                Upssss! Telingaku bagai disambar petir. Teringat aku oleh bayangan seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang sedang menangis-menjerit karena tak rela melihat ayahnya dimasukkan ke penjara. Gadis kecil yang semenjak saat itu berubah pendiam, setelah ayah tercintanya meninggal disebuah hotel karena bunuh diri lantaran tak sanggup menahan malu dan penyesalan yang menerpa dirinya.

 

                “Kenapa Van? Kenapa pucat begitu?” Fahri menggenggam jemariku.

 

                “Gapapa. Cuma nggak enak badan aja” sahutku gugup.

 

                “Yaudah kalau gitu, kita pulang aja. Lain kali kita liat penyidangannya ya…” Fahri berkata lembut. Aku mengangguk. Dalam hati bersyukur karena tak melihat wajah pak Arnawarma.

 

                Tapi bagaimana dengan Fahri? Apa aku tetap melanjutkan hubunganku dengannya?

 

                Pertanyaan itu mendengung-dengung ditelingaku.

 

                Setelah berperang batin berhari-hari, aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Dengan alasan yang klise : “kita masih terlalu muda buat pacaran…”

 

                “Alasan kamu dibuat-buat banget. Kenapa nggak dari dulu bilang gitu? Kita kan udah enam bulan lebih pacaran…” ujar Fahri menahan marah dan sedih.

 

                Aku terdiam. Fahri benar. Aku memang bohong. Mencari-cari alasan untuk berpisah dengannya. Aku tidak mau Fahri tahu siapa papaku. Ia akan merasa malu pacaran dengan seorang anak koruptor sepertiku.

 

                Selain itu pasti Papanya Fahri tidak menyetujui hubungan kami. Mana mungkin Papanya sudi bermenantukan seorang anak koruptor? Apalagi koruptor yang pernah dituntutnya. Ironis. Inilah realita. Realita yang pahit dan wajib kujalani. Realita yang membuat aku menapaki sebuah keputusan yang menyakitkan.

 

                Untuk melupakan Fahri, aku hengkang ke Bandung, sekaligus mencapai citaku. Tinggal dengan tanteku hingga sekarang.

 

***

 

                Aku menghela nafas lega mendengar cerita Calista, sahabatku yang juga tahu perihal hubunganku dengan Fahri.

 

                “Makasih ya, Cal. Kamu memang sahabatku yang paling baik.” Ujarku sambil menggenggam tangannya, menatapnya penuh arti.

 

                “Terus terang, aku kaget Van waktu dia ngenalin dirinya. Gak nyangka kalau dia itu lebih kece dari yang kuduga. Rupanya cerita-cerita kamu tentang ketampanannya itu bukan bualan belaka.” Kata Calista.

 

                “Yaudah, karena aku udah bohong gara-gara kamu dengan alasan pura-pura gak kenal kamu, kamu harus traktir aku makan bakso.” Lanjut Calista.

 

                “Dasar gembul!” ujarku sewot.

 

                Besok adalah hari terakhir acara pameran majalah di Bazar. Jadi, aku mesti mesti membantu teman-temanku untuk membenahi segala sesuatnya. Aku ingin sekali besok tidak hadir. Tapi rasanya, gak solider sekali jika aku berpangku tangan hanya karena takut ketemu Fahri. Jadi, mau nggak mau, aku harus menghadapi jika esok aku bertemu Fahri. Apa boleh buat.

 

***

 

 

 

                “Vanya…!”

 

                Aku mengangkat wajahku. OMG! Dugaanku menjadi kenyataan. Fahri datang lagi. Dan, sungguh mati aku belum siap menyambut kedatangannya. Aku tidak tahu harus bicara apa…

 

(Bersambung…)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY