Pertemuan Kita (II)

Pertemuan Kita (II)

390
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

(……)

 

      Sorot mata Fahri bagai memenjarakan aku dalam keresahan yang pekat. Tuhan, lihatlah ….ada bias cinta di mata itu, juga segores luka.

 

                “Udah lama kita nggak ketemu. Apa kabar kamu Vanya?” Fahri tersenyum manis dan lembut.

 


 

                “Baik.” Sahutku singkat, lalu menunduk.

 

                “Kamu makin cantik, makin tinggi, makin putih. Pasti banyak deh yang naksir kamu.” Puji Fahri.

 

                “Ah biasa aja. Kamu tuh makin kurus aja. Kumisnya juga belum dicukurin”

 

                “Iya, gak ada kamu yang ngingatin aku soalnya, Van.”

 

                Aku diam.

 

                “Kemarin aku nyariin kamu.”

 

                “Iya, tau”

 

                “Kamu kenapa Van? Kamu kok berubah? Gak suka ya ketemu aku?” tanya Fahri diwarnai kekecewaan.

 

                “Siapa bilang?” aku mengangkat wajah dan menatapnya sedih.

 

                “Kamu pergi tiba-tiba, tanpa pesan, tanpa ngasihtau alamat. Dan sekarang sikap kamu begitu dingin.”

 

                “Apa maksud kamu? Kamu menemui aku cuma mau ngajak aku bertengkar?” bisikku pelan, takut didengar orang-orang yang berlalu-lalang distand.

 

                “Van, empat tahun aku nyariin kamu. Dengan harapan bisa bersama kamu lagi. Ternyata… Ah, aku nggak ngerti, Van. Kenapa kamu membenciku? Menghindariku? Salahku apa sih Van? Bilang… Aku…”

 

                “Gak ada yang salah, Ri.” Aku menyambung ucapannya. “Aku gak sayang sama kamu,” dustaku. “Dulu aku nerima kamu karena aku gak mau kecewain kamu. Makanya setelah 6 bulan kita pacaran aku lebih milih putus. Dan aku diam-diam pindah keluar kota.” Lanjutku dengan penuh kebohongan yang tiba-tiba muncul diotakku.

 

                “Jadi…,” Fahri tampak terkejut.

 

                “Maaf, Ri. Seharusnya hal ini kukatakan sejak dulu.” Kataku datar.

 

                Fahri terdiam terpaku. Aku menatap mata itu dengan pilu. Wajahnya bagai diselimuti kelabu, muram dan tampak sedih sekali. Ingin rasanya kubelai pipinya dan memeluknya penuh cinta. Aku harus berpura-pura tidak mencintainya.

 

                “Gimana mungkin, Van?” kata Fahri lirih. “Aku tau dan yakin kalau kamu mencintaiku. Aku bisa rasa, Van…”

 

                “Jangan terlalu percaya sama perasaan kamu, Ri. Kamu harus terima.” Ujarku pilu. “aku pura-pura cinta kamu. Aku…”

 

                “Enggak Van…” Fahri memotong perkataanku. “Aku tau kamu bohong. Perasaan aku gak mungkin salah. Van… Kamu harus tau, aku sangatlah menyayangimu. Semuanya berubah semenjak kehadiranmu. Aku tidak bisa melupakanmu.”

 

                “Tapi kamu harus sadar juga, Ri! Aku kan udah jujur, kalau aku sama sekali gak punya perasaan ke kamu!” bentakku.

 

                “Terima kasih atas kejujuranmu meski aku ragu apakah ucapanmu itu sungguh-sungguh keluar dari sanubarimu yang terdalam.” Ucap Fahri. Ditatapnya mataku dengan tajam, dengan berbalur luka. “Kamu harus tau, Van… Aku pasti kembali, Van. Aku tau kamu punya alasan lain. Tidak mencintaiku bukanlah alasannya. Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Meski bibir berkata tidak, mata kamu tidak bisa bohongi aku. Dan aku akan sabar dan terus bersabar, mencari tau apa yang kamu sembunyikan itu. Apapun alasan kamu, aku akan tetap mencintaimu.” Nada suara Fahri mengandung tekad yang sungguh-sungguh

 

                Aku tertegun mendengarnya. Mungkinkah? Mungkinkah jika kamu berhasil menemukan apa yang tersembunyi itu, kamu tetap mencintaiku?

 

***

 

Pada akhirnya, tak pernah hati ini mampu menyalahkanmu sebagai cinta yang salah. Sebab jika memang kamu suatu kesalahan, mengapa mencintamu terasa begitu benar? Pada akhirnya, doa menjadi ungkapan paling sederhana dalam ukuran cinta yang tak mengenal angka.

 

Ri, aku masih dan tetap mencintaimu. Aku hanya tak mau kau mengetahui semuanya. Biarlah kamu yang menemukannya sendiri. Apabila sudah terjadi, aku ikhlas dan pasrah seandainya kau membunuh perasaanmu kepadaku. Kadang aku merasa kamu adalah cinta yang salah. Atau sebaliknya, aku adalah cinta yang salah.

 

Padamu, entah telah berapa kali cintaku terjatuh. Tak ingin kuhitung dan takkan bisa terhitung. Kamu adalah pusat dari segala debar di dada. Kamu adalah sebab dari sesaknya cinta yang melambung disanubari. Aku mengalami sesuatu yang aneh dalam hidupku. Sesuatu itu adalah kelam dan tak bersinarnya hidupku tanpa hadirmu.

 

Aku tidak tau apa keputusanmu kelak ketika kau sudah mengetahuinya. Yang jelas, biarlah aku berpura-pura tidak mencintaimu walau sebenarnya perih hatiku untuk berdusta, membohongi perasaan sendiri. Ribuan alasan hanya akan percuma jika kita tetap memaksa. Semoga kesabaran betah merumah di dadamu, semoga jawaban sesegera mungkin menemukan aku.

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY