Pseudo Shadow

Pseudo Shadow

137
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Siang ini, aku berjalan melewati koridor sekolah sendirian. Semua anak sudah pulang sekolah. Hanya tinggal beberapa saja, dan aku diberi tugas oleh guru bahasa Indonesiaku untuk mengantarkan buku latihan ke kantor. “Kok sepi banget ya? Guru-guru kemana semua?” bisik hatiku saat melihat kantor yang sudah sepi. Ya, sekolahku ini memang sekolah yang sudah tua dan lama. Tampak dari corak bangunan yang klasik, koridor sekolah yang memiliki atap yang tinggi dan lantai dengan keramik lama. Begitu jelas sekali! Bagaimana tidak? Sekolah ku ini adalah sekolah negeri pertama di kotaku.

                Aku begitu ketakutan melihat kesunyian ini, sampai-sampai aku tak memperhatikan arah jalanku, hingga akhirnya… BRRUUUKKKKK. Aku menabrak kakak kelasku. Minuman yang dibawanya tertumpah kebajuku, bajunya, dan buku-buku yang kupegang ini.

“Duhh, maaf ya kak. Aku gak sengaja, tadi aku gak merhatiin jalan” ungkapku sambil mengutip buku-buku itu. Tapi apa responnya? Dia hanya diam dan memberikan sebuah sapu tangan kepadaku lalu beranjak pergi tanpa membantuku memungut buku-buku itu. Aneh sekali!

 

                Mataku tak kunjung berhenti menatapi sapu tangan itu, sembari mengingat wajah tampannya yang cuek tadi. Tapi, tunggu dulu! Kenapa di sapu tangan ini tertulis ‘Zizi’? Bukan, itu bukan nama seorang laki-laki, sapu tangan ini punya seorang wanita. Tapi, Hey! Bukankah itu namaku? Ah, tapi aku tidak boleh berpikir terlalu jauh, yang bernama Zizi didunia ini ada banyak sekali. Dan yang pasti bukan aku orangnya.

 

Sesampainya dirumah…

 

                Kulihat lagi sapu tangan yang diberikan oleh kakak tadi. Aku teringat dengan sosok wajah tampan yang tadi hanya berdiri sambil memberikan sapu tangan tanpa berbicara sepatah katapun. Misterius sekali! Dan, sapu tangan ini bagus dan sederhana, hanya berwana putih dengan bordiran yang simpel. Jarang aku melihat sosoknya disekolah. Atau jangan-jangan dia bisu? Ah, tidak mungkin!

 

Keesokan harinya…

 

                Aku mencoba mencarinya, aku berpapasan dengannya lalu memanggilnya.

“Hei kak! Tunggu!”

Lalu dia memberhentikan langkahnya tanpa berbicara sedikitpun.

“Kak, ini sapu tangannya, terimakasih ya” ungkapku. Tapi apa balasannya? Ya, dia masih tetap diam dan berlalu pergi tanpa membalas ucapan terimakasihku. WOW! Sungguh aku bingung dengan sikap cuek dan misteriusnya. Aku ingin sekali tau tentangnya. Sepertinya aku menyukainya, atau bahkan mencintainya. Hmm, kurasa begitu.

 

                Setelah aku mengembalikan sapu tangan itu, rasanya ingin sekali aku memilikinya lagi. Kenapa? Entahlah, aku benar-benar keGR’an bahwa nama ‘Zizi’ di sapu tangan itu memang mengisyaratkan aku. Sungguh keinginan yang bodoh, mana mungkin itu terjadi. Bahkan kamipun tak saling mengenal.

 

Dua hari kemudian…

 

“Zizi!” tampak ada seseorang yang meneriakkan namaku dari kejauhan, dan dia adalah si pria misterius itu. Diapun berjalan mendekatiku.

“Ada apa kak?” tanyaku.

“Kamu mau kemana?” tanyanya.

“Gak kemana-mana kak. Cuma mau ke kantin” ungkapku.

“Oh, kalau begitu perkenalkan namaku Adib.” Aku belum sempat menjawab atau memperkenalkan namaku, dia langsung pergi begitu saja. Tapi tak apalah, aku sudah mendengar suaranya. Aku senang sekali.

 

                Betapa kagetnya aku, seolah-olah dia tau bahwa aku sedang mencari tau namanya. Ada apa dengan kak Adib? Kenapa dia begitu misterius? Mengapa yang aku alami seolah-olah sudah direncanakan? Karena rasa penasaran ini, perasaan cintaku sepertinya makin bertambah.

 

                Bel pulangpun berbunyi, aku ingin sekali berteriak karena hari ini aku sangat senang. Aku sudah mendengar suaranya dan mengetahui namanya. Dan sesampainya aku dirumah, kelakuan konyol itu benar-benar kulakukan. Aku berteriak, meneriakkan namanya seperti orang gila. Ditengah kesenanganku, handphoneku berbunyi, ada sebuah sms dari nomor yang tak kukenal. Dengan rasa penasaran kubuka sms itu. “Jangan pernah kamu dekat atau mencintainya. Dia bukan manusia Zizi!” begitulah bunyi sms itu. Siapa maksudnya bukan manusia? Aku tidak dekat dengan siapa-siapa, tetapi aku mencintai kak Abid. Atau jangan-jangan maksudnya itu kak Abid? Kak Abid bukan manusia? Ah! Mana mungkin!

 

Keesokan harinya…

 

                Aku mencari-cari kak Abid disekolah, di kantin, lapangan basket tapi tak ada. Hingga saat aku ingin menuju kelas dari jalan belakang, aku menemuinya sedang duduk sendiri di taman. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya. Dia tidak menyadari kehadiranku, karena dia sedang melamun. Dan aku membangunkannya dari lamunannya.

“Hei kak!!” aku menepuk pundaknya. Aku menepuk pundaknya, dan dia nyata, dia manusia. Lalu diapun sadar dari lamunannya.

“Ada apa?” jawabnya.

“Gak ada apa-apa kok kak. Kakak ngapain disini?” tanyaku.

“Males masuk kelas” jawabnya dengan singkat.

“Kak aku mau nanya sesuatu”

“Apa?” wajahnya menatapku. Jantungku langsung berdebar-debar. Sungguh aku sangat menyukainya, menyukai matanya yang berwarna coklat itu.

“Sapu tangan yang kemarin itu kok ada tulisan Zizi nya? Zizi itukan namaku kak. Padahal kita gak saling kenal sebelumnya.

Dia menghela nafas panjang, lalu menjawabnya.

“Zi, sudah seharusnya kamu tau”

“Tau apa kak?”

“Dulu, waktu kamu masih jadi anak baru, kelas 1 SMA, kakak menyukaimu. Sangat menyukaimu dan mengagumimu. Kakak berusaha mencari tau namamu dari panitia yang mengospekmu. Kakak membuatkan sapu tangan bordiran namamu. Maksudku, aku ingin memberikannya kepadamu sebagai tanda bahwa aku menyukai dan mencintaimu. Setahun yang lalu saat aku ingin menembakmu, aku mengalami kecelakaan motor. Nasibku benar-benar malang sekali, saat aku hendak berangkat kesekolah dengan laju motor yang cepat, tiba-tiba ada sebuah truk besar yang berbelok dari sebuah simpang. Dan aku tak bisa mengendalikan remku, lalu motorku hancur, dan tubuhku diangkat kerumah sakit. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku dipanggilnya untuk meninggalkanmu dan dunia ini” jelasnya. Perasaanku benar-benar sangat hancur dan tanpa kusadari air mataku menetes.

“Zizi, memang hanya kamu yang bisa melihat sosokku. Hanya kau yang dapat menyentuhku. Aku datang hanya untuk memberikanmu sapu tangan ini. Zizi aku mencintaimu. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Maaf kita tak bisa bersama, dunia kita berbeda dan aku bukan manusia. Jaga dirimu baik-baik Zizi, aku sangat mencintaimu” kata kak Abid sambil perlahan-lahan pergi dan menghilang.

 

                Aku menangis mendengar penjelasan kak Abid. Pesan yang dikirim kepadaku kemarin benar. Tuhan, aku sangat mencintai kak Abid. Aku hanya mempunyai sapu tangan pemberiannya ini. Akan kujaga dengan baik sama seperti aku menjaga cintaku untuknya. Selamat jalan kak, aku akan selalu mengenang pertemuan singkat kita… Sekarang kutau, aku mencintai sosok dari bayangan semu. That’s your pseudo shadow.

 

                

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY