Sunrise, Someday.

Sunrise, Someday.

3955
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Kamu adalah alasan mengapa aku berdiri disini, dan sekarang kita tenang bersamanya, bersama sunrise, coffee dan high place.. Dan kita berdiri disini, menunggu akan kehadiran sosok berbias warna, cerah benderang timbul menerangi hati yang gelap. Sunrise, maaf. Aku tidak membencimu, aku hanya sering melewatkanmu.

        “Sial!” maki Vino begitu melihat jam di telepon genggamnya. Pagi selalu datang terlalu cepat bagi cowok itu. Entah pukul berapa dia tidur semalam, emm, lebih tepatnya TERTIDUR. Malam? Bukan juga, dini hari karena telinganya sempat mendengar adzan subuh dari masjid dekat kosnya. Bergegas dia bangun. Tak mungkin sempat mandi. Dibasuh muka sekenanya.

 

         “Sial!” makinya sekali lagi. Dilarikan sepeda motor bututnya memecah jalanan yang sudah ramai.

“Bangun pagi itu menyegarkan loh. Nggak buru-buru dan pastinya kamu bisa liat indahnya saat matahari mulai terbit, sunrise.”

“Tiap hari juga liat matahari,” kata Vino.

“Beda dong. Sunrise itu seperti bayi yang baru lahir. Dia membawa kehangatan juga keceriaan.”

Vino diam sementara pandangannya lurus ke depan. Pandangan yang tak membentur apapun karena gelap. Tubuhnya menggigil pelan.

“Kenapa kamu membencinya?”

“Siapa?” Vino balik bertanya.

“Sunrise.”

Vino belum sempat membuka bibirnya ketika cewek di sampingnya berteriak kegirangan.

“Liat Vino, dia sudah muncul! Itu…liat! Cantik kan?”

“HEY!! Buta ya?” teriak seorang laki-laki setengah baya.

Hampir saja Vino menabrak seorang pejalan kaki. Ah, ini bukan salah Vino. Tak seharusnya laki-laki itu berjalan di badan jalan seperti tadi apalagi saat jalanan sedang ramai seperti ini. Tapi Vino juga lupa kalau pejalan seperti laki-laki tadi pun tak punya pilihan. Trotoar sudah habis dimakan pedagang kaki lima.

 

♣ ♣ ♣ ♣

“Jadi berangkatkan?” tanya Reno.

“Nggak tau, lagi bokek.”

“Sejak kapan bokek menghalangimu? Pokoknya aku tunggu kamu di tempat biasa, aku bosen banget. Cuaca sedang bagus, kita pasti dapat sunrise di sana.”

Vino diam. Dipandanginya kertas hasil kerjanya semalaman yang masih bersih. Dosennya tak mau menerima karena Vino telat.

“Hai, aku Laura.”

Vino yang kedinginan diam.

“Suka naik gunung kok masih kedinginan?” tanya si cewek sambil tersenyum.

Tanpa diminta, cewek bernama Laura itu langsung mengambil duduk di samping Vino.

“Sering kesini?” tanyanya lagi.

“Nggak juga, kalo diajak aja,” kali ini Vino menjawab.

“Sebentar lagi matahari muncul, pasti nanti berkurang dinginnya.”

Cewek berisik, batin Vino. Bagi Vino jam-jam seperti ini adalah saat yang tepat untuk tidur. Dingin, lelah setelah mendaki dan begadang akan membuatnya cepat tidur, tanpa pikiran. Vino menguap, memberi tanda kalau dia ingin memejamkan mata.

“Aneh. Biasa kalo di tempat seperti ini, high place, yang dicari sunrise, nah ini malah mau tidur,” kata si cewek sambil terus tersenyum.

“Sudah, ke ruangannya aja. Sapa tau masih mau menerima. Kalo di kelas kan takut nanti yang lain pada ikut-ikutan telat,” kata Reno membuyarkan lamunan Vino.

Vino bergeming. Sebaliknya, dikeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.

High place, apa yang kucari di sana?” kata batin yang dihembuskannya lewat kepulan asap dari mulutnya.

 

♠ ♠ ♠ ♠

Coffee?”

“Trimakasih,” kata Vino sambil menerima cangkir aluminium kecil yang disodorkan padanya.

Dalam hitungan detik Vino mulai menikmati aliran candu yang memenuhi sistem pencernaannya. Sangat pas, tidak manis tak juga pahit. Tak terasa bibir Vino menyunggingkan senyum.

“Hahaha kamu manis juga kalo lagi senyum.”

Hampir saja Vino tersedak. Tertangkap basah sedang tersenyum, dilebarkan senyumnya sebagai ungkapan terimakasih.

“Sering kesini?” kali ini Vino yang bertanya.

“Lumayan sering. Tidak jauh dan tidak terlalu tinggi,” jawabnya dengan bibir penuh senyum.

“Cewek sepertimu apa masih peduli dengan ketinggian?”

Kali ini cewek itu terdiam. Senyumnya yang tadi lebar menipis. Pandangannya lurus ke depan.

“Menikmati apa yang masih bisa dinikmati,” katanya kemudian.

Vino tak mengerti. Bisa juga cewek berisik itu serius, batinnya.

“Hidup itu seperti secangkir kopi. Ada yang pahit, ada yang manis,” katanya lagi.

“Kita berhenti dulu, kabut terlalu tebal!”

Reno meletakkan tas punggungnya. Dalam hati dia memaki. Bisa-bisanya cuaca berubah sedrastis ini. Rencananya untuk mencapai puncak dan melihat sunrise bisa buyar.

“Sudah, nggak usah maksa. Berhenti dulu sekalian istirahat,” kata Vino.

Reno masih menggerutu. Vino yang kemarin ogah-ogahan ketika diajak terlihat lebih tenang. Yang seperti ini sudah sering terjadi. Puncak bukan segalanya, keselamatanlah yang harus diutamakan.

“Kita istirahat sambil bikin kopi dulu,” kata salah seorang dari rombongan.

 

 

♥ ♥ ♥ ♥

 

 

 

“Hahay….” teriak Reno puas.

“Dasar gila,” kata Vino.

Sebentar lagi matahari akan terbit dan mereka sudah berada di puncak.

“Kopi kamu masih ada?” tanya Reno.

“Masih, ambil saja.”

Perlahan Vino mulai duduk. Dingin yang masih menusuk tersamar oleh rasa, sebuah kedekatan entah pada apa. Langit di hadapannya mulai membiaskan warna. Sunrise, akhirnya dia tiba. Pada suatu ketinggian ada beragam rasa yang berkecamuk, tentang matahari terbit, kopi, puncak juga seorang gadis, yaitu kamu.

You are the reason I am here today. Kamulah yang kucari pada ketinggian ini. Kamu yang tak pernah kusentuh, entah tak tersentuh. Di tempat seperti ini, pada suatu ketinggian, kuharap bisa menemukan sosokmu.” Hanya bisikan, bisikan hati. Tak terucap oleh bibir, bibir yang beku menahan dingin.

“Apa aku mengenalmu? Apa kita pernah benar-benar bertemu? Atau jangan-jangan kamu hanya sosok yang muncul dari candu yang kuteguk pagi itu.” Lagi-lagi hanya kata yang bisu.

“Aku tidak membenci sunrise. Aku hanya sering melewatkannya.”

Sunrise…

High place…

Coffee

You…

adalah candu yang membawaku kembali dan terus kembali ke puncak ini. Someday, ya suatu saat nanti mungkin akan kutemukan sosokmu bukan pada matahari terbit, ketinggian atau kopi tapi benar-benar kamu, di hadapanku.

 

 

Pencarian:

  • puisi tentang sunrise
  • puisi sunrise
  • sajak sunrise
  • Sunrise puisi
  • puisi tentang keindahan sunrise
  • puisi sunryse
  • kumpulan puisi sunrise
  • puisi singkat tentang sunrise
  • puisi sunrise pagi
  • puisi sunrise di gunung

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY