Tentang Kamu

Tentang Kamu

630
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

                Malam semakin larut, mataku tak kunjung lelah, masih segar sekali rasanya. Hari ini sahabatku Riska dan Samantha tidur begitu cepat, mereka adalah teman sekamarku di asrama putri ini. Aku jadi iri melihat nyenyaknya mereka tidur, berbeda denganku yang menderita insomnia ini. Setiap malam pasti begini. Aku membuka ponsel kesayanganku, berniat untuk mendengar musik, siapa tau aku bisa mengantuk lalu tertidur. Kubuka radio dari ponselku, dan terdengar sebuah lagu yang mengingatkanku pada sesuatu. Aku begitu terpaku, lagu ini mengingatkanku pada seseorang..

Ku tak bisa menebak, ku tak bisa membaca tentang kamu, tentang kamu..   

Kau buatku bertanya, selalu dalam hatiku tentang kamu, tentang kamu..  

Bagaimana bila akhirnya kucinta kau? 

Dari kekuranganmu hingga lebihmu..  

Bagaimana bila semua benar terjadi? 

Mungkin inilah yang terindah..  

Begitu banyak bintang, seperti pertanyaanku tentang kamu, tentang kamu..

 

 

                Lagu itu berlalu begitu saja, namun tidak seperti pikiranku. Segala memori kembali menerpa ingatanku. Aku benar-benar terdiam, terdiam dan terdiam. Benar-benar seperti bukan diriku, aku terus saja mengingat seseorang itu. Aku ingin melupakannya, tetapi apalah daya, mungkin aku masih mencintainya.

 

♥♥♥♥♥

                Hari ini adalah hari yang cerah, aku pergi kesekolah seperti biasa.

“Arin, tolong bantu bapak membawa buku-buku ini ke kantor” minta pak Agus sambil menyerahkan beberapa buku latihan itu. Tanpa banyak soal, aku langsung mengambilnya dan kami berjalan beriringan menuju kantor.

Ketika aku hendak melangkahkan kakiku masuk kedalam kantor, terpaku aku dengan suatu objek disana. “Oh My God, cute bangeeettt!!” dan dia mengarahkan pandangannya kepadaku. “Astaga sepertinya aku jatuh cinta at the first sight nih!”

“Arin, ayo masuk. Apa yang kamu lihat disana?” pak guru memanggilku dan membuyarkan segala pikiranku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Untunglah pak guru gak tau kalo aku lagi terlena menatap seseorang. Siapa ya anak itu? Lucu banget!” bisikku dalam hati.

                Ketika hendak melangkah keluar dari kantor, aku mencari-cari seseorang yang sudah mencuri perhatianku tadi. “Kemana dia ya? Cepat sekali menghilangnya” gerutuku dalam hati.

“Excuse, bisa geser dikit nggak? Saya mau lewat” ujar sebuah suara dari belakangku.

“Oh sorry, sorry” akupun segera keluar dari kantor dan membiarkan seseorang lewat. Astaga apa yang aku lamunin? Sampai berdiri-berdiri gak jelas didepan pintu! Malunya aku.

“It’s oke!” ujar suara itu. OMG! Ternyata dia anak laki-laki yang kucari tadi. Indah sekali senyumannya! Aku penasaran sekali dengannya. Untunglah dia tidak tahu kalau aku sedang mencarinya.

 

♥♥♥♥♥

 

                Sesampainya dikelas, aku langsung menemui Riska, sahabatku. Tak sabar aku untuk curhat dengannya soal laki-laki yang rupawan tadi.

“Riskaa, mau dengar cerita aku nggak?” tanyaku sambil tersenyum nakal. Dan Riska pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Kamu tau nggak, tadi aku jumpa sama prince charming loh! Cute banget cyin. Sepertinya aku jatuh cinta nih” kataku sambil tersenyum-senyum. Tampak jelas dimataku kalau aku masih terbayang-bayang wajah laki-laki itu. Entah siapalah nama laki-laki itu. Aku sebut saja dia prince charming.

“Kamu tau nama dia gak Ris? Siapa tau kamu pernah jumpa” sambungku lagi.

“Yaelah nggak la Arin, jumpa aja gak pernah. Disekolah ini kan banyak cowok ganteng, mana mungkin aku hapal satu persatu”

“Hm, padahal aku pengen tau banget nih” ujarku.

“Kalo enggak kamu tanya aja langsung siapa namanya” saran Riska.

“Ah gile lo! Gatau malu banget gue nanya begituan” jawabku.

“Halah, lo sok gengsi banget, hahaha” Riska tertawa akan tingkah konyolku.

 

♥♥♥♥♥

 

                Sebulan kemudian, suara teman-temanku yang berisik dikelas ini membuatku mengambil keputusan untuk keluar dari kelas, sekalian ngambil udara pagi yang sejuk ini, pikirku. Kelasku yang berada dilantai 3 ini membuatku dapat melihat pemandangan ke lantai bawah. Dimana semua murid-murid berlalu-lalang.

                Tiba-tiba mataku terfokus pada suatu objek. Objek yang memakai sweater grey yang sedang tersenyum kepada temannya itu. Aaaa so sweet! Itu dia orang yang kusukai, dia baru saja datang dan sekarang dia sedang berdiri didepan gerbang sambil berbicara kepada seorang temannya. Handsome banget!

“Daritadi aku liat kamu sibuk tersenyum memperhatikan lelaki itu ya Rin” ujar Samantha yang datang tiba-tiba menghampiriku. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Dia itu pacarnya Clara, anak IPA-5. Dan nama lelaki itu adalah Alan Alvander, dia anak IPA-2. Aku kenal kok sama si Alan.

“Hah? Clara? Jadi dia udah punya pacar?” aku langsung putus asa mendengar perkataan Samantha tadi. “Ah sudahlah Arin, banyak yang lebih cute dari dia kok” bisikku dalam hati.

“Hai Samantha, hai Arin. Kalian ngapain disini?” akupun berbalik, ternyata Riska.

“Gak ngapain kok Ris, cuma mau menghirup udara segar aja. Lagian didalam kelas berisik banget, kan ibu guru belum datang”

“Iya, beberapa hari belakangan ini ibu itu terlambat mulu” sambung Samantha.

“Siapa yang terlambat terus?” sontak suara yang tak asing lagi bagi kami itu sangat mengejutkan. Aku dan Samantha saling bertatapan sebelum akhirnya kami berbalik. Dan ternyataaaa, dia adalah ibu guru!

“Bukan siapa-siapa kok bu, hehehe” dan kami bertigapun berlari masuk ke kelas.

 

♥♥♥♥♥

 

                “Arin, cepat dikit dong!”

“Iya sabar, kamu kok tergesa-gesa gitu sih?” kataku dengan geram. “Kalo udah telat, mau secepat apapun ya pasti telat juga kok” sambungku lagi.

“Gile lo! Ibu Rama udah nunggu kita sore ini!”

Aku berlari-lari kecil untuk menyaingi langkah Samantha. “Cepat banget jalannya nih anak. Kayak pemenang lomba gerak jalan aja” gerutuku dalam hati.

“Hai Samantha, lo mau kemana?” sapa seseorang. Aku dan Samantha memberhentikan langkah.

“Eh eh Arin, coba deh liat” bisik Samantha sambil tersenyum nakal kepadaku. Aku pun melihatnya, dan… dia adalah Alan!

“Eh, hai Alan. Kita mau ke rumah bu Rama. Perkenalkan ini sahabatku Arin” kata Samantha.

“Aku Alan” dia memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan.

“Aku Arin” balasku sambil tersenyum.

“Em, kita pergi dulu ya Al, udah ditungguin bu Rama” ungkap Samantha yang tampak tergesa-gesa.

“Oke deh, bye” kata Alan.

                Aku dan Samantha melanjutkan perjalanan dengan laju yang cepat. Aku sangat senang sekali karena Samantha udah memperkenalkan dia kepadaku. Aaaa betapa berbunganya hati ini.

 

♥♥♥♥♥

 

                Dinginnya malam ini tidak menghalangiku untuk terus menatapi langit malam ini. Aku duduk diatas kursi malas diteras asrama ini. Beberapa hari belakangan ini aku sering sekali termenung. Tiba-tiba Samantha datang menghampiriku.

“Hai Rin, tampaknya kamu punya masalah. Benar begitu?” tanya Samantha. Aku menoleh sekilas sebelum akhirnya aku menggelengkan kepala.

“Terus kenapa aku perhatikan kamu sering termenung?” tanya Riska prihatin.

“Em, gapapa Tha. Tadi disekolah aku liat kamu dari kejauhan berbicara dengan Alan. Kalo boleh tau, kalian bicarain apa?” tanyaku penasaran.

“Ya dia nanyain kamu lah.  Dia nanya semua tentang kamu. Kamu tau nggak, dia sebenarnya pengen minta nomor handphone kamu untuk berkenalan lebih dalam denganmu. Tapi dia malu-malu, dia takut kamu gak ngasih” kata Samantha yang tampak bersemangat menceritakan kejadian itu.

“Ah, ntar bohong..” jawabku tak percaya.

“Hei Riska, gak ada manfaatnya aku nipu kamu. Oh iya, nah ini nomor handphone dia. Save ya, hehe” kata Samantha yang setelah itu pergi meninggalkanku diteras.

 

♥♥♥♥♥

 

                Seperti biasa, aku pasti berdiri didepan kelas. Dari kejauhan ini aku bisa melihat Alan berjalan menuju kelasnya. Senang juga, pagi-pagi udah bisa menatap wajahnya walau hanya dari kejauhan. Melihatnya aku jadi senyum sendiri kayak orang gila. Dan akhir-akhir ini aku semangat sekali untuk sekolah, semangat untuk melihat wajahnya.

                Diluar dugaanku, aku melihat Alan yang berjalan menuju kekelasku. Tampak ada yang berbeda, hari ini dia menggunakan sweater merah.

“Kamu lihat apa Rin?” tanya Riska.

“Ah nggak liat apa-apa kok Ris” jawabku sambil memalingkan wajah.

“PR Matematika kamu udah siap belum?” tanya Riska. Aku hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalaku.

“Wah kebetulan dong, aku pinjem ya” katanya.

“Ah kamu nih, ambillah ditasku” jawabku. Lalu Riska masuk kekelas untuk mengerjakan PR Matematikanya, aku tersenyum melihat tingkahnya yang begitu sibuk sekali. Hihihi.

                “Kayaknya ada yang lagi senyum sendiri nih” kata sebuah suara dari belakangku. Aku pun berbalik. Hah? Gak salah liat nih? Aku gak lagi mimpi kan? Alan? OMG! Aku mencubit tanganku memastikan ini semua bukan mimpi.

“Aw!” aku kesakitan akan cubitanku itu. Konyol.. berarti ini bukan mimpi.

“Kamu kenapa?” tanya Alan bingung.

“Gapapa kok” terpaksa aku berbohong untuk menutupi kekonyolanku itu.

“Oh iya, aku selalu liat kamu berdiri disini. Aku selalu melihatnya dari bawah” kata Alan.

“Yap, aku cuma mau ngambil udara pagi” jawabku sambil tersenyum.

“Benar juga, memang bagus pemandangan dari atas sini” ujar Alan.

“Kamu udah punya boyfriend?” tanya Alan lagi. Terkejut aku mendengar pertanyaan Alan tadi. Aku jadi salah tingkah. Apa dia suka samaku ya? Ah, ngaco!

“Enggak” jawabku singkat.

“Pantesan aku gak pernah liat kamu jalan bareng sama cowok” kata Alan.

“Kalo kamu, girlfriendnya mana?” tanyaku dengan penuh rasa keingintahuan.

“Hai beb!” terdengar suara seorang gadis yang memanggil Alan.

“Eh, beb. Darimana?” tanya Alan. OMG! Mimpi apa gue semalam? Kenapa gue harus nonton tayangan seperti ini pagi ini? Cemburu? Iyalah, gue cemburu banget!

“Barusan buang sampah beb. Lagi ngomong-ngomong sama Arin ya?” tanya Clara pacar Alan.

“Iya beb, sudah kenal sama Arin ya?” tanya Alan lagi.

“Udah kok, aku juga sering kesini” jawab Clara.

“Oh iya Rin, ini dia pacar aku. Kalo begitu kami pergi ya, oh iya jangan lupa kenalin pacar kamu sama aku” ujar Alan sambil beranjak pergi dari tempat ini.

“Okedeh Al” kataku.

 

♥♥♥♥♥

 

                Setahun berlalu, nada dering handphoneku yang begitu nyaring ini mematikan lamunanku. Ada seseorang yang menelponku. “Siapa sih yang mengganggu orang malam-malam gini?” bisikku dalam hati.

“Halo, dengan siapa?”

“Halo, benar ini Arin?”

“Ya, saya sendiri. Anda siapa?”

“Sorry mengganggu Rin. Aku Alan. Alan Alvander. Ingat gak? Dulu kita satu sekolah” aku terdiam sejenak. Hah? Alan? Aku benar-benar terkaget.

“Oh kamu Al, anak IPA-2 itukan?” tanyaku.

“Ya, kuat juga daya ingat kamu ya. Apa kabar? Lama gak ketemu ya” aduh pria ini membuatku lemas seketika, belum lagi dulu aku menyukainya. Aku jadi teringat semua tentang dia.

“Ya aku kan selalu makan vitamin, hehehe. Aku baik-baik aja kok. Kamu apa kabar? Ada cerita apa nih? Aku pengen tau tentang kamu yang sekarang” tanyaku.

“Aku tuh lebih tua dari kamu. Seharusnya kamu yang cerita duluan dong”

“Ah kamu nih. Mentang kamu tuh lebih tua ya. Ayolah kamu cerita duluan!”

“Oke oke. Sekarang aku udah kerja di perusahaan papa, jadi direktur. Dan sekarang aku udah punya sebuah kebun anggur di Bandung. Kalo kamu? Udah terima hasil ujian?”

“Inilah aku lagi nunggu hasil, pengen cepat-cepat kerja rasanya”

“Ya kamu kan harus kuliah dulu Rin”

“Hehehe”

“Oh iya Rin, gimana sama boyfriendnya? Udah bisa dong dikenalkan ke aku”

“Bukannya gak mau kenalkan ke kamu. Tapi dari dulu aku gak punya pacar”

“Baguslah kalo kamu belum punya” kata Alan yang membuatku terkejut.

“Maksud kamu, Al?

“Maksudku? Haha, nggak apa-apa kok. Nanti aku call lagi ya Rin, ada yang harus aku kerjakan sekarang. Bye” katanya sambil mematikan panggilannya tanpa sempat aku mengungkapkan sesuatu.

 

♥♥♥♥♥

 

                Sejak hari itu aku dan Alan semakin dekat, setiap pagi dia selalu menyambutku layaknya mentari dipagi hari dengan meneleponku semata-mata untuk membangunkan dan mengucapkan selamat pagi buatku. Seperti biasa, jam 06:00 pagi aku ditelepon Alan, dan deringan handphoneku ini mengejutkanku.

“Halo”

“Halo cantik. Good morning, baru bangun ya?” terdengar suara ceria Alan ditelingaku. Aku tersenyum bahagia. Dan seketika aku berfikir, apa ya perasaan Alan kepadaku? Apakah dia mencintaiku seperti aku mencintainya?

“Morning too. Ini aku baru bangun”

“Bagus, langsung mandi ya”

“Oke oke”

“Eh Rin, tunggu dulu”

“Ada apa, Al?”

“Besok tanggal berapa?”

“Liat dikalendar dong”

“Aku mau nanya sama kamu”

“Besok tanggal 14 Februari, kenapa? Kamu ulang tahun ya?”

“Bukan Arin, itu hari valentine”

“So? Gue harus bilang wow gitu? Hehehe”

“Yaelah, besok kita jumpa disekolah kita yang dulu ya”

“Ngapain?”

“Ah udalah, dateng aja”

“Yasudah. Bye” Aku menipu Alan, aku tidak akan datang untuk menemuinya. Aku teringat tentang dia yang dulu menyia-nyiakan perasaanku kepadanya.

 

♥♥♥♥♥

14 Februari 2013

                Aku masih terbaring ditempat tidurku, aku tak menghiraukan janjianku dengan Alan. Bahkan ini sudah jam 10:30. Tak ada pesan yang masuk kehandphoneku, dan teleponnyapun tak kunjung datang. Aku cuek dan tak mempedulikannya. Terdengar suara orang mengetuk pintuku.

“Kak Arin! Buka pintunya” ternyata adikku Vina datang. Dia adalah remaja yang sangat ceria, tak seceria aku.

“Ada apa?”

“Aku punya kaset DVD loh”

“Film apa?”

“My Last Love kak”

“Wah, film itu? Kamu dapet darimana? Kakak pinjam dong”

“Semalam aku jalan sama temen ke mall. Cari-cari film terbaru. Nah dapetnya ini kak”

“Pinjem ya dek”

“Nih kak”

“Nah kamu pergilah sana, biar kakak menonton”

 

♥♥♥♥♥

Seminggu kemudian

                Aku melamun sendirian dirumah. Semua keluargaku sudah pergi ke hajatan perkawinan sepupuku. Tiba-tiba aku teringat kepada seseorang yang sudah berhasil mencuri hatiku dimasa sekolah dulu. Apa kabarnya sekarang? Seminggu dia tak menelepon atau mengirimkan sms kepadaku. Apakah dia marah padaku karna aku tak menemuinya kemarin? Lupakah dia padaku?

                Entah kenapa sekarang ini aku sangat merindukan Alan. Ingin sekali aku bertemu dengannya. Tiba-tiba lamunanku terhenti karena mendengar bel rumahku berbunyi. Serentak itu, aku menoleh kearah pagar rumahku. Kulihat ada seorang anak-anak yang memencet-mencet bel rumahku. Akupun segera menghampirinya.

“Nyari siapa dek?”

“Kakak ini yang namanya Arin ya?”

“Iya dek, kenapa?”

“Ini kak, ada sesuatu dari kak Alan” sambil mengulurkan kotak hadiah yang telah dibungkus rapi.  Kemudian anak itu berlalu pergi dan berlari tanpa sempat aku mengucapkan sesuatu.

                Aku kembali ke kamarku, aku membuka kotak hadiah itu. “Wah, isinya novel. Novel Refrain! Novel yang kucari-cari selama ini.” Berdebar hatiku membaca synopsis novel itu. Saat tengah asik membaca, ada sebuah kertas kecil yang jatuh. Aku mengambil lalu membacanya.

Arina Dyalisa..  

Aku mencintai semua kekurangan hingga lebihmu. Engkau akan senantiasa dihatiku. My love for you is eternity, even it just was a broken promise for you. 

Love you forever.. Alan Alvander.

 

♥♥♥♥♥

 

                Aku dan adikku sedang menikmati keramaian dipasar malam.

“Hai Rin!” terdengar sebuah suara memanggilku. Aku membalikkan badanku melihat siapa gerangan yang memanggilku.

“Haiii Samantha!!! Kangen banget sama lo!” aku memeluk sahabatku itu, meluapkan segala kerinduanku padanya.

“Aku juga kangen banget sama lo Rin. Gak nyangka kita bisa jumpa malam ini”

“Iya Tha, tiba-tiba hati ku tergerak buat main kesini. Biasanya gue Cuma bengong aja dirumah”

“Eh kamu udah tau nggak?” tanya Samantha dengan sedikit mengerutkan keningnya.

“Tau apa Tha?”

“Soal Alan”

“Alan? Kenapa dengan Alan? To the point aja deh Tha” aku semakin penasaran.

“Yaampun ternyata kamu belum tau ya”

“Kasitau dong, biar aku tau”

“Dia udah meninggal Rin. Aku dengar dari Jack, sahabatnya. Dia meninggal saat dia on the way pulang kerumah di malam tanggal 14 Februari kemarin. Kira-kira pukul 11 malam, dan kata satpam juga dia udah nunggu seseorang seharian. Katanya dia ada kencan hari itu, tapi orang yang ditunggunya gak datang.  Kebetulan pada saat itu hujan lebat, dan jalanan licin banget. Malah lagi dia pake sepeda motor. Dia hanya bisa bertahan 3 jam saja di ICU” terang Samantha panjang lebar.

“Hah? Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Gue gak nyangka Tha, gue jahat banget. Dia itu nungguin gue, gue sengaja gak datang karena gue males banget saat itu”

“Yaampun Rin, tega banget sih lo. Yauda sebagai pertanda minta maaf lo, lo besok ikut gue ke makamnya ya”

SHARE
Previous articleLukarela
Next articlePseudo Shadow
Author di nonadmk.blogspot.com Visit me : @NonaNadaDamanik via twitter

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY