Terukir di Bintang

Terukir di Bintang

591
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Apakah kamu pernah mendengar tentang cinta yang terukir di bintang? Jika tak pernah, maka aku tak terkejut. Karena aku sangat yakin seyakinnya bahwa tak akan ada orang yang mengalaminya, kecuali aku.

 

Bisa dibilang ini adalah kisah cinta. Aku tak peduli apa yang orang katakan. Karena kamu dan mereka takkan pernah tahu aku siapa. Apakah kamu tahu bagaimana cintaku kepadanya?

 

♥ ♥ ♥ ♥

“Hey, kamu mau buat apa dengan botol itu?” tanya Claudia. Keningnya mengerut menandakan ketidakpahamannya. Mungkin dia heran melihat aku meletakkan botol kelima diatas meja belajarku.

 

Aku hanya tersenyum.

              

“Alisa… Buat apaan sih?” tanya Claudia sekali lagi. Raut wajahnya tampak bingung sekali.

               

Aku berbicara dalam hati, Maaf Claudia… Bukannya aku tidak mau memberitahukan kamu soal hal ini. Tapi ini projek rahasiaku. Mana mungkin aku memberitahukan kepadamu.

               

 “Ah. Cuma mau ngoleksi aja kok, Clau” ujarku. Aku menatapi botol-botol kaca yang ada dimejaku ini. Bibirku tak lekang dengan senyuman. Senyuman membayangkan apa yang akan aku lakukan dengan botol-botol ini.

               

“Koleksi botol? Aneh banget. Tuh diluar banyak botol plastik. Kenapa harus yang kaca?” tanya Claudia penasaran.

               

“Ya justru karena botol plastik ada dimana-mana makanya aku lebih mutusin ngoleksi yang kaca aja” jawabku ringkas. Kulihat Claudia memonyongkan bibirnya. Barangkali dia merasa aneh melihat tingkahku ini. Maaf Clau, aku harus berbohong. Aku tidak mau siapapun tau tentang rencanaku dengan botol ini. Dan aku harus berhasil.

 

 ♥ ♥ ♥ ♥

 

Satu persatu kertas hias dihadapanku ini kugunting. Dari semalam memang aku sudah membeli kertas-kertas warna-warni berkilat ini.

 

Seusai menggunting kertas-kertas ini menjadi bagian-bagian kecil, aku mengambil pulpen warna-warni . Projek rahasia akan dimulai hari ini. Kuambil kertas biru yang telah aku gunting tadi, lalu aku coretkan sepotong kata-kata disitu.

 

“Jika kau minta intan permata tak mungkin ku mampu. Tapi sayang kan ku capai bintang dari langit untukmu.”

               

Kertas tadi kulipat menjadi sebuah bentuk pentagon. Kulipat sedemikian rupa. Jadilah sebutir bintang! Aku senyum sendiri menatapi kerjaan tanganku. Ini adalah bintang pertama yang akan aku masukkan kedalam sebuah botol yang aku kumpulkan tadi.

Aku tak pernah tau siapa tunanganku. Bahkan melihat wajah ataupun fotonya aku tak pernah. Yang ku tahu dia adalah seorang pria yang sedang menyelesaikan kuliahnya di Australia. Dan meskipun aku tidak mengenalnya, tidak pula ku coba untuk mengabaikan atau melupakannya. Aku justru memikirkannya, dan membayangkan wajahnya melalui mata hatiku.

               

Aku tidak tahu bagaimana caranya menjalin hubungan dengan orang yang perwatakannya berbeda denganku. Misalnya saja aku adalah seorang gadis tomboy, dan tunanganku adalah seorang ustadz. Apa yang terjadi? Bisa saja hal itu terjadi, kan? Lagipula, aku juga tidak meminta untuk ditunangkan. Orang tuaku lah yang menjodohkan aku.

               

Karena aku tidak pernah berbicara dengan tunanganku, maka apabila aku tiba-tiba teringat padanya,  akan aku tuliskan kata-kata yang melintas dibenakku diatas kertas berwarna-warni ini.

♥ ♥ ♥ ♥

               

Hari ini adalah hari dimana aku sudah menjalani yang namanya ‘tunangan’ selama dua tahun. Dalam arti, sudah ada 730 butir bintang yang telah aku masukkan kedalam botol itu. Dan aku rasa itu cukup banyak menghitung penantianku untuk bertemu dengan tunanganku selama ini.

               

“Alisa, udah siap?” Suara mama yang datang dari belakang berhasil mengejutkanku.

               

Aku menoleh kearah mama. Ku letakkan tanganku diatas dada, merasakan degupan jantungku yang entah kenapa menjadi berguncang hebat seperti ini.

               

“Udah ma” jawabku sedikit gugup.

               

 Mama tertawa kecil sejurus setelah aku selesai berbicara.

               

“Gak usah grogi gitu dong yang mau ketemu sama tunangannya. Baru gitu aja udah deg-degan” ledek mama.

 

“Ihhh, mama! Aku tuh deg-degan bukan karena mau ketemu dia. Tapi karena mama ngagetin aku. Mama sih, nongol tiba-tiba” ujarku membela diri.

               

Mama tersenyum memandangku, “Udah… Keluar gih. Dia udah nunggu kamu diluar”

               

Aku mengangguk lalu berdiri menuju pintu kamarku. Kudongakkan sedikit kepalaku keluar. Ya, dapat kulihat pemandangan dimana seseorang bertubuh putih dan lumayan tinggi sedang membelakangiku saat ini. Perlahan-lahan aku mulai menapakkan kakiku menuju seseorang itu.

               

“Assalamualaikum…” ujarku seraya berdiri agak jauh darinya.

               

“Waalaikumsalam…” balasnya. Sebuah suara yang ingin sekali kudengar, kini menerobos masuk ke gendang telingaku. Suara yang berat, khas dan berwibawa.

 

               

Pemilik suara itu berpaling memandangku. Dia tersenyum, sangat manis. Dia begitu tampan. Sama seperti yang ada didalam bayanganku selama ini. Aku selalu memimpikannya dalam tidurku. Ya, persis seperti ini.

 

♥ ♥ ♥ ♥

 

                “Botol apa ini sayang?” ucap Davin, tunanganku saat melihat ada 5 botol kaca yang terpampang dimeja riasku. Terasa membahang pipiku mendengarnya memanggilku sayang.

 

                “Ini projek rahasia” ujarku pelan.

 

                “Rahasia? Sama aku juga pake rahasiaan?” tanya Davin pelan.

 

                “Bukan rahasia kok sayang” ucapku sembari tersenyum kepadanya.

 

                “Baik, kalau begitu beritahu aku tentang botol ini.” Bisiknya ketelingaku.

 

                Aku menatap mata Davin lekat-lekat. Mencoba memberitahukan semua ini.

 

                “Didalam botol ini ada 730 bintang kertas. Setiap hari kamu hanya boleh ngambil satu. Lalu kamu buka lipatan dan baca isi nya. Aku menulis apa yang aku pikirkan selama 2 tahun di bintang-bintang ini” jelasku.

 

                “Kalau aku buka semuanya hari ini boleh?” tanya Davin. Tampak dari raut wajahnya, dia begitu penasaran dan rasanya ingin sekali membuka bintang-bintang ini.

 

                “Enggak bisa. Kamu harus buka satu perharinya.” Ujarku tegas.

 

                “Kalau begitu, berarti aku boleh mengambil satu sekarang” ucapnya. Dengan cepat dia berjalan ke meja riasku. Dia membuka tutup botol itu, lalu mengambil satu bintangnya. Bintang berwarna merah muda.

 

                Dia bergegas duduk disebelahku, tangannya membuka cermat bintang itu. Aku juga bertanya-tanya dalam hati, tulisan yang mana satu yang diambilnya untuk hari ini. Belum sempat aku melihat isi tulisan itu, Davin langsung memeluk tubuhku erat.

                “Begitu besar anugerah yang telah Tuhan berikan padaku lewat dirimu. Aku akan bertemu dirimu nanti, dan tiada  mati cintaku padamu. Jadilah milikku selamanya, dan akupun jadi milikmu selamanya. Dengan segala puji bagi Tuhan, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu”

 

                Dia menunjukkan kertas itu padaku. Aku ingat, aku menulis bintang itu saat dua hari sebelum kedatangan Davin. Merona merah wajahku saat itu.

 

                “Sekarang aku sudah disisimu, sepenuhnya milikmu. Aku mencintaimu karena sebuah alasan, alasannya Tuhan. Aku mencintai mu karena Tuhan. Begitu sederhananya kebahagiaan itu terlahir saat aku sekedar melihatmu untuk kali yang pertama, kedua, dan seterusnya. Tak ada habisnya.” Ucap Davin. Sementara tangannya menggenggam lembut tanganku.

 

Sayangku jangan kau persoalkan siapa dihatiku. Terukir di bintang, tak mungkin hilang cintaku padamu…

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY