Kemarin dan Secangkir Cokelat Panas | Nona Damanik

Kemarin dan Secangkir Cokelat Panas | Nona Damanik

938
0
SHARE

Kemarin, secangkir coklat panas, menemani soreku tanpa kamu.
Tanpa senyum kamu
Tanpa tawa berderai kita

Kemarin, ingatanku kembali ke sore itu.
Hujan yang mengimbas di sudut pintu Starbucks, seperti  layaknya air mata yang mengimbas di kelopak mata kita.

Aku lupa. Siapa yang menangis?
Apakah kamu?
Apakah aku?
Kita terlalu sering menangis saat itu..

Kemarin, khayalanku tentang senja, tentang sabtu malam, tentang segelas coklat panas.
Membuatku rindu “kita”
Kemarin, itu saja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY