Seharusnya Kau Ada Disini

Seharusnya Kau Ada Disini

819
0
SHARE

Ada ruang kosong dihatiku. Ruang kosong yang merindu sosok lama itu. Ruang kosong yang terus mencari, entah kemana. Ruang kosong yang terus-menerus termanggu dan tak jenuh menunggu. Sosok itu, telah mengubah alur dihidupku. Menyalakan kobaran penyesalan dalam rongga-rongga jiwaku.
 
Ruang kosong dihati ini ternyata ternganga begitu lebar. Bahkan kutemui beberapa sosok yang berusaha tuk menyelinap kedalamnya. Akankah kubiarkan? Lantas, bagaimana denganmu—masa lalu yang selama ini ku rindu? Adakah ingatanmu tentangku walau seujung kuku? Izinkah engkau membiarkanku merasakan rindu yang memporak-porandakan hati ini?
 
Begitu pilon dan munafiknya diriku tuk bersandiwara mencintai apa yang sama sekali tak kuhasrati; mencintai sosok lain yang bukan dirimu. Walaupun ku berpura-pura untuk memupuskan perasaanku terhadap sosokmu. Betapa mudahnya sosokmu itu membuatku mengkambinghitamkan perasaanku sendiri. 
 
Betapa mudahnya sosokmu itu membuatku begitu terkepung dalam himpitan penyesalan. Ah… begitu klise cerita ini untuk ditilik. Tak bisa ku menampik betapa berharganya kehadiran sosokmu dahulu.
 
Tidak! Aku takkan membiarkan ruang kosong dihatiku itu terus menganga. Takkan kubiarkan sosok manapun berada didalamnya—selain dan hanya engkau. Aku mengalah kepada cinta yang egois ini. Aku rela, bila harus merintih sakit bersama sosokmu yang selalu menebar aroma rindu disekujur tubuhku. Aku rela, mendekam dalam relung hati yang memenjara bersama kenanganmu. Aku rela, bila harus terperangkap dalam rindu yang entah sampai kapan.
 
Akupun menikmatinya… Aku begitu menikmati segala rindu yang berbaur dengan penyesalan ini. Dan akupun percaya, perlahan semua ini akan bersulih menjadi candu tersendiri. Aku akan berusaha berkomplot dengan perih batin yang teraniaya ini. Aku akan berupaya bahagia menghadapi kenyataan yang penuh ambigu ini. Mungkinkah aku bisa lunak dengan melihatmu bersandingan dengan cinta barumu?
 
Entahlah… Akan kunikmati rindu penuh candu ini. Akan kunikmati cinta penuh sesak ini. Akan kunikmati rasa yang tak bertapal batas ini. Akan kunikmati sesal yang melimpah-ruah ini. Kan tetap kubiarkan diriku terjelabak bersama impresimu. Mencintai walau tak berbalas. Mencintai walau tak seorangpun mampu menyingkap. Mencintai walau memendam dalam bilik besar yang mengurung.
 
Kasih… Tak ada alasan bagiku untuk menyumbat aliran rindu berpadu cemburu yang melimpah-ruah membasahi jiwa yang tandus ini.
 
Hari ini aku paham sebuah cerapan, tentang cinta yang kau ajarkan. Tentang cinta yang sempat kau padu-padankan dalam hidupku. Cinta yang begitu indah bak kerlipan bintang nun jauh disana. Cinta yang tak pernah terduga  menyembur deras—sederas mata air nirwana. Cinta yang tak kalah indah dengan bianglala diawan senja. Cinta yang begitu misterius, membuatku menerka-nerka, dimana batasnya ini? Kapan berakhirnya ini? Terlalu indah bagiku untuk terus mencintaimu, walau tak ku tahu dimana ujung semua ini. Sampai kapanpun, kau takkan bisa kuraih lagi.
 
Penyesalan ini amat membatin, terpatri abadi, terpasung mati dalam sebuah jiwa yang sepi. Penyesalan karena tak pernah ku memuja cinta yang dulu kau tautkan kedalam sukma yang hampa ini. Penyesalan karena aku pernah menganggap apa yang kau beri begitu berharga nilainya setelah kau pergi. Sekarang kusadar, cinta yang sempat engkau tanamkan dan telah berakar itu begitu terasa menjalar-jalar menguasai hati ini. Bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk mencabut cinta itu hingga ke akarnya.
 
Tidakkah kau ingat betapa komitmen kita dulu jelas terucap? Ada alam sebagai saksinya. Saksi dimana kau mengucap kata cinta dengan fasihnya.
 
Pujaanku… Sebenarnya sangat tak perlu kucoba untuk terus menerka perasaanmu padaku. Aku sudah mengerti bahkan sebelum kau memberitahu. Hanya semudah membalikkan telapak tangan saja bagimu membuang rasa-rasa yang dulu tumbuh aneh dan bergejolak dahsyatnya itu.
 
Maka, izinkan aku mencintaimu, kasih… Dibawah naungan cinta yang tak jelas apakah nyata atau imaji ini. Izinkan aku merindumu, kasih… Dibawah kasidah dan alunan indah melodi yang begitu ritmis beresonansi di jiwa ini. Izinkan aku mengingatmu, kasih… Dibawah pijaran perasaan yang tak pernah temaram ini. Izinkan aku berada dalam kefatamorganaan ini, kasih… Dibawah dunia khayal yang tak hentinya berilusi bahwa aku dan engkau adalah satu didalam keabadian. Izinkan aku memilikimu, kasih… Dibawah mimpi tak nyata yang bersarang dalam kesendirian.
 
Inikah yang namanya penantian? Aku baru mengetahuinya sekarang. Ternyata kesendirian ini tercipta dengan sendirinya karena tak ada kau yang mengisinya. Maka, biarkan aku sendiri, mencinta walau tak berbalas. Kau adalah alasan buatku untuk tak mencintai siapapun—selain dan hanya dirimu.
 
Kerinduan ini…
Ah, seharusnya kau ada disini…
 
[author image=”http://4.bp.blogspot.com/-6WwNuw-umaY/U0KyJ7GI-3I/AAAAAAAAAv0/6NZX_yWWhpE/s366/DSC_0491.JPG” ]Nona Nada Damanik. Virgo. Masih 16 Tahun. Sanguin. Manis dan menarik. Author di: http://nonadmk.blogspot.com[/author]
SHARE
Previous articleTeringat
Next articleAku Cantik
Author di nonadmk.blogspot.com Visit me : @NonaNadaDamanik via twitter

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY