Aku Bukan “Mainstream”

Aku Bukan “Mainstream”

1040
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Sebelumnya ada baiknya kita berkenalan singak dengan sosok Sapardi Djoko Damono. Tokoh sastra, penyair dan pendidik. Lahir di Solo, 24 Maret 1940. Memasuki dunia kepengarangannya sejak puisinya dimuat di Mimbar Indonesia yang diasuh HB Jassin, saat ia masih duduk di bangku SMA II Solo. Ia kemudian melanjutkan studi di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dan lulus tahun 1964. Ia juga pernah menuntut ilmu di Universitas Hawaii Amerika Serikat pada tahun 1970-1971. Pernah menjadi dosen di IKIP Malang, Cabang Madiun, Universitas Diponegoro, dan kemudian di Universitas Indonesia, dimana ia memperoleh gelar doktor serta menjadi profesor tahun 1994. Tahun 1996-1999 menjadi Dekan Fakultas Sastra UI.

[divider]

Aku Ingin.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu.
 
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
 
Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 

Bagi saya sendiri, bermakna si penulis hanya ingin mencintai sang wanitanya, tanpa dengan adanya harta, syarat atau kasta. atau cinta sebenarnya yang tulus dari hati tanpa ada gangguan apapun.

Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Dan sayangnya si penulis tidak sempat mengungkapkan rasa cintanya, rasa cinta yang sangat ingin diungkapkannya.

Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Nah, dalam perihal kalimat ini sedikit sulit dimengerti, dan setiap orang pasti akan mengartikan makna kalimatnya sesuai apa yang pembaca pahami sendiri. Disini yang menjadi fokus para pembaca puisi ini adalah kata Kayu, Api, dan Abu menurut saya api adalah rasa cinta atau hasrat menggebu dan membara si penulis yang berkobar dan terburu dan “abu” adalah hasil dari rasa cintanya.

Disini saya mencoba membedah puisi ini secara ilmiah dan logis dalam memaknai kalimat ini. Tentang hasil dari pembakaran kayu dan api, yang saya tanggap kayu di sini adalah proses, tahapan, atau penungguan si penulis. Karena kayu berasal dari pohon yang tumbuh dari beberapa ranting hingga menjadi beribu ranting dalam proses yang sangat memakan waktu dan juga karena proses pemupukan, sama halnya dengan cinta si penulis terhadap wanitanya yang pastinya juga di “pupuk” dan memakan waktu dan proses yang amat sangat lama.
Namun ada kerancuan antara kayu, api dan abu jika dimaknai sebagai hasil dan proses.

Kerancuan pertama adalah kayu, kayu yang terbakar api pasti akan menjadi abu atau dengan katalain abu adalah wujud persatuan dari api dan kayu. Disini makna pertama yang saya dapat adalah cinta mereka bersatu, namun penulis ingin keluar dari kebiasaan yang ada seperti kalimat bunga dan lebah menghasilkan madu, ini sangat pasaran dan mainstream sekali. Kerancuan kedua adalah kayu yang terbakar pasti menjadi abu, secara ilmiah abu adalah hasil akhir dari penghancuran kayu yang terbakar. Kenapa saya bilang rancu karena makna kayu yang saya dapat adalah proses tahapan penulis memupuk cintanya, jika prosesnya menjadi abu karena terbakar api usahanya, sudah dipastikan di sini penulis sudah gagal mengejar cintanya dan hilang seutuhnya menjadi abu seutuhnya.

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Masuk ke bait kedua adanya perubahan dari ucapan lisan yang ingin diucapkan berubah menjadi bahasa tubuh atau isyarat. Tersirat dari bait pertama “Dengan kata yang tak sempat diucapkan” dan bait kedua yang menjadi berubah menjadi isyarat. Ini menunjukan penulis sebanrnya orang yang pemalu, bisa saja dia pemberani, tapi nyali menciut ketika harus berbicara langsung dengan sang wanita pujaannya dan bertatapan pula. Jadi di kalimat ini saya menanggapi bahwa penulis sudah tidak sabar mengatakan keinginannya tapi apa daya nyalinya tidak semembara keinginannya.

Kalimat terakhir “Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Ini juga kalimat yang menjadi fokus utama, karena agak membuat para pembaca kebingungan. Mungkin kebingungannya datang dari kenapa tiba-tiba saja penulis menyebutkan kata Awan kepada Hujan menjadikannya tiada. Sama membingungkannya dengan kata “Kayu kepada api yang menjadikanya abu.” Dan kalimat ini sebetulnya membutuhkan kata kunci (menurut saya), lalu dimana kata kuncinya?. Kata kuncinya adalah “Kayu kepada api yang menjadikanya abu.” tapi kembali lagi, ini tergantung penafsiran masing-masing pembaca sebenarnya.
Hanya saja disini saya coba jabarkan kenapa membutuhkan kata kunci.  “Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.” pertanyaannya apa yang sudah tiada? cintanya? hasratnya? atau kesederhanaannya?
Bagi saya yang sudah tiada adalah cintanya yang semakin hilang setelah semua usahanya menjadi “abu”. Hujan yang dimaksud mungkin bisa saja menjelaskan airmata si penulis yang sudah tidak bisa terbendung, dan awan yang dimaksud bukan awan yang cerah dan terang. Awan yang dimaksud adalah awan mendung, ya mendung, kata yang biasa dipakai pembuat puisi untuk mewakili kegundahan, kesedihan, keterpurukan, dan segala kemalangan. Secara penafsiran lengkap sang penulis mau menjelaskan kemurungan dan kesedihannya setelah semua usaha yang dia bangun dalam memupuk cintanya gagal dan menjadi abu. Secara jelas penulis mengakui tangisannya, dan bisa saja ini tangisan kesedihannya atau ini airmata terakhirnya untuk menangisi kisah ini, karena dari kata Hujan yang menjadikannya tiada, bisa saja penulis berusaha menghilangkan kenangan ini dengan melunturkan bersama airmatanya.

Mungkin inti yang saya dapat kurang lebih begini, mungkin saja si penulis orang yang memang kesehariannya sederhana terlihat dari perkataannya. Tapi makna terjelas yang saya tanggap adalah penulis ingin menceritakan kesedihannya terhadap semua usaha yang  dilakukannya dan sayang sekali nyalinya menciut ketika cintanya yang matang sudah harus dipetik tapi keberanian tidak ada. Bahkan dengan bahasa isyarat pun dia tidak bisa menyampaikannya. Kini sudah terlanjur, cintanya hangus bahkan menjadi abu dan luntur hilang bersama hujan airmatanya.

Sekarang kembali lagi kepada penafsiran sang pembaca masing masing.

[divider]

Mohon maaf apabila ada salah kata dan penafsiran, disini saya mencoba menafsirkan secara ilmiah dan logis saja. tidak menggunakan teknik apa-apa, saya hanya amatiran saja dan ini pun Puisi yang pertama kali saya bedah, jadi harap maklum. Segala saran dan kritik sangat saya butuhkan untuk membangun kecintaan saya terhada sastra, silakan langsung saja dikirim ke tiwtter saya @DaddyKlimis atau e-mail saya di Daddy.Klimis@gmail.com. Saran dari teman-teman sangat membantu.

Dan untuk bapak  Sapardi Djoko Damono, segera lekas sembuh, bunyikan kembali genderang sajakmu, angkat kembali senjata tertajammu Sang Pena, jangan lupa angkat tameng Perkamenmu, Langgam peperangan sajak masih berkobar, pesta pora bandit prosa belum berakhir, dan tak akan ada akhir.

Terima Kasih.

 

(sumber biografi dan gambar http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2710/Sapardi-Djoko-Damono , logo berbagai puisi dari tombol home web ini, selebihnya buatan saya sendiri)

SHARE
Previous articleMenulismu di Tubuh Angin
Next articleHey Nona
Hanya seorang Perompak Puitis yang bermusik dijalur Punk bergaya Klimis dan pengguna setia Sepeda Lowrider dan pecinta Singlet ingin bakar dan meludahi saya? Sebentar saya sisiran dulu hubungi saya di https://twitter.com/DaddyKlimis @DaddyKlimis *sisiran lagi*

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY