Jari jemari perlahan memilin satu sama lain, teringat dulu ketika patah hampir tiada gembira mengiringi tulisan kata-kata. Seperti pisau belati mengiris kulit dan mata pun menangis. Pelan kamu peluk aku dan semua ucapanmu mengeringkan air di mata, langkah kembali ringan seringan kapas.
 
Kamu pun tersenyum melepas aku yang kembali terbang kesana kemari tanpa sadar, aku benar-benar lepas melupakan peluk hangat yang menempel di kulit membuang jauh sorot mata penuh sayang.  Benar katamu "elang terbang sendirian" dan aku makin jauh.
 
Tiba-tiba ada ruang kosong menggelayut, terdengar kicau menyuarakan namamu yang sedang teronggok sakit di belahan sana.
 
Berjuang, entah ditemani siapa tapi aku yakin matamu masih segarang Elang, semangatmu masih setegar tembok cina, asamu masih seluas samudera hindia
 
"Ayah, aku menantikan kembali senyummu senyum yang senantiasa membakar malas dan kesedihan"

Depok, 2010 Untuk Ayah, Prof. Loektamadji

Share this
3
Average: 3 (2 votes)