PINK BOLD of MEMORY part 2 – Mr. Adt

PINK BOLD of MEMORY part 2 – Mr. Adt

436
0
SHARE
BG-Rental-Kika-Web

Sore hari yang sangat malas, aku terkenang kejadian di malam takbiran idul adha 1432 H. Benar-benar berantakan kehidupanku setelah kejadian malam itu. Aku tentu akan sangat ingat, laki-laki yang tidak berperasaan itu, yang saat itu sangat aku sayangi.

Hubungan kami yang berjauhan membuat kami hanya bisa berkomunikasi lewat telfon. Seperti pada siang itu, “Hallo..kamu kenapa kok hari ini kayaknya g mood?” tanya ku.

“Nggak pa pa…kamu g kuliah?”

“Enggak..hari ini libur, kamu kok lupa?” tanya ku lagi. Lalu kami mengobrol seperti biasa, tepatnya sudah hampir sebulan dia berubah menjadi sosok yang menurutku semakin romantis, kecuali hari itu yang tiba-tiba dia mematikan sambungan telfon kami. Waktu itu karna ku fikir sedang ada gangguan sinyal aku menelfon balik.

“hallo..” terdengar suara diseberang.

“Kenapa dimatikan telefonnya, kan aku belum selesai bicara !” tanya ku sambil pura-pura merajuk.

“Sebentar ya Rhe, aku mau ke rumah kerabatku yang disini, nanti malam aku telfon lagi” kemudian dia tutup telfonnya tanpa menunggu jawabanku. Aku termenung sejenak, ternyata kali ini dugaan ku tentang sinyal salah, dan benar tentang kepura-puraan ku merajuk karna menuduhnya sengaja menutup telfonnya tiba-tiba.

Jika saat itu aku sudah pernah mengalami patah hati, mungkin aku sudah melihat tanda tandanya sejak kejadian siang itu. Tapi kenyataanya aku belum pernah patah hati. R adalah laki-laki cinta pertamaku. Hubungan kami sudah sejak kelas 2 SMA, dan sudah 2 tahun lebih sampai kejadian siang itu. Karna aku belum pernah patah hati, siang itu aku tak banyak berfikir macam-macam, tidak ada kecurigaan sedikitpun, dan mulai menunggu sampai malam yang dijanjikannya tiba.

Malam itu hujan turun deras sekali, hanya terdengar sayup-sayup kumandang takbir dari anak-anak santri di masjid. Kemudian tepat saat hujan mulai turun, tidak lama handphone ku berdering. Aku tersenyum bahagia karna dia menepati janjinya. Membuatku semakin menyayanginya.

“Hallo…”kata ku menyapa, nyaring sekali, mungkin kebahagianku terdengar dengan baik dari seberang. Agak lama ku tunggu baru kemudian ada tanggapan dari seberang.

“Lagi apa Rhe?” tanyanya dingin. Aku agak kecewa dengan tanggapannya, tapi segera kusingkirkan.

“Lagi ini, nungguin kamu tadi..” jawabku sambil senyum-senyum. “Oh yaa..disini lagi hujan deras…” sambungku lagi mencoba mencairkan suasana yang menurut ku agak aneh, karna dia tiba-tiba jadi tidak banyak bicara. Dia bahkan tidak menanggapi ujaran ku soal hujan. Lalu aku jadi ikut terdiam, sampai kemudian dia mengatakan sesuatu yang ku anggap menyakitkan sampai saat ini.

“Rhe..aku mau bilang sesuatu sama kamu”

“iya..apa R? kamu hari ini aneh, kalau memang ada masalah trus kamu pengen cerita, ya udah cerita aja” jawab ku masih sangat kePeDean.

Dia terdiam lagi. “Rhe…aku mau kita mulai sekarang jadi teman saja” kemudian kami sama-sama terdiam. Aku menjadi orang yang paling tidak percaya dia mengatakan seperti itu. Butuh waktu beberapa menit, untuk mencerna kembali perkataannya dan mencoba percaya bahwa dia memang telah mengatakannya. Sambil terbata-bata menahan air mata yang sudah tidak terbendung lagi, aku mencoba untuk berbicara.

“Kenapa?” hanya pertanyaan itu yang kemudian keluar dari mulut ku. Tapi dia terdiam tidak memberikan jawaban.

“Apa aku melakukan kesalahan R?” tanyaku lagi.

“Enggak” jawabnya singkat dan pelan.

“Apa kamu sudah bosan menjalani hubungan yang saling berjahuhan begini R?” tanyaku lagi mencoba mencari alasannya.

“Enggak” jawabnya masih singkat dan pelan.

“Apa perasaanmu sudah berubah pada ku, sudah tidak mencintai ku lagi, sudah tidak menyayangiku lagi dan sudah tidak ingin bersama ku lagi?” tanyaku lagi dan semakin terbawa emosi sampai air mataku akhirnya tumpah.

“Enggak Rhea..” jawabnya mencoba meyakinkan bahwa bukan itu alasannya.

“Apa kamu menyukai orang lain, apa sudah ada wanita lain R?” tanyaku lagi sekenanya yang aku sangat mengharapkan bukan karna hal itu, karna aku fikir itu pasti akan sangat menyakitkan.

Dia agak lama terdiam dan kemudian menjawab “Enggak…” Saat itu perasaan ku yang sedikit lega mendengar jawabanya, dan hanya beberapa detik aku dikagetkan saat ada suara seorang wanita dari seberang yang kemudian menyambar pembicaraan kami.

“Oh..enggak yaa R, enggak yaa, trus kita selama ini apa?” kata wanita itu yang aku masih tidak tau itu siapa.

Kemudian terdengar lagi suara R “Enggak Lin..sudah kamu diam dulu sebentar, biar aku yang bicara” dengan suara yang agak gugup.

“Dia siapa?” tanya ku dengan nada marah kemudian setelah menyadari ternyata dia melakukan panggilan konferensi dengan wanita lain, yang artinya sejak percakapan dari awal wanita itu sudah mendengarnya.

“Velin..” jawabnya singkat, membuat hatiku semakin terasa sakit, dan seketika muncul banyak pertanyaan tentang bagaimana bisa, kenapa bisa terjadi, dan kenapa Velin. Wanita itu aku sudah tau, dia adalah mantan pacar R. Aku merasa saat itu dia sedang balas dendam karna dia menganggap aku merebut R darinya.

Aku bahkan tidak menduga dia akan melakukannya sampai seperti ini. Sejak aku tau kalau R ternyata masih memiliki hubungan dengan Velin, aku sudah memutuskan R setelah sebulan kami pacaran. Aku merasa apa yang ku lakukan tidak benar apabila menjalin hubungan dengan orang yang ternyata sudah memiliki hubungan. Tapi saat itu R menjelaskan pada ku kalau hubungannya dengan Velin sudah berakhir. R sudah memutuskannya, dan dia sudah memilih ku. Sampai aku mencoba berfikir kembali dan akhirnya menerima kembali R, menganggap bahwa semuanya tentang dia dan Velin sudah berakhir, dan memang begitu kenyataannya.

Aku tidak tau apa yang dilakukan R saat memutuskan hubungannya dengan Velin sampai Velin masih menganggap aku adalah orang yang dengan sengaja menempatkan diri menjadi orang ke-3 dalam hubungan mereka, dan kemudian merusak hubungan mereka lalu mengambil R darinya. Sungguh sangat salah jika ternyata Velin benar menganggapku seperti itu. Aku menyukai R sudah sejak setahun sebelum akhirnya dia mengajakku berkenalan dan menjalin sebuah hubungan seperti pacaran. Aku menyukai R dengan menunggunya sampai dia menyukai ku, bukan dengan sengaja membuat dia menyukaiku.

R bahkan tidak tau kalau sudah setahun ada seseorang yang setiap hari memperhatikannya, yang di jam-jam tertentu menunggunya lewat di depan rumahnya, yang dengan sengaja berangkat ke sekolah lebih siang hanya biar bisa bersimpangan dengannya. R tidak tau semua itu, jika memang apa yang dianggap Velin benar, aku tidak perlu buang-buang waktu setahun hanya untuk diam dan menunggu laki-laki seperti R untuk datang dengan sendirinya kepadaku. Jika apa yang dianggap Velin benar, aku pasti sudah melakukan banyak cara untuk menarik perhatian R, membuat dia datang dan terpikat kepadaku, dan tanpa butuh waktu setahun aku sudah akan bersama R.

Tapi Velin lupa kalau aku bahkan tidak melakukan itu semua, Velin lupa saat R memutuskan hubungan dengannya itu benar-benar karna perasaan R sudah berubah, bahkan sejak sebelum mengenal aku. Tapi Aku dan Velin bukan dua orang teman yang sebelumnya saling mengenal, sangat sulit bagi kami untuk saling menjelaskan bagaimana yang sebenarnya, apalagi Velin menurutku sangat ingin memiliki R. Dan saat ini, aku benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata ketika tau Velin melakukan semuanya.

“Aku sekarang sudah kembali sama Velin, aku ingin kita berteman saja mulai sekarang” kata R membuyarkan lamunanku.

“Sejak kapan?” aku tiba-tiba menanyakan itu, entah kenapa tapi menurutku aku perlu tau sejak kapan mereka sudah bermain dibelakang ku.

“Sudah sebulan” jawabnya singkat, dan membuatku semakin tambah sakit dan kali ini aku benar-benar menangis.

“Kamu jahat R, jangan hubungi aku lagi!” kemudian ku tutup telfonnya, dan aku menangis sejadi-jadinya. Hujan semakin deras seperti mengerti hancur leburnya hati ku saat itu. Bagaimana bisa sudah sebulan dia melakukan ini padaku, yang bahkan selama sebulan juga aku menganggap sikapnya berubah menjadi lebih romantis kepadaku, sungguh hati ku sakit sekali. Apa ini yang disebut tipu daya? Kenapa dia tega sekali.

Seperti sore ini, aku kembali menangis sedih saat teringat kejadian malam itu. Sudah berlalu 7 bulan tapi aku tetap tidak punya selera untuk menjalani hidup. Berakhirnya hubungan ku dengan R, benar-benar berpengaruh dalam kehidupanku, peranggai ku yang menjadi pendiam, suka menyediri, sampai kadang dalam hati aku mengutuk R atas semua yang dia lakukan padaku, mengatakan dan berharap suatu saat dia akan menemui karmanya. Tapi semua itu sia-sia, tetap tidak dapat mengobati hati ku, justru membuatku semakin terpuruk.

Sampai pada akhirnya satu hal yang membuatku sedikit tersadar. Nilai IPK ku turun drastis di penghujung tahun pertamaku kuliah. Jika di semester pertama IPK ku tergolong memuaskan dan sangat membantuku untuk akhirnya mendapatkan beasiswa, di akhir semester yang kedua ini justru sebaliknya. IPK ku yang terjun bebas membuat beasiswa yang kudapatkan terancam dicabut.

Sampai sekarang, beasiswa menjadi incaran mahasiswa seperti ku dan Helen, beasiswa ini bukan soal tidak mampu membayar administrasi kampus setiap semesternya, tapi ini adalah soal penghargaan dari pemerintah untuk mahasiswa yang nilainya dianggap memenuhi standart penerimaan beasiswa. Nilai beasiswa yang diberikan cukup fantastis, tidak hanya cukup untuk membayar uang semesteran, bahkan untuk membeli barang yang diinginkan seperti Handphone terupdate saat itu atau untuk memenuhi kebuuhan sehari-hari anak kost juga tergolong cukup. Tentu sangat menyenangkan jika kita mendapatkan sesuatu tanpa harus merepotkan orangtua. Dan aku adalah yang salah satunya memutuskan untuk jangan sampai kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa disemester berikutnya.

Seminggu setelah yudisium, aku segera menemui Pembimbing Akademik ku untuk meminta saran dan masukan tentang matakuliah yang akan aku jalani disemester berikutnya. Aku masih Pe De mengajukan 24 SKS di semester berikutnya dengan IPK yang sangat menyedihkan. Sampai di dalam ruangan, sebenarnya aku sendiri tidak yakin apakah akan dikabulkan. Motivasi dari teman-temanku mengatakan bahwa pasti masih boleh membuatku membulatkan tekad untuk tetap mengambil 24 SKS.

“Rheanti Az Zahra” panggil Pak Arif dosen Pembibing Akademik ku membuat ku terhentak dan dengan segera memasuki ruangan itu.

“Silahkan duduk” kata Pak Arif

“Baik pak, terimakasih” jawabku sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan bapak setengah baya ini didepan ku.

“Kamu mau mengambil 24 SKS di semester depan, dengan IPK seperti ini, kamu yakin Rhea?” tanyanya sambil melihat KRS pengajuan ku. AKu bingung bagaimana harus menjawab dan akhirnya aku hanya tersenyum.

“Kalau boleh saya tau, tujuan kamu apa?” tanya Pak Arif lagi dan pertanyaan itu sontak membuatku semakin bingung.

“Emm..maaf, tujuan saya?” tanyaku terbata-bata. Pak Arif sepertinya paham dengan kebingungan mahasiswa didepanya ini.

“Kamu mau lulus cepet ya? tanya Pak Arif.

“I..iya pak” jawab ku ragu-ragu.

“Kalau kamu pengen lulus cepet, kamu sudah benar mengambil 24 SKS ini, tapi IPK kamu ya jangan segini dong Rhe..” kata Pak Aris mulai menegaskan. Pembimbing Akademik ku yang satu ini terkenal perhitungan dalam mengabulkan permintaan mahasiswanya. Kata-katanya cukup menohok ku, dan membuat aku terdiam.

“Akan sangat memalukan kalau kamu lulus cepat tapi IPK kamu menyedihkan, dan itu bukan tipe mahasiswa bimbingan saya. Kamu tau kan gelar saya dikampus ini cukup diperhitungkan untuk mengajar mahasiswa pasca sarjana? Kalau pun kamu mau dan tidak merasa malu lulus cepat dengan IPK jelek seperti ini, itu terserah kamu, tapi terang saja saya akan sangat malu punya mahasiswa yang dibawah bimbingan saya yang seperti itu” kata Pak Arif menjelaskan cukup panjang lebar dan membuat saya sedikit ciut.

“Yaa..pak” hanya jawaban seperti itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Jadi, apa keputusan kamu sekarang?” tanya Pak Arif. Hal seperti ini yang membuatku sedikit sebal dengan bapak ini, menurutku beliaulah yang seharusnya memberikan keputusan untuk ku, tapi setelah aku sadari lagi mungkin beliau ingin aku membuat keputusan yang tepat sebelum melangkah lebih jauh. Pak Arif masih menunggu jawabanku.

“Baik pak, saya mengambil sesuai paket saja, 20 SKS di semester depan” jawabku.

Pak Arif mengangguk-angguk sepertinya keputusanku tepat sesuai dengan keinginannya. “Jadi artinya hanya 10 matakuliah yang akan kamu ikuti disemester depan, artinya kamu akan tertinggal 2 matakuliah dari teman-teman mu yang lain” kata Pak Arif.

“Yaa pak” jawabku singkat.

“Jadi matakuliah apa yang ingin kamu coret dari daftar ini?”tanya Pak Arif lagi, aku berfikir sejenak sebelum memutuskan. Aku fikir kali ini aku harus hati-hati.

“Ini pak, sama ini” jawabku sambil menunjuk KRS pengajuanku. Kemudian pulpen Pak Arif segera menari membuat garis lurus sepanjang kolom mata kuliah yang aku tunjuk, dan saat itu juga aku mengutuk R, menjadikan dia sebagai pihak yang bersalah atas semua yang sudah terjadi.

“Yaa…saya kira sudah cukup bimbingan kali ini” kata Pak Arif sambil memberikan kepadaku lagi KRS ku yang sudah di periksa dan disahkan.

“Baik pak, terimakasih” jawabku sambil menerima berkas pengajuanku.

“Rhea, lulus cepat bukan jaminan kalau nilai mu tidak maksimal. Soal waktu santai saja, ini masih tahun pertama, masih bisa diperbaiki, asal kamu bisa memaksimalkan 10 mata kuliah ini di semester depan. Artinya begini Rhea, yang jadi target kamu sekarang adalah bagaimana caranya memperbaiki IPK kamu dulu baru kemudian memikirkan strategi bagaimana agar bisa lulus sebelum waktunya. Saya melihat masih ada kemungkinan kalau kamu mau menuruti saran saya” pungkas Pak Arif mengakhiri pembicaraan kami.

“Yaa pak..terimkasih pak” jawabku penuh semangat. Entah kenapa kata-kata Pak Arif yang terakhir menyulut semangatku untuk mengejar ketertinggalanku. Setelah itu aku pamit permisi dan melanjutkan proses berikutnya.

Sejak kejadian itu, logika ku memaksa hati dan perasaanku untuk mengikutinya. Hari-hari ku lebih banyak dihabiskan untuk belajar, aku tidak ingin R menghancurkan masa depan ku juga. Hanya beberapa waktu saja seperti sore ini aku teringat dan menangis lagi karna R, tapi aku tetap berusaha untuk mengontrol meskipun berat sekali.

Dreett… Drertt… Handphone ku begetar, sepertinya ada SMS masuk, segera kuraih dan ku buka pesan itu.

“Rhea.. :)”

Nomornya tidak ku kenali. Suasana hati ku sedang sensitif, kurasa aku tidak ingin membalasnya. Aku melamun lagi memikirkan kenapa bahkan sampai 7 bulan aku belum bisa pergi dan melupakan R. Apalagi semalam apa pula maksud dia mengirimi ku SMS salah kirim.

“Dijemput dimana mah?”

Kemudian masuk SMS berikutnya “Maaf salah kirim, Rhe..”

Hah…aku sempat berfikir R sengaja. Dan “mah?” jadi itu panggilan sayang R kepada Velin?. Hati ku seperti tertusuk lagi. Dia benar-benar membuatku ingin membencinya.

Dreett…Dreett…Handphone ku begetar lagi, sepertinya ada SMS masuk, segera kuraih dan ku buka pesan itu.

“Rhea..aku Adt, kok tidak dibalas?”

Nomor yang sama dengan sebelumnya, Adt? Siapa Adt? aku merasa tidak pernah mengenal Adt. Entah kenapa tiba-tiba rasa penasaranku muncul, tapi aku tetap tidak membalas SMS itu. Aku berusaha mengingat siapa Adt, dimana aku mengenalnya, dan kapan kami mulai mengenal. Lama sekali aku mencoba mengingatnya tapi aku benar-benar tidak ingat siapa Adt. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk segera tidur.

Dreett…Dreett…Handphone ku begetar lagi tepat saat aku ingin memejamkan mataku, sepertinya ada SMS masuk, segera kuraih dan ku buka pesan itu.

“Rhea..kamu lupa ya sama aku? Aku Adt Rhe..dulu pas kamu masih SMA kita sering SMS-an.”

Membacanya ada kenginginan untuk membalasnya. Ragu-ragu ku ketik balasan SMS untuk orang itu?

“Adt?”

Setelah kukirimkan balasan ku, aku tidak perlu menunggu balasan untuk waktu yang lama. Adt segera membalas pesan ku.

“Iya Rhee..ah kamu sepertinya benar-benar lupa padaku, jahat sekali kamu melupakan ku begitu saja”

Aku termenung lama sekali, sampai aku tertidur dan tidak membalas SMS seseorang yang bernama Adt.

SHARE
Previous articleAku Dan Ketidakberdayaanku
Next articleUjung Panah yang Tersesat
-Seperti air yang mengalir, tidak pernah kering, walau alirannya tidak deras- aLL is WeLL

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY